Macam-Macam Shalat Munfarid (Sendirian) Beserta Ketentuan dan Hikmahnya

Home » Macam-Macam Shalat Munfarid (Sendirian) Beserta Ketentuan dan Hikmahnya

Jika shalat sunnah itu mempunyai banyak macam pelaksanaannya, yakni shalat sunnah yang wajib dikerjakan secara berjamaah, dan ada juga yang boleh dikerjakan secara berjamaah dan boleh dikerjakan secara sendirian (munfarid).

Ternyata, ada lagi  pelaksanaan shalat sunnah yang shalatnya harus dikerjakan secara sendirian (munfarid) alias tidak boleh berjamaah.

Lalu, shalat sunnah apa saja yang pelaksanaannya tidak boleh dikerjakan secara berjamaah, alias harus atau wajib dikerjakan secara sendirian (munfarid). Berikut shalat sunnah yang pelaksanaannya harus dikerjakan secara sendiri :

Pertama, Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid

Shalat sunnah tahiyyatul masjid ini adalah shalat sunnah yang dilakukan oleh seorang muslim untuk menghormati masjid. Shalat sunnah ini merupakan salah satu rangkaian adab yang dilakukan ketika seseorang memasuki masjid dan belum duduk.

Dalam hadits nabi saw., juga disebutkan mengenai shalat sunnah tahiyyatul masjid ini,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ، فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ» (رواه بخاري )

“Jika salah seorang dari kalian semua memasuki masjid, maka (usahakan) jangan duduk dahulu sebelum melakukan shalat dua rakaat” (HR. Bukhari)

Perlu kita ketahui, ketika seseorang memasuki masjid hendaklah dirinya mendahulukan kaki kanannya seraya membaca doa :

اَللهُمَّ اغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ وَافْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Allaahummaghfirlii dzunuubii waftahlii abwaaba rahmatika

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu dan restu-Mu”

Untuk tatacara shalat sunnah tahiyyatul masjid ini, adalah:

  1. Ketika memasuki masjid hendaklah membaca doa terlebih dahulu, dan carilah tempat yang sesuai dan jangan duduk dahulu.
  2. Berdirilah sambil berniat dalam hati untuk menjalankan shalat sunnah tahiyyatul masjid ini. Untuk niat dari shalat sunnah tahiiyatul masjid ini jika dilafalkan

اُصَلِّي سُنَّةً  تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَآلى

Ushalli sunnatan tahiyyatal masjidi  rak’atayni lillaahi ta’aalaa

Saya berniat shalat sunnah tahiyyatul masjidi dua rakaat karena Allah ta’alaa

  1. Kemudian mulailah dengan gerakan takbiratul ihram untuk menjalankan shalat sunnah tahiyyatul masjid ini sampai pada gerakan akhir yakni salam.

Batas waktu dari shalat ini adalah tidak dibatasi, kapanpun dan di masjid manapun. Adapun ketika adzan di kumandangkan untuk shalat lima waktu, maka hendaknya kita menunggu adzan tersebut selesai terlebih dahulu baru kemudian melaksanakannya.

Kedua, Shalat Sunnah Rawatib

Berawal dari asal kata ratbah, yang mempunyai arti tetap, menyertai atau terus menerus. Shalat sunnah rawatib ini adalah shalat sunnah yang pelaksanaan dan waktunya  mengikuti shalat wajib lima waktu.

Shalat sunnah rawatib ini dilakukan sebelum shalat wajib (sunnah qabliyah) atau sesudah melakukan shalat wajib (sunnah ba’diyah). Hukum dari shalat sunnah rawatib ini ada yang sangat dianjurkan (muakkad) dan ada yang cukup dianjurkan (ghairu muakkad).

Adapun shalat sunnah rawatib yang sangat dianjurkan (muakkad) ini adalah :

  1. Dua rakaat sebelum shalat Shubuh
  2. Dua rakaat sebelum shalat Dzuhur
  3. Dua rakaat sesudah shalat Dzuhur
  4. Dua rakaat sesudah shalat Maghrib
  5. Dua rakaat sebelum shalat ‘Isya

Adapun shalat sunnah rawatib yang (ghairu muakkad) adalah sebagai berikut:

  1. Dua rakaat sebelum shalat Dzuhur (Khusus Dzuhur shalat sunnahnya ada empat rakaat baik sebelum ataupun sesudahnya, dengan dua kali salam artinya dua rakaat yang satunya adalah muakkad dan satunya adalah ghairu muakkad)
  2.  Empat rakaat sebelum shalat ‘Ashar (dengan dua kali salam)
  3.  Dua rakaat sebelum shalat Maghrib
  4.  Dua rakaat sebelum shalat Isya’

Perlu kita ketahui juga untuk waktu setelah shalat shubuh hingga terbitnya matahari, dan juga setelah shalat ‘Ashar hingga terbenamnya matahari tidak ada istilah shalat sunnah rawatib, karena dalam dua waktu tersebut adalah waktu yang diharamkan untuk melakukan shalat.

