Keutamaan Surat al-Fatihah

Home » Keutamaan Surat al-Fatihah

Memahami Gambaran Kitab Suci Al-Qur’an

Ketika kita membuka al-Qur’an, tentu surat al-Fatihah-lah yang ada pada urutan pertama. Banyak pertanyaan yang sering muncul kenapa surat al-Fatihah ditulis paling awal pada al-Qur’an. Padahal, surat yang pertama kali diturunkan adalah surat al-‘Alaq. Sebelum dilanjutkan marilah kita pelajari sejenak kegunaan dan keutamaan surat al-Fatihah ini.  

Surat al-Fatihah menurut mayoritas ulama ahli tafsir adalah surat makkiyah, yakni surat yang turun sebelum Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah (masih berada di Makkah). Alasan kenapa surat ini disebut dengan surat makkiyah adalah:  

Pertama, sebagai surat induk yang memuat ide al-Qur’an secara global, maka haruslah diperkenalkan lebih awal. Kedua, surat ini merupakan kelengkapan dari shalat maktubah(entah itu shalat wajib atau shalat sunnah).  

Menurut petunjuk hadist, orang yang shalat (musholli) diharuskan untuk membaca surat ini, agar shalatnya menjadi sah dan sempurna. Karena shalat itu disyaratkan tepat pada peristiwa Isra’ Mi’raj (satu tahun sebelum nabi hijrah), maka logikanya surat ini harus turun atau ada terlebih dahulu agar bisa dibaca semua orang pada setiap rokaat shalat.   

Keutamaan surat al-Fatihah dibandingkan dengan surat yang lain adalah mempunyai banyak sebutan seperti Ummul Kitab (Induk Kitab), Ummul Qur’an (Ibunya al-Qur’an), as-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang di ulang-ulang), al-Syifaa’ (Penawar), dan masih banyak yang lain.   

Dari beberapa nama tersebut nama al-Fatihah-lah yang paling populer, karena ketika seseorang menyebut nama tersebut, tentulah orang lain langsung dapat merespon bahwa yang dimaksud adalah surat pertama yang ada dalam al-Qur’an.

Penulisan dan Urutan Surat

Keistimewaan dari surat al-Fatihah lainnya adalah penulisannya. Dalam penulisan al-Qur’an, panitia pembukuan al-Qur’an yang terdiri dari para sahabat nabi sepakat untuk menggunakan standart “kebiasaan” Nabi dalam membaca al-Qur’an secara utuh, bukan pada urutan turunnya.  

Meskipun al-Qur’an turun secara berangsur-angsur, dan acak, akan tetapi dalam akhir hayatnya, Nabi Muhammad SAW telah memberikan petunjuk pembacaan secara tertib yang disaksikan dan dimengerti oleh sahabat senior yang ahli al-Qur’an.  

Penampilan bacaan nabi pada akhir hayat inilah yang disebut dengan al-‘udlah al-akhirah (pengaturan akhir) yang sengaja diproklamirkan setelah melalui proses evaluasi terdahulu oleh malaikat pembawa wahyu yakni malaikat Jibril.  

Dari sisi keselarasan makna surat al-Fatihah mirip sebuah abstraksi dari seluruh isi al-Qur’an, seperti urutan karya tulis ilmiah, wajar dan sepantasnyalah surat tersebut diletakkan pada halaman depan, agar para pembaca dapat memahami terlebih dahulu gambaran bahasan yang ada pada Kitab Suci al-Qur’an tersebut.

Sebuah Kandungan Global

Ulama tafsir terkenal, al-Maraghi, mendukung sebuah tesa yang menyebutkan bahwa al-Fatihah memuat isi al-Qur’an secara global, lalu menjelaskan sebagai berikut;

Pertama, tentang ajaran tauhid (ayat 1,2, dan 3), Kedua, perihal janji dan pembalasan (ayat 4), Ketiga, berkaitan dengan ibadah (ayat 5), Keempat, tentang bimbingan hidup (ayat 6 ), dan Ketujuh, kesejarahan (ayat 7)   Karena kandungan global inilah surat al-Fatihah juga disebut sebagai UmmulKitab (Induk Kitab).

Perlu diketahui bahwa pen-sari-an isi kandungan al-Qur’an hanyalah sampai surat al-Fatihah saja. Hal Ini dikarenakan ketika isi kandungan al-Qur’an disarikan ke dalam surat al-Fatihah itu mempunyai dalil (nash) dan memang antara al-Fatihah dan al-Qur’an adalah sama-sama wahyu.  

Ini berbeda ketika surat al-Fatihah disarikan dalam bacaan basmalah, karena kedudukan basmalah yang diperselisihkan sebagai wahyu atau bukan. Terlebih lagi jika disarikan pada huruf ‘ba’, karena huruf  ba’ menurut ilmu tata bahasa Arab adalah huruf jarr, yang artinya bisa bermacam-macam tergantung susunan kalimatnya.

Pembacaan Surat al-Fatihah

Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim terutama ketika hendak mengerjakan shalat:   Pertama, surat al-Fatihah merupakan sebuah surat yang wajib dibaca pada setiap rekaat shalat. Jadi bacalah sebisa-bisanya dan sebaik-baiknya.

Meski demikian orang yang shalat (musholli) boleh menggantinya dengan ayat al-Qur’an manapun jika memang benar-benar belum bisa membaca surat tersebut.  

Adapun jika memang tidak bisa membaca satu ayat pun, maka baca saja terjemahan surat al-Fatihah. Ungkapkan kandungan surat