Semuanya Masih Serba Kemungkinan Hingga Akhir Hayat Tiba (2-end)

Home » Semuanya Masih Serba Kemungkinan Hingga Akhir Hayat Tiba (2-end)

Senantiasa Berusaha dan Berdoa agar bisa kembali kepada-Nya dengan husnul khatimah

Sebagian dari kita, mungkin tidak akan mengira bahwa seseorang yang berperangai buruk atau jahat, tetapi di akhir hayatnya orang tersebut bisa berubah menjadi sosok yang begitu baik dan mulia perilakunya.

Semisal pencuri yang kemudian menjadi ustadz, pembunuh yang kemudian menjadi guru pengajar al-Qur’an, Wanita Tuna Susila (WTS) yang kemudian menjadi penyuluh agama, para pemuda pecandu narkoba kemudian menjadi para penghafal al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Tentu saja, kita berharap mereka semua bisa menemukan tujuan hidup mereka sebenarnya. Sehingga bisa membahagiakan kedua orangtua dan keluarganya masing-masing.

Jika dalam episode kisah yang lalu, diceritakan bahwa sang Iblis senantiasa mencari celah untuk menggoda manusia agar tertipu dengan tipu dayanya. Maka, pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan sebuah kisah agar kita tidak mudah menilai  dan membenci seseorang dari perangai buruk yang mereka. Bisa jadi,  dari mereka-lah kita mendapatkan pelajaran yang lebih berharga.

Mantan Pemabuk yang akhirnya diangkat menjadi Waliyullah (Kisah Singkat Abu Nashr Bishri bin al-Harits)

Di era tahun 800-an Masehi, ada salah seorang pemuda yang hidupnya terkenal kaya raya, Abu Nashr, Bishri bin al-Harits. Pemuda ini dikenal sebagai pemuda yang suka minuman memabukkan dan hidup berfoya-foya. Pada suatu hari, dirinya berjalan secara terhuyung-huyung akibat dari minuman memabukkan yang ditenggaknya.

Dalam perjalanannya, dirinya menemukan sehelai kertas kecil kusut yang dalamnya bertuliskan kalimat basmalah –bismillaahirrahmaanirraahiim– (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Abu Nashr membaca tulisan tersebut beberapa kali dengan tersenyum bahagia.

Sesampainya di rumah, dirinya menciumi kertas kecil tersebut dan kemudian memercikkan minyak wangi pada kertas kecil tersebut. Hingga akhirnya kertas itu diletakkan di sebuah tempat khusus dan istimewa dalam rumahnya.

Selang malam hari sesudahnya, ada salah seorang syekh yang mendapatkan perintah dalam mimpinya, “Carilah anak muda yang mempunyai beberapa ciri begini dan begitu, dan katakan kepadanya, bahwa Allah mengharumkannya, karena dirinya telah mengharumkan nama-Nya. Allah juga memuliakannya karena dirinya telah memuliakan-Nya”.

Mendapati mimpi untuk mencari seorang pemuda tersebut, syekh menjadi penasaran, siapakah sosok pemuda tersebut sebenarnya, dan dimanakah dapat menemukannya?

Setelah berhari-hari mencarinya, syekh tersebut berhasil menemukan pemuda yang diberitahukan ciri-cirinya dalam mimpinya tersebut. Tetapi, syekh ini belum begitu yakin dengan sosok pemuda tersebut, dikarenakan bau minuman keras yang melekat pada mulut dan tubuh pemuda tersebut.

Sambil terheran-heran, hatinya berkata, “Apakah pemuda yang seperti ini yang dimaksudkan dalam mimpiku, sehingga bisa mendapatkan keharuman dan kemuliaan di sisi Allah swt.”. Karena masih disertai rasa ragu, pada malam harinya, syekh tersebut  mengambil air wudhu dan melanjutkan dengan shalat malam untuk mendapatkan kepastian dari mimpinya.