Ketiga, Shalat Sunnah Istikharah

Shalat sunnah istikharah ini adalah shalat sunnah yang mana dilakukan secara sendirian (munfarid). Shalat sunnah ini dilakukan oleh seseorang karena sedang dihadapkan dalam dua kondisi yang sama-sama baiknya, tetapi dirinya sendiri masih ragu-ragu akan baik buruknya sehingga sulit untuk menentukan pilihannya sendiri.

Shalat sunnah istikharah ini hampir sama dengan shalat sunnah hajat. Bedanya, pada tujuan akhirnya, shalat sunnah istikharah sudah ada gambaran atau pilihan yang jelas, sedangkan pada shalat sunnah hajat, seseorang hanya memohon dan berdoa agar hajatnya diperkenankan oleh Allah swt.

Shalat sunnah ini dilakukan seseorang untuk memohon dan berdoa meminta petunjuk dari Allah swt., atas apa yang akan dipilih atau dikerjakannya. Sehingga orang tersebut bisa mendapatkan petunjuk terbaik atas dua pilihan yang sedang dihadapinya

Contoh kecil, manakala seseorang dihadapkan pada dua pilihan hidup seperti: ketika ingin menikah, apakah seseorang yang akan dinikahinya tersebut pantas, cocok atau tidak bagi dirinya. Lalu, kemudian orang tersebut menjalankan shalat sunnah istikharah guna mendapatkan petunjuk dari Allah swt..

Hal yang seperti ini tentu saja tidak hanya dalam urusan menikah saja tetapi bisa juga dalam pilihan kerja, berbisnis dan lain sebagainya. Tentunya dari yang sama-sama baik, dirinya berdoa dan memohon kepada Allah untuk diberikan yang terbaik bagi dirinya.

Shalat sunnah istikharah ini juga dilakukan dua rakaat seperti shalat sunnah biasanya. Adapun waktunya adalah pada waktu malam hari, dan diharapkan orang tersebut juga bisa berdoa, memohon dengan baik dan sungguh-sungguh

Melalui shalat sunnah inilah seseorang mendapatkan petunjuk atau pilihan dari Allah swt., atas rencana atau pilihan apa yang akan dilaksanakannya, dan tentu saja petunjuk dari Allah ini bisa melalui mimpi atau bisa melalui cara yang lain, yang membuat hati kita menjadi mantap dalam memilih sesuatu tersebut.

Adapun niat dari shalat sunnah istikharah ini harus dari dalam hati yang ikhlas. Adapun jika niat tersebut dilafalkan menjadi :

اُصَلِّي سُنَّةً  الْإِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَآلى

Ushalli sunnatal istikhaarati rak’atayni lillaahi ta’aalaa

Saya berniat shalat sunnah istikharah dua rakaat karena Allah ta’alaa

Manfaat Dibalik Menjalankan Shalat Sunnah (Baik yang Sendirian (Munfarid) atau Berjamaah)

Shalat sunnah yang kita lakukan baik itu secara sendirian (munfarid) atupun berjamaah yang telah dijelaskan, dalam beberapa bagian-bagian tersendiri ini, tentunya mempunyai banyak hikmah tersendiri. Antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah swt.
  2. Meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah swt.
  3. Memberikan tambahan pahala terhadap amal ibadah yang kita lakukan
  4. Mempererat hubungan persatuan dan kesatuan antar sesama muslim.
  5. Semakin mensyukuri atas berbagai macam nikmat Allah yang diberikan kepada kita.
  6. Menjaga hubungan diri kita, baik dengan Allah swt. (hablumminallaah) , maupun antara sesama umat manusia (hablumminannaas).

Demikian penjelasan mengenai shalat sunnah yang dikerjakan secara sendirian (munfarid) beserta ketentuan dan hikmah dibalik shalat sunnah tersebut.

Semoga dengan mengetahui informasi ini, kita bisa mengamalkannya dengan baik dan secara istiqomah. Aaamiin yaa robbal ‘aalamiin

Sumber:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP/MTs Kelas VIII, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014)
Mohammad Rifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 2012)
Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim, Shahiih al-Bukhaarii, (ttp: Daar Thauqunnajaah, 1422 H), diambil dari software al-Maktabah as-Syaamilah v. 3.48
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v. 1.1
https://portal-ilmu.com/macam-macam-shalat-sunnah/, (diakses tanggal 28 Juli 2020)

Gambar oleh Sharon Ang dari Pixabay

Tinggalkan Balasan