Tafsir Surat al-Zalzalah dalam al-Tafsir al-Bayani li al-Qur’an al-Karim Karya ‘Aisyah Abdurrahman (Binti Syathi’)

Home » Tafsir Surat al-Zalzalah dalam al-Tafsir al-Bayani li al-Qur’an al-Karim Karya ‘Aisyah Abdurrahman (Binti Syathi’)

إِذَا زُلۡزِلَتِ ٱلۡأَرۡضُ زِلۡزَالَهَا ١  وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا ٢  وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا لَهَا ٣  يَوۡمَئِذٖ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا ٤ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا ٥  يَوۡمَئِذٖ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ أَشۡتَاتٗا لِّيُرَوۡاْ أَعۡمَٰلَهُمۡ ٦ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ ٧  وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ ٨

Artinya:

  1. Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat).
  2. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
  3. Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”
  4. Pada hari itu bumi menceritakan beritanya
  5. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.
  6. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka
  7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
  8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”.

Pengantar

Dalam al-Zalzalah di atas terdapat kecenderungan pengulangan ayat. Padahal pengulangan biasanya hanya dalam surah yang panjang. Jika pengulangan terdapat pada keadaan-keadaan singkat, maka itu menunjukkan perhatian dan pengaruh secara psikis.

Menurut  Binti Syathi’, pengulangan-pengulangan tersebut merupakan fenomena uslub (gaya bahasa) di dalam al-Qur’an yang digunakan untuk pemantapan, penetapan dan penegasan

Lafaz-lafaz yang dipilih untuk keadaan  Hari Kiamat sangat berpengaruh dan kuat kesannya; baik karena kekerasannya seperti al-Zalzalah (guncangannya, benturannya, getarannya, kedahsyatannya, kebesaran peristiwanya, cerai-berainya, dan lain-lain.); maupun karena kehalusannya seperti sebutir dzarrah, debu yang berterbangan, bulu yang berhamburan, fatamorgana, asap, dan lain-lain.

Itulah sebabnya mengapa al-Qur’an terus-menerus menyerukan agar manusia “mengirimkan sesuatu untuk masa mendatang” (QS. al-Hasyr (59): 18), karena apapun juga yang menimpa manusia adalah hasil perbuatannya yang terdahulu (di dunia saat ini)

Adapun segala sesuatu yang berhubungan dengan alam akhirat secara eksklusif dapat kita lihat pada QS. al-Baqarah (2): 95, QS. al-Jum’ah (62): 7, QS. an-Naba’ (78): 40, dan lain-lainnya. Sesungguhnya esensi “akhirat” adalah akhir kehidupan atau akibat jangka panjang dari amal perbuatan manusia di atas dunia ini.

Sebaliknya “al-dunya” (tujuan-tujuan yang bersifat langsung) bukanlah dunia ini, tetapi nilai-nilai yang rendah atau keinginan-keinginan rendah yang tampaknya sedemikian menggoda sehingga senantiasa dikejar oleh hampir semua manusia dengan mengorbankan tujuan-tujuan yang lebih mulia dan berjangka panjang.

Gambaran tentang kebahagiaan dan penderitaan manusia di akhirat itu tidak hanya bersifat spiritual. Jadi al-Qur’an tidak membenarkan surga dan neraka yang sama sekali bersifat “spiritual”. Dengan demikian yang menjadi subyek kebahagiaan dan siksaan adalah manusia sebagai pribadi.

Jika al-Qur’an berulang kali dengan gaya yang sangat indah dan dengan sedemikian tandasnya berbicara mengenai kebahagiaan dan penderitaan fisik di akhirat nanti, maka yang dimaksudkannya bukanlah kiasan-kiasan semata.

Gambaran-gambaran yang sangat jelas mengenai api neraka yang menyala-nyala dan taman surga yang indah dimaksudkan untuk menerangkan efek-efek ini sebagai perasaan-perasaan fisik-spiritual yang riil dan yang berbeda dari efek-efek psikologis yang ditimbulkan oleh keterangan-keterangan tersebut.

Tafsir Surat alZalzalah Ayat 1-5

إِذَا زُلۡزِلَتِ ٱلۡأَرۡضُ زِلۡزَالَهَا ١  وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا ٢  وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا لَهَا ٣  يَوۡمَئِذٖ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا ٤ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا ٥

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”. Pada hari itu bumi menceritakan beritanya (QS. al-Zalzalah : 1-5)

Al-Zalzalah menurut bahasa berarti “gerakan yang keras dan guncangan yang dahsyat”. Kata ini digunakan pada hal-hal yang dapat dindera. Seperti kata-kata zalzala al-ibila (jika dia menuntun unta dengan keras, maka guncanglah jalannya), tazalzalat al- ardhu (jika bumi berguncang dan bergetar). Kemudian ia digunakan dalam hal-hal yang keras dan menakutkan.

