klaim kebenaran agama

Home » klaim kebenaran agama

Saling Membanggakan Diri Antar Golongan

Suatu hari di sebuah tempat majlis ada tiga golongan yang terdiri dari sekelompok umat Yahudi, Nasrani, dan Islam yang sedang berkumpul.

Masing-masing dari mereka sedang membanggakan dirinya masing-masing karena mereka merasa mempunyai kelebihan dan keistimewaan ditambah dengan klaim kebenaran agama (truth claim) yang ada pada umat mereka.

Ada orang Yahudi yang berkata sembari membanggakan diri dan mengklaim kebenaran tersebut:

“Kamilah Yahudi yang berhak untuk masuk surga. Sebab, kamilah bangsa pilihan Allah. Kami semua adalah para pengikut Nabi Musa yang dipilih untuk membawakan risalah-Nya dan diajak-Nya untuk berdialog langsung.”

Mendengar klaim kebenaran agama tersebut , orang Nasrani ganti berkata: “Itu salah, Kamilah yang berhak untuk masuk dan menghuni surga . Karena, Kami inilah para pengikut Nabi Isa yang setia.

Ibunya yang telah mengandung dengan penuh mukjizat-Nya, dilahirkan pula dengan penuh mukjizat-Nya, dan dibuat untuk bisa berbicara oleh Allah dalam waktu buaian ibundanya.

Mendengar hal itu ada sekelompok orang Islam yang geram dan tidak mau kalah, dan kemudian orang tadi mengimbangi perkataan dari semua golongan tersebut dengan klaim kebenaran agama yang ada pada umat mereka: “Semua itu salah, kamilah yang lebih pantas dan lebih berhak untuk berada di surga.

Kamilah para pengikut Nabi Muhammad SAW, penutup para nabi. Allah pun juga telah berfirman kepada kami : “Kamu (umat Islam) adalah umat yang dilahirkan untuk umat manusia.”

Selain tiga golongan tadi ternyata ada orang bijak yang ada di tempat tesebut dan mendengar semua pembicaraan tentang tiga golongan tadi. Lantas ia pun berkata:

“Apa yang kalian ucapkan tadi tidaklah benar, dan itu semua bisa menjadi klaim kebenaran agama (truth claim) yang tidak bisa dipegang teguh dan dijadikan pendirian oleh semua umat manusia yang ada. Karena untuk menentukan semua itu salah atau benar adalah Kitabullah.

Baca juga: Jangan Lupakan Walisongo

Kemudian orang bijak tersebut membacakan sebuah ayat yang berbunyi:

لَّيۡسَ بِأَمَانِيِّكُمۡ وَلَآ أَمَانِيِّ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِۗ مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ وَلَا يَجِدۡ لَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا *
وَمَن يَعۡمَلۡ مِنَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ وَلَا يُظۡلَمُونَ نَقِيرٗا ١٢٤

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Siapa sajayang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.

Dan siapa saja yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (QS. An-Nisa’: 123-124).

Wallaahu a’lam bis showwaab

Sumber:
Anwar Wardah, Aku Ingat Dirimu Saat Aku Lupa Tuhanku, terj: Abdul Halim, (Jakarta: Zaman, 2013)

Tinggalkan Balasan