Perintah Membaca dalam al-Qur’an: Jalan Mencari, Menambah, dan Membangun Peradaban Baru (Tafsir QS. al-‘Alaq (96): 1-5)

Home » Perintah Membaca dalam al-Qur’an: Jalan Mencari, Menambah, dan Membangun Peradaban Baru (Tafsir QS. al-‘Alaq (96): 1-5)

بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢  ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ 

ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan

Wahyu yang pertama kali diturunkan ini diawali dengan kata kerja perintah (fi’il amar) yakni ٱقۡرَأۡ yang artinya bacalah. Perintah membaca di sini juga mempunyai arti perintah untuk mencari segala informasi, yang disebut dengan ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan disini tentu saja segala sesuatu apapun itu yang diciptakan oleh Allah swt. Baik itu yang bersifat lahir (jasmani) ataupun batin (ruhani).

Dari sinilah yang namanya ilmu pengetahuan bersifat terbuka dan tanpa batas (unlimited) untuk dipelajari dan dikaji oleh semua umat manusia. Namun, perlu diingat dalam proses mencari ilmu pengetahuan itu apapun bentuknya, harus dilandasi dengan iman dan takwa (bismirabbika) kepada Dzat yang Menciptakannya (berkaitan dengan moral).

Hal ini penting sekali dilakukan agar perintah membaca atau mencari segala ilmu pengetahuan tersebut juga bermanfaat bisa bagi umat manusia. Adapun ilmu pengetahuan tentang Tuhan itu sendiri,umat manusia hanya bisa mencapainya pada batasan asma-asma-Nya, yaitu sifat dan perbuatan-Nya tidak mengenai pada Dzat-Nya.

خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ 

(Yang) telah menciptakan manusia dari segumpal darah

Kriteria atau menjadi ciri Tuhan adalah Dia menciptakan segala sesuatu dari sesuatu yang tidak ada  (خلق) , hal ini seperti yang dijelaskan dalam QS. al- An’am (6) ayat 102) berikut ini:

ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖ فَٱعۡبُدُوهُۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ ١٠٢

 (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu

Apabila ada yang menciptakan dari sesuatu yang tidak ada, maka tentu saja yang demikian itu bukanlah Tuhan tetapi makhluk.

Dalam ayat dua QS. al-‘Alaq di atas, dijelaskan bahwa manusia disebutkan secara khusus, hal ini karena memang makhluk yang bernama manusia ini punya kemuliaan dan kelebihan tersendiri dibandingkan makhluk-makhluk lainnya, seperti yang dijelaskan dalam QS. al-Isra’ (17) ayat 70.

۞وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِيٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ كَثِيرٖ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلٗا ٧٠

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Kemuliaan manusia (الإنسان) disini tentu saja terlukiskan dalam penciptaan manusia dengan bangunan fisik dan mental dengan sebaik-baik ciptaan (ahsani taqwiim).

Dari sinilah, hanya manusia yang mampu berpengetahuan luas (sains), kemudian mampu membentuk peradaban, dan manusia-lah yang mampu beragama dengan iman dan takwa dengan setinggi-tingginya

Namun, (juga) perlu diingat kemuliaan yang diberikan oleh Allah swt. kepada kita umat manusia, bisa berubah drastis dan jatuh hingga pada level serendah-rendahnya, jika umat manusia tidak bisa menjaga harkat dan martabatnya.

Hal ini seperti yang dijelaskan QS. at-Tiin (95) ayat 4-5, berikut ini:

 لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤ ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ٥

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).

Jatuhnya kehormatan manusia sebagai ciptaan yang ahsani taqwim ini, disebabkan karena, secara biologis asal-usul manusia yang tidak jauh berbeda dengan hewan atau ’alaqah, yaitu dari zigot. Yaitu ovum yang sudah terbuahi oleh sel sperma) dan yang sudah menempel di dinding rahim.

ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ 

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah

Diulanginya perintah membaca ini, mengisyaratkan kepada kita bahwasannya pentingnya semangat dan usaha dalam mencari atau menambah ilmu pengetahuan itu perlu dilakukan secara terus menerus dan berkali-kali.

