Shalat Sunnah (yang) Diwajibkan Berjamaah (Macam-Macam dan Tatacara Pelaksanaannya)

Home » Shalat Sunnah (yang) Diwajibkan Berjamaah (Macam-Macam dan Tatacara Pelaksanaannya)

Shalat sebagai tiang agama, tentunya sudah menjadi pegangan bagi diri kita sebagai orang Islam (muslim). Ibadah shalat yang menjadi salah satu ciri orang bertakwa, tentunya harus kita pelajari secara baik, benar dan syukur bisa detail.

Hal ini tidak lain dengan ibadah shalat yang benar dan baik mulai bacaan, gerakan, ditambah lagi persiapan sebelum shalat bisa menjadi salah satu cermin siapa diri kita sebenarnya.

Nah, dalam kesempatan ini kita akan membahas tentang shalat sunnah. Shalat sunnah ini meskipun tidak wajib, akan tetapi mempunyai peran penting bagi kehidupan kita baik itu di dunia ataupun di akhirat kelak. Yaitu sebagai upaya meningkatkan takwa dan menggapai ridha Allah, juga sebagai bekal kelak manakala ibadah wajib kita dianggap belum sempurna di hadapan-Nya

A. Pengertian Shalat Sunnah

Shalat sunnah ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai shalat yang tidak wajib dikerjakan, tetapi mendapatkan pahala jika dilakukan. Artinya, jika seseorang mau menjalankan shalat sunnah tersebut, maka akan mendapatkan pahala dari Allah swt.. Namun, jika orang tersebut meninggalkannya, maka tidak akan mendapatkan dosa.

Dalam menjalankan shalat sunnah ini nabi Muhammad saw. memberikan banyak contoh dan teladan dan penuh dengan kemuliaan. Beliau mengerjakan shalat sunnah ini sebagaimana beliau menjalankan shalat wajibnya, tidak pernah absen, dan tidak pernah terlambat.

Intinya, jika kita tidak sedang ada acara penting dan punya waktu luang, usahakan untuk menjalankan ibadah shalat sunnah tersebut.

B. Macam-Macam Shalat Sunnah Berjamaah

Dari sekian banyak macam shalat sunnah, tentu saja dalam mengerjakannya ada yang utamanya dilakukan secara berjamaah (seperti shalat dua hari raya) dan ada juga yang bisa dikerjakan secara sendirian (munfarid).

Pada kesempatan ini, kita akan belajar mengenai apa saja shalat sunnah yang dikerjakan secara bersama-sama atau berjamaah beserta bagaimana tatacara pelaksanaannya.

Setidaknya ada lima macam, shalat sunnah yang pengerjaannya dilakukan secara bersama-ama alias berjamaah, lalu apa saja shalat sunnah berjamaah itu, mari kita simak bersama-sama:

1. Shalat Idul Fitri

Kata ‘Id’ mempunyai arti kembali. Pada hari Idul Fitri, ini kita kembali diperbolehkan untuk makan dan minum di siang hari setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan.

Shalat sunnah yang dikerjakan pada hari raya Idul Fitri inilah yang disebut shalat Idul Fitri, yang tepatnya dikerjakan pada tanggal satu bulan Syawal.

Adapun waktu menjalankan shalat Idul Fitri ini dimulai dari terbitnya matahari sampai tergelincirnya matahari. Meskipun hukum shalat Idul Fitri ini terbilang sunnah, perlu kita ketahui hukumnya adalah sunnah muakkad, artinya sunnah yang sangat dianjurkan.

Adapun tatacara pelaksanaan shalat Idul Fitri ini adalah:

  1. Niat dengan hati yang tulus dan ikhlas. Niat dari shalat Idul Fitri ini jika dilafalkan berbunyi :

اُصَلِّ سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّهِ تَعَالى

           Ushallii sunnatal li’iidul fithri rak’ataini lillaahi ta’aalaa

Saya berniat shalat Idul fitri dua rekaat karena Allah ta’aala

2. Imam maupun makmum ketika mau menjalankan shalat Idul Fitri diawali dengan niat dalam hati yang tulus dan ikhlas terlebih dahulu.

3. Pada rakaat pertama membaca takbir sebanyak tujuh kali setelah membaca doa iftitah,

4. Di sela-sela takbir membaca kalimat, “Subhanallah walhamdulillaah wa laailaaha illallaah wallaahu akbar” yang artinya “Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tiada Tuhan selain Allah , dan Allah Maha Besar”

5. Kemudian membaca surat al-Fatihah dan salah satu surat dalam al-Qur’an, diutamakan untuk membaca surat Qaaf atau surat al-A’laa

6. Kemudian ruku’, i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, sujud, kemudian berdiri untuk rekaat kedua

7. Pada rakaat kedua, setelah takbir bangkit dari sujud. Membaca takbir lagi sebanyak lima kali, dan di sela-sela takbir membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir seperti rekaat pertama

8. Membaca Surat al-Fatihah dan salah satu surat al-Quran, diutamakan membaca surat al-Qamar atau surat al-Ghasyiyah.

9. Kemudian ruku, i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, sujud lagi, dan kemudian duduk tahiyyat

10. Setelah salam khatib menyampaikan khutbahnya. Khutbah yang pertama diawali takbir sebanyak sembilan kali dan khutbah yang kedua diawali takbir sebanyak tujuh kali. Ada juga yang berpendapat bahwa khutbah ini dilakukan satu kali saja

Setelah selesai mengerjakan shalat Idul Fitri, umat Islam dianjurkan untuk saling bersalaman satu sama lainnya guna memaafkan kesalahan antara satu dengan yang lainnya. Baik itu kesalahan lahir maupun batin.

