Macam-Macam Shalat Sunnah yang Boleh Dilakukan Sendiri dan Berjamaah (Niat serta Ketentuannya)

Home » Macam-Macam Shalat Sunnah yang Boleh Dilakukan Sendiri dan Berjamaah (Niat serta Ketentuannya)

Jika pada artikel yang lalu sempat membahas shalat sunnah berjamaah  alias tidak boleh sendirian. Maka, pada kesempatan ini kita akan membahas berkaitan shalat sunnah yang pelaksanaannya bisa dilakukan secara berjamaah, dan bisa juga dilakukan secara sendirian (munfarid).

Pertama, kita akan membahas shalat sunnah yang pelaksanaannya baik dikerjakan secara berjamaah, walaupun dilakukan secara sendirian juga diperbolehkan. Kedua, kita akan membahas shalat sunnah yang memang dikerjakan secara sendirian.

Pertama, Shalat Sunah Tarawih

Shalat tarawih ini adalah shalat sunnah yang dilakukan pada maam hari di bulan Ramadhan. Shalat tarawih ini dilakukan setelah seseorang melakukan shalat sunnahsesudah Isya’.

Waktu pelaksanaannya sendiri adalah sestelah shalat sunnah sesudah Isya’ sampai terbit fajar. Meski shalat sunnah tarawih ini boleh dilakukan secara sendirian (munfarid)  akan menjadi lebih utama jika dilakuksan secara berjamaah.

 Jumlah rakaat ketika melakukan shalat tarawih ini (tergantung madzhab masing-masing) ada banyak, seperti yang sering kita lihat dan sering kita ikuti dalam masyarakat setempat. Ada yang melakukannya sebanyak delapan rekaat ada juga yang dua puluh rakaat.

Jumlah rekaat, tentu tidak perlu diributkan atau dipermasalahkan, yang terpenting bagi kita tentunya adalah pelaksanaan shalat sunnah tarawih itu sendiri.

Ketika akan menjalankan shalat sunnah ini tentu jangan lupa niat menjadi hal yang paling utama. Niat haruslah dilakukan di dalam hati dengan penuh keikhlasan hati. Adapun jika dilafalkan niat shalat tarawih ini berbunyi:

 اُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ  رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَآلى

Ushalli sunnatat taraawiihi rak’atayni lillaahi ta’aalaa\

Saya berniat shalat sunnah tarawih dua rakaat karena Allah ta’ala

Kedua, Shalat Sunnah Tahajud

Shalat sunnah tahajjud ini adalah shalat sunnah yang pelaksanaannya tidak jauh beda dengan shalat tarawih. Jika shalat sunnah tarawih hanya dilakukan pada malam hari bulan Ramadhan saja. Maka, shalat sunnah tahajjud ini dilakukan dua rakaat setiap hari, dan kapan saja di waktu malam hari sampai terbit fajar.

Meski boleh dilakukan secara sendirian (munfarid), shalat ini juga dibolehkan untuk dilakukan secara berjamaah. Waktu pelaksanaan dari shalat sunnah tahajud ini sendiri, dilaksanakan setelah shalat Isya’ atau ketika bangun tidur di malam hari. Terutama ketika bangun di waktu sepertiga malam yang terakhir.

Hal ini sebagaimana tercantum dalam QS. al-Isra (17) ayat 79 sebagaimana berikut ini:

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا ٧٩

“Dan pada sebahagian malam hari ber-tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”

Shalat ini juga seperti shalat sunnah biasanya minimal dikerjakan dua rakaat, dan maksimal adalah sebanyak-banyaknya atau tidak dibatasi, syukur kita bisa menyusulnya dengan shalat sunnah witir.