Ketika kita membaca sebuah informasi atau ilmu pengetahuan baru satu kali, tentu saja informasi tersebut mungkn terasa grambyang atau hanya membayang dalam benak dan pikiran kita. Tapi kalau sudah dibaca lebih dari satu kali, barulah informasi atau ilmu pengetahuan yang kita dapati tersebut bisa bertambah semakin jelas.

Semakin banyak kita membaca suatu informasi atau ilmu pengetahuan, tentu semakin berkembang pula ilmu dan pengetahuan kita, baik itu yang berkaitan jasmaniah kita (sains) ataupun ruhaniah kita (iman dan takwa).

Hanya Allah-lah yang mampu memberi manusia ilmu pengetahuan dan keimanan itu setinggi-tingginya semaksimal kodrat dan kemampuannya, sebagaimana manusia tersebut juga berusaha untuk menggapainya.

Hal ini tentu saja karena hanya Allah-lah Dzat Yang Maha Sempurna yang tidak akan berkurang apa yang ada pada-Nya, bila diberikan-Nya berapa pun.

ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤

Yang Mengajar (manusia) dengan perantara kalam (pena)

Pada ayat empat ini, kemampuan menggunakan pena (menulis) merupakan salah satu bawaan manusia yang diberikan oleh Tuhan, tetapi kemampuan untuk menulis huruf, mengarang, dan dipelajari.

Adanya proses membaca kemudian dilanjutkan dengan penelitian tentu akan menghasilkan sebuah wawasan baru. Wawasan baru inilah yang kemudian mendorong manusia untuk menulis perihal sesuatu yang baru pula.

Dari empat ayat permulaan QS. al-‘Alaq di atas, ada tiga kata penting yang perlu kita ingat-ingat dan cermati. Pertama, “Membaca”, Kedua, “Mengajar”, dan Ketiga “Pena”.

Dari ketiga kata tersebut, menjelaskan bahwa membaca, mengajar, dan pena, memiliki unsur penting yang saling berkaitan, utamanya dalam membangun dan membuat suatu peradaban menjadi lebih maju, lebih tinggi, dan lebih modern melalui ilmu pengetahuan … terlebih peradaban  Islam.

Suatu ilmu pengetahuan dan peradaban, tentunya juga perlu untuk disosialisasikan. Melalui ayat inilah sosialisasi dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan peradaban dikembangkan, diantaranya melalui pengembangan budaya membaca (إقراء) dan menulis .  

Hal tersebut karena produk dari proses baca-tulis lebih terbuka untuk dikritik, sehingga lebih memungkinkan untuk maju dan berkembangnya suatu ilmu pengetahuan dan peradaban. 

Dari sinilah budaya untuk membaca dan menulis perlu lebih dikembangkan lagi kepada banyak orang. Daripada budaya membual atau omong kosong yang mana budaya membual atau omong kosong tersebut hanya akan menghasilkan suatu ketertinggalan.

عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥

Mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya

Dengan adanya suatu karya tulis, baik berupa surat, prasasti ataupun buku, peradaban manusia bisa tersimpan dengan baik. Dari sinilah kemudian pewarisan-pewarisan budaya kepada generasi-generasi berikutnya dapat dilakukan dengan mempelajari dan mengkaji peninggalan tertulis tersebut (melalui jalur pembelajaran). 

Berkat adanya sebuah warisan baik budaya dan tulisan dari generasi-generasi sebelumnya itulah, generasi-generasi berikutnya tidak hanya mempelajari apa yang sudah ada pada sebelumnya.

Namun juga bisa digunakan untuk memperbaikinya atau bahkan menyempurnakannya sehingga menjadikan suatu ilmu pengetahuan dan peradaban menjadi lebih baik, lebih maju, dan lebih modern.

Sumber:

Salman Harun, Secangkir Tafsir Juz Terakhir : Mengerti Jalan-Jalan yang Membahagiakan di Dunia dan Akhirat, (Tangerang: PT. Lentera Hati), 2018
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v.1.1
Software Qur’an in Ms. Word 2.2

Gambar oleh PublicDomainPictures dari Pixabay