Ketika berjalan berangkat dan pulang pun usahakan mencari jalan yang beda jalurnya.  Selain untuk bersilaturahmi lebih banyak, juga saling meminta dan memberi maaf antara keluarga, tetangga, dan saudara muslim yang lainnya.

Serta usahakan untuk bersedekah dan mengucapkan selamat antara satu dengan yang lainnya, dengan ucapan ‘Taqabbalallaahu minnaa wa minkum’ yang artinya “semoga Allah menerima amal kami dan amalmu”

2. Shalat Idul Adha

Shalat Idul Adha ini shalat sunnah yang dilaksanakan pada Hari Raya Qurban atau tepatnya Hari Raya Idul Adha. Shalat sunnah ini tepatnya dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan sebagian umat Islam yang sedang melakukan ibadah haji di tanah suci Makkah.

Hukum menjalankan shalat sunnah Idul Adha ini sama dengan shalat sunnah Idul Fitri yaitu sunnah muakkad , sunnah yang sangat dianjurkan melakukannya.

Adapun untuk waktu, ketentuan dan tatacara pelaksanan shalat sunnah Idul Adha ini adalah sama dengan shalat sunnah Idul Fitri, yang membedakan tentu hanyalah niat dari shalat itu sendiri.

Adapun niat dari shalat Idul Adha jika dilafalkan berbunyi

اُصَلِّ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحى رَكْعَتَيْنِ لِلّهِ تَعَالى

‘Ushallii sunnatal li’iidil adhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa’

Saya berniat shalat Idul Adha dua rekaat karena Allah ta’aala

3. Shalat Kusuuf (Gerhana Matahari)

Shalat sunnah kusuuf ini adalah shalat sunnah yang dilakukan ketika terjadi peristiwa gerhana matahari. hukum melaksanakan dari shalat sunnah ini adalah juga sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan)

Adapun waktu shalat kusuuf ini dilaksanakan semenjak proses terjadinya gerhana matahari sampai matahari menjadi utuh seperti sedia kala. Jadi ketika proses gerhana matahari terjadi, para jamaah berkumpul di tempat shalat baik di masjid ataupun di lapangan.

Kemudian salah seorang jamaah bertugas menjadi seorang muadzin sebagai akan dilaksanakannya shalat kusuuf ini. Kemudian shalat ini dilaksanakan secara berjamaah dengan dipimpin oleh satu orang imam.

Adapun tatacara pelaksanaan shalat kusuuf ini agak sedikit berbeda dengan shalat-shalat sunnah yang lain. Yakni dua kali rekaat, tetapi perlu diingat, dalam satu rekaatnya terdiri dari dua kali takbiratul ihram, dua kali ruku’, dan dua kali sujud.

Lebih jelasnya, urutan atau tertibnya shalat gerhana ini adalah sebagaimana berikut :

  1. Niat, untuk menjalankan shalat sunnah kusuuf (gerhana matahari)
  2. Membaca takbiratul ihram, yaitu bertakbir seperti shalat yang biasa dilakukan
  3. Membaca doa iftitah dan ber-ta’awudz, kemudian membaca surat al-Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang sembari dikeraskan suaranya,
  4. Ruku’. Memanjangkan ruku’nya, sembari membaca tasbih sebanyak-banyaknya;
  5. Berdiri dari ruku’ (i’tidal) sembari mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamd(u)’;
  6. Setelah i’tidal, tangan bersedekap di dada, dilanjutkan dengan membaca surat al- Fatihah dan surat yang panjang. Adapun panjangnya tidak melebihi atau lebih pendek dari surat yang dibaca di rakaat pertama.
  7. Setelah itu ruku’ kembali (ruku’ yang kedua) yang panjang atau lamanya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya;
  8. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal);
  9. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’ yang telah dilakukan,
  10. Kemudian duduk di antara dua sujud
  11. Kemudian sujud kembali;
  12. Kemudian bangkit dari sujud, kemudian mengerjakan rakaat kedua seperti rakaat yang pertama, adapun bacaan dan gerakan-gerakannya bisa lebih pendek dari rakaat sebelumnya;
  13. Sebelum mengakhiri shalat duduk tasyahud terlebih dahulu
  14. Kemudian diakhiri dengan salam

Setelah salam, imam atau khatib menyampaikan khotbah yang intinya  menjelaskan gerhana matahari adalah salah satu tanda kekuasaan Allah swt. bukan terjadi karena sihir dan hal-hal mistis lainnya. Karena meskipun sebagai sumber utama, matahari adalah makhluk Tuhan yang tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan.