Sampai berselang tiga hari, syekh tersebut masih mendapatkan mimpi  yang sama seperti mimpinya waktu pertama kali. Akhirnya syekh tersebut berangkat pada waktu masih sepi di pagi hari. Tetapi, syekh tersebut malah kaget dengan apa yang dijumpainya. Karena syekh tersebut menemukan pemuda tadi sedang berpesta minuman keras bersama teman-temannya.

Hingga akhirnya pemuda itu menolak untuk diajak , sampai menyebut bahwa syekh tersebut mungkin salah orang. Hingga pada akhrinya syekh tersebut, menjelaskan secara gamblang tentang apa yang terjadi dalam mimpinya tersebut.

“Anda adalah orang terpilih, Allah mencium anda, karena anda telah mencium kertas yang di dalamnya terdapat nama-Nya. Anda dimuliakan Allah, karena anda telah memercikkan minyak wangi dan menempatkan kertas kecil yang bertuliskan Kasih Sayang-Nya di tempat yang mulia dan terhormat.” Begitulah penjelasan syekh kepada pemuda pilihan yang saat itu sedang tidak memakai alas kakinya

Berawal dari ujaran dan sentuhan kasih sayang seorang syekh itulah kemudian membuat hati pemuda tersebut menjadi luluh dan membuatnya untuk bertaubat. Dari sinilah kebiasaan dan kepribadian sosok pemuda yang bernama Abu Nashr ini berubah total menjadi sosok yang bersungguh-sungguh dan telaten dalam belajar dan menjalankan agama.

Sampai-sampai namanya dikenal sebagai sosok ulama besar oleh ulama-ulama yang ada di daerah setempat. Bahkan beliau dipandang sebagai ulama yang mempunyai kharismatik yang tinggi oleh masyarakat di negerinya bertempat tinggal di Irak.

Esok Adalah Hari yang (masih) Penuh Perkiraan

Setelah membaca kisah singkat di atas, kita sebagai manusia tidak boleh membenci, atau memandang buruk orang yang suka berperilaku buruk atau jahat. Benci terhadap perbuatan atau perilakunya, wajib. Tetapi pada orang yang melakukan perbuatannya, jangan.

Manusia bukanlah sosok seperti setan, manusia diberikan oleh Allah akal dan pikiran. Jika dirinya mampu mengatur dan mengendalikan hawa nafsu yang ada pada dirinya. Bisa jadi perilaku buruk atau jahat yang sudah menjadi kebiasaannya, hilang sedikit demi sedikit.

Bahkan jika  orang tersebut bisa bertaubat, dan berusaha terus menerus dalam menambah ilmu pengetahuan dan amal ibadahnya, bisa jadi kita sendiri yang terkalahkan  dengan ilmu dan keshalehan yang dimiliki olehnya.

Oleh karena itu, janganlah kita terlalu memuji sosok yang menurut kita mempunyai kepribadian yang baik, bagus, dan shaleh. Serta janganlah kita terlalu membenci sosok yang menurut kita buruk, dan jahat.

Kita hanya bisa mengira-ngira sesuatu yang terjadi pada saat ini. Kita semua tidak tahu, apa dan bagaimana esok harinya. Tidak ada jaminan orang yang baik akan menjadi baik selamanya, begitu pula sebaliknya. Tidak ada jaminan orang yang buruk akan selamanya menjadi buruk.

Hidup kita saat ini, sampai akhir hayat tiba, masih penuh dengan banyak kemungkinan-kemungkinan yang masih menjadi misteri sendiri. Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban kita masing-masing untuk senantiasa berusaha, berharap dan berdoa agar bisa menutup atau mengakhiri hidup kita dengan sesuatu yang baik (husnulkhatimah)

Aamiin yaa robbal ‘aalamiin

Sumber :
Moh. Ali Aziz, Hidup Masih Koma, Belum Titik, (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo), 2019
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v.1.1

Gambar oleh Arek Socha dari Pixabay