Adapun niat dari shalat sunnah tahajud ini juga harus ikhlas dari dalam hati, dan jika dilafalkan maka niat dari shalat tahajud ini adalah :

 اُصَلِّي سُنَّةَ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَآلى

Ushalli sunnatat tahajjudi rak’atayni lillaahi ta’aalaa\

Saya berniat shalat sunnah tahajud karena Allah ta’ala

Ketiga, Shalat Sunnah Witir

Shalat sunnah witir ini adalah shalat yang rekaatnya terbilang ganjil dan dilaksanakan pada waktu setiap malam dan tidak hanya bulan Ramadhan saja (setelah shalat sunnah tarawih).

Kata ‘al-Witru’ yang mempunyai arti ganjil ini, tentunya mengandung makna tersendiri. Oleh karena itu pula melaksanakan shalat witir ini juga dihukumi sunnah muakkad (sunnah yang dianjurkan).

Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits yang bersumber dari sahabat Ali bin Abi Thalib ra., yang berkata :

  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، أَوْتِرُوا، فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ»

Rasulullah saw. bersabda : “Wahai para ahli (pecinta) al-Qur’an, laksanakanlah shalat sunnah witir, sebab sesungguhnya Allah itu Esa (Tunggal), dan Dia menyukai pada bilangan witir (ganjil)” (HR.Abu Daud)

Jumlah rakaat shalat witir ini adalah ganjil, dan yang paling minim adalah satu rakaat atau tiga, lima, tujuh, sembilan dan jumlah maksimalnya 11 rakaat. Salam dalam shalat sunnah witir ini bisa dikerjakan dengan dua rakaat disusul satu rakaat satu salam bisa juga dengan sekali satu rakaat (jumlah rakaat minimal) kemudian salam

Contoh singkat, ketika witir dengan tiga rekaat langsung, maka pelaksanaannya pun bisa jadi dua macam. Pertama, langsung salam pada rekaat ketiga dan kedua, dua rekaat salam dahulu kemudian disusul dengan satu rekaat langsung salam.

Di hari-hari biasa, shalat sunnah witir ini boleh dilakukan langsung setelah melakukan shalat Isya’ atau boleh juga setelah shalat sunnah tahajjud. Boleh pula hanya menjalankan shalat sunnah witirnya saja dikarenakan waktunya yang sudah berdekatan dengan waktu fajar.

Adapun niat shalat witir yang harus ikhlas dari dalam hati ini, jika dilafalkan menjadi dua, untuk yang bilangan genap dan bilangan ganjil, seperti berikut ini. Untuk yang dua rakaat (genap) berbunyi:

اُصَلِّي سُنَّةَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَآلى

Ushalli sunnatal witri rak’atayni lillaahi ta’aalaa

Saya berniat shalat sunnah witir dua rakaat karena Allah ta’alaa

Untuk yang satu rakaat lainnya:

اُصَلِّي سُنَّةً الْوِتْرِ رَكْعَةً للهِ تَعَآلى

Ushalli sunnatal witri rak’atan lillaahi ta’aalaa

Saya berniat shalat sunnah witir satu rakaat karena Allah ta’alaa

Keempat, Shalat Sunnah Dhuha

Shalat sunnah dhuha ini adalah shalat sunnah yang dilakukan di pagi hari, dimana matahari sudah sudah mulai terbit dan naik kira-kira satu satu tombak (kurang lebih sekitar tujuh hasta), atau kurang lebih sekitar jam tujuh pagi

Batas waktu akhir dari shalat sunnah dhuha ini adalah sampai menjelang shalat Dzuhur.

Shalat sunnah dhuha ini juga seperti shalat sunnah yang lainnya yakni terdiri dari dua rekaat. Minimal dikerjakan dua rakaat dan maksimal dikerjakan sampai 12 rekaat.