4. Shalat Khusuuf (Gerhana Bulan)

Shalat sunnah khusuuf adalah shalat sunnah yang dikerjakan manakala terjadi peristiwa gerhana bulan. Ketentuan dan tatacara mengerjakan shalat sunnah khusuf ini tidak jauh beda dengan shalat sunnah kusuuf (gerhana matahari).

Adapun waktu pelaksanaannya dilaksanakan ketika terjadinya proses gerhana bulan sampai bulan menjadi utuh kembali. Hukum melaksanakan shalat sunnah khusuuf ini adalah sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan)

Adapun yang membedakan shalat sunnah khusuf dan shalat sunnah kusuf ini tentu saja waktu dan niatnya. Shalat sunnah kusuuf dikerjakan di siang hari , dan shalat sunnah khusuuf dikerjakan pada malam hari

Adapun niat dari shalat sunnah khusuuf , jika dilafalkan berbunyi:

اُصَلِّ سُنَّةً  الْخُسُوْفِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا ( إِمَامًا ) لِلّهِ تَعَالى

Ushalli sunnatal khusuufi rak’ataini ma’muuman (imaaman) lillaahi ta’aala

Saya niat shalat sunnah khusuuf dua  rekaat sebagai ma’mum (atau imam) karena Allah ta’aalaa

5. Shalat Istisqa (memohon hujan)

Shalat istisqa ini adalah shalat sunnah yang dilakukan dua rakaat, shalat ini dilakukan guna memohon dan berdoa kepada Allah swt. agar diturunkan hujan. Hal seperti ini tentunya dilakukan manakala musim kemarau panjang terjadi, sehingga banyak orang yang kesulitan mendapatkan air.

Sulitnya mendapatkan air tentu saja bukan hanya karena faktor cuaca, akan tetapi bisa juga karena sikap manusia yang tidak memperdulikan lingkungan, sehingga ketika masalah air ini menjadi masalah serius, tentunya manusia akan kesulitan dalam hidup dan kesehariannya masing-masing.

Proses menjalankan istisqa’ ini juga sebagai sebuah instropeksi diri, agar manusia tidak boleh berbuat maksiat dan seenaknya sendiri merusak lingkungan seenaknya sendiri, seperti memotong pohon sembarangan, tanpa memikirkan apa yang akan diakibatkannya, dan kemudian memakai air dengan boros.

Ketentuan Shalat Istisqa

Sebelum menjalankan shalat Istisqa, ada beberapa hal yang harus dilakukan terlebih dahulu oleh jamaah atau masyarakat setempat. Pertama, ulama atau pemimpin setempat memerintahkan masyarakat setempat untuk menjalankan ibadah puasa terlebih dahulu sebanyak tiga hari.

Kedua, masyarakat setempat memperbanyak amal shalehnya (seperti sedekah, zakat, dan lain-lainnya) disertai bertaubat atas dosa-dosa yang telah dilakukannya, dan saling memaafkan dan berdamai antar warga yang satu dengan yang lainnya, sehingga terhindarkan dari kedzaliman.

Ketiga, pada hari keempat, semua warga keluar dan berkumpul di tanah lapang (tempat shalat) beserta membawa hewan ternak yang dimilikinya. Dalam hal ini, warga hendaknya tidak berhias tidak memakai wewangian, dan  memakai pakaian yang sederhana, serta  memperbanyak bacaan istighfarnya..

Tatacara Shalat Istisqa

  1. Sesampainya semua warga berkumpul di tanah lapang, dan bersiap menjalankan shalat, muadzin tidak perlu mengumandangkan adzan ataupun iqamah. Namun cukup dengan menyerukan kalimat asshalaatu jaami’ah
  2. Shalat sunnah Istisqa dilaksanakan dua rakaat seperti shalat sunnah yang lainnya. Imam membaca surat al-Fatihah dan membaca surat atau ayat-ayat yang panjang
  3. Setelah salam, khatib berdiri membaca dua khutbah.
  4. Khutbah yang pertama dimulai dengan membaca bacaan istighfar sebanyak sembilan kali, dan kemudian diisi dengan anjuran supaya senantiasa beristighfar, dan rendah diri di hadapan Allah, dan berkeyakinan bahwa Allah akan mengabulkan permohonannnya yakni diturunkannya hujan dan
  5. Pada khutbah kedua khatib membaca istighfar terlebih dahulu sebanyak tujuh kali. Kemudian membaca doa dengan diikuti suara makmum

Demikianlah kajian mengenai macam-macam shalat sunnah yang pelaksanaannya dilaksanakan secara berjamaah tidak boleh sendirian (munfarid). Semoga kajian ini bisa menjadi bahan rujukan dan bermanfaat bagi kita semuanya dalam menjalankan syariat agama Islam.

Sumber:

Mohammad Rifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 2012)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP/MTs Kelas VIII, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014)
https://id.wikipedia.org/wiki/Salat_dua_gerhana (diakses tanggal 28 Juli 2020)
https://portal-ilmu.com/macam-macam-shalat-sunnah/ (diakses 28 Juli 2020)

Gambar oleh Suhail Suri dari Pixabay

Tinggalkan Balasan