Menurut Binti Syathi, kata al-zilzal (keguncangan) digabungkan dengan kata al-ardh (bumi) sejalan dengan spontanitas yang tampak pada ayat sesudahnya, yaitu pengeluaran bumi akan beban-beban dan pembicaraan-pembicaraan tentangnya.

Selanjutnya, dengan diaktifkannya kalimat zulzilat al-ardhu (bumi diguncangkan) dan kuatnya efektivitas yang diperoleh secara langsung dari ikhraj (pengeluaran), tahaddus (skenario kejadian) dan al-zalzalah (guncangan) kepada bumi, maka tidak ada alasan bagi perkiraan perantaraan para malaikat untuk menyampaikan “wahyu” kepada bumi yang berguncang dengan guncangannya yang hebat; mengeluarkan kandungannya dan menceritakan berita-beritanya.

Tafsir Surat alZalzalah Ayat 6

يَوۡمَئِذٖ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ أَشۡتَاتٗا لِّيُرَوۡاْ أَعۡمَٰلَهُمۡ ٦

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. (QS. al-Zalzalah : 6)

Kata yaumaidzin (pada hari itu) diulang-ulang untuk menghubungkan urutan-urutan keadaan, serta mengembalikan perhatian pendengar kepada ayat-ayat sebelumnya, serta mengulangi peringatan-peringatan yang telah mantap di benaknya.

Mayoritas mufasir berpendapat bahwa yashduru al-nas (manusia keluar dari kuburnya) di sini bermakna mereka keluar dari kuburan atau mereka berpaling dari keadaan hisab. Menurut Binti Syathi, penafsiran yashduru (mengeluarkan) dengan “keluar” atau “berpaling” kehilangan inspirasi kata di dalam rasa bahasa Arab, yang menggunakan kata al-shadr (keluar) lawan dari al-wird (kembali).

Lafaz asytaat (bercerai-berai) adalah jamak dari syatt. asytat dan syatt tersebut di dalam bahasa adalah cerai-berai dan perselisihan. Materi tersebut terdapat pada lima tempat dalam al-Qur’an, tiga di antaranya dengan bentuk syattaa: (QS. Thaha (20): 53). (QS. al-Lail (92): 4), dan (QS. al-Hasyr (59):14) dua kali dalam bentuk asytat (QS. an-Nur 24: 61 ).

Tafsir Surat alZalzalah Ayat 7-8

فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ ٧  وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ ٨

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. al-Zalzalah : 7-8)

Adapun mitsqaal adalah sesuatu yang ditimbang. Ia termuat di dalam al-Qur’an delapan kali; dua kali di antaranya digandengkan dengan habbah min khaldal (biji sawi). (QS. al-Anbiya’ (21): 47). Dan (QS. Luqman (31): 16). Konteks dan struktur dua ayat itu menegaskan bahwa yang dimaksud dengan mitsqal di sini bukanlah ringannya timbangan, tetapi kecilnya ukuran. Sedangkan enam kali lainnya mitsqal disambung dengan dzarrah (QS. Yunus (10): 61, QS. al-Saba (34): 3; 22. QS. al-Nisa’ (4): 40), dan dua ayat dalam al-Zalzalah.

Jelaslah bahwa yang dimaksud dengan dzarrah di dalam kedua ayat tersebut adalah ringannya timbangan. Meskipun banyak mufasir yang berusaha menentukan bahwa kadar dzarrah adalah seperseratus berat biji gandum atau ia adalah atom yang rahasianya baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan pada abad kedua puluh ini, namun Bint al-Syathi membantahnya dengan berpendapat bahwa Bahasa Arab memberi makna “dzarr” pada segala sesuatu yang menerangkan kelemahan, kekecilan dan keringanan timbangan.

Selanjutnya, Bint Syathi melihat bahwa dengan keadaan dan susunan konteks dari guncangan, ledakan, pecahan dan benturan. Maka mereka mengeluarkan beban-beban dan pergi secara terpisah-pisah dan tercerai-berai menampakkan amal yang baik ataupun yang buruk meskipun sebesar biji sawi.

Demikianlah, semua amal manusia, baik kecil maupun besar kelak akan diperlihatkan kepada pelakunya dengan adanya perhitungan dan pembalasan, dengan keadilan, kemuliaan, dan kemurahan-Nya. Allah swt memberi ampun kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa saja yang Dia kehendaki, dan sesungguhnya Allah swt mampu melakukan apa saja yang Dia kehendaki.

Sumber:

‘Aisyah Abdurrahman, al-Tafsir al-Bayan li al-Qur’an al-Karim, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1990)
Fazlur Rahman, Tema-tema Pokok al-Qur’an (terj.) , (Bandung: Pustaka, 1996)
https://saifulelsaba.wordpress.com/2008/10/28/kajian-2/ , (diakses pada tanggal 18 Desember 2019)
Software Qur’an in Ms. Word v. 2.2

Gambar oleh Nareshkumar shaganti dari Pixabay