Ada baiknya jika surat yang dibaca setelah membaca surat al-Fatihah pada rakaat pertama adalah surat as-Syams dan pada rakaat yang kedua adalah surat ad-Dhuhaa

Setelah membaca surat al-Fatihah pada shala sunnah dhuha ini dianjurkan untuk rekaat pertama membaca surat as-Syams, kemudian di rekaat ke dua membaca surat ad-Dhuha. Jangan lupa niat dengan ikhlas terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat sunnah dhuha ini

Niat dari shalat sunnah dhuha ini adalah:

اُصَلِّي سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَآلى

Ushalli sunnatad dhuhaa rak’atayni lillaahi ta’aalaa

Saya berniat shalat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah ta’alaa

Kelima, Shalat Sunnah Tasbih

Shalat sunnah tasbih, sesuai dengan namanya, shalat sunah tasbih adalah shalat sunnah yang mana pelaksanaannya adalah dengan memperbanyak bacaan tasbihnya. Shalat sunnah tasbih ini mempunyai keutamaan tersendiri, karena dalam shalat tersebut kita membaca tasbih sebanyak 300 kali dalam shalat.

Dikarenakan membaca tasbih yang begitu banyak, tentu akan membutuhkan waktu yang lama pula dalam melaksanakan shalat sunnah ini. Oleh karena itu, hendaknya dilakukan sesuai dengan kemampuan kita sendiri.

Jika mampu setiap hari, laksanakan. Jikalau tidak mampu setiap hari, lakukanlah sepekan sekali, utamanya di hari Jumat. Jikalau tidak mampu satu pekan sekali, maka laksanakanlah satu bulan sekali. Jikalau masih tidak mampu maka satu tahun sekali saja. jikalau masih tidak mampu satu tahun sekali, maka laksanakan seumur hidup sekali.

Adapun waktu dari shalat sunnah tasbih ini bisa dilakukan pada siang ataupun pada malam hari.  Jika dilakukan pada siang hari, maka dilakukan dengan empat rakaat dua kali salam (seperti shalat sunnah lainnya), dan jika dilakukan pada malam hari, maka dilakukan dengan empat rakaat satu kali salam.

Sebelumnya niatlah terlebih dahulu dengan ikhlas untuk melaksanakan shalat sunnah tasbih ini, dan kapan melaksanakannya, di siang harikah ataupun malam hari;

Jika shalat sunnah ini dilaksanakan pada siang hari, maka jika dilafalkan, niat tersebut menjadi :

اُصَلِّي سُنَّةَ الْتَّسْبِيْحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ للهِ تَعَآلى

Ushalli sunnatat tasbiihi arba’a  raka’aatin  lillaahi ta’aalaa

Saya berniat shalat sunnah tasbih empat rakaat karena Allah ta’alaa

Dan jika dilaksanakan pada malam hari menjadi, niat shalat tersebut menjadi :

اُصَلِّي سُنَّةَ الْتَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَآلى

Ushalli sunnatat tasbiihi  rak’atayni lillaahi ta’aalaa

Saya berniat shalat sunnah tasbih dua rakaat karena Allah ta’alaa

Demikian tadi penjelasan mengenai beberapa shalat sunnah yang mana bisa dikerjakan baik itu secara berjama’ah atau bisa juga dikerjakan secara sendirian (munfarid). Semoga dengan sedikit penjelasan di atas bisa menambah ilmu pengetahuan kita mengenai shalat sunnah yang mungkin kita bisa mengikutinya secara berjamaah.

Atau mungkin bisa kita laksanakan sendirian ketika kita sedang berhalangan datang untuk mengikuti shalat  berjamaah tersebut. Sehingga kita bisa tetap menjaga semangat kita dalam menjalankan ibadah shalat tersebut di atas.  Aaamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Sumber:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP/MTs Kelas VIII, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014)
Mohammad Rifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 2012)
Sulaiman bin al-Asy’ats, Sunan Abii Daawud, (Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyah, tt), diambil dari software al-Maktabah as-Syaamilah v. 3.48
Software Qur’an in Ms. Word v. 2.2
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v. 1.1
https://portal-ilmu.com/macam-macam-shalat-sunnah/ , (diakses tanggal 28 Juli 2020)

Gambar oleh Abdessamad Karmoun dari Pixabay

Tinggalkan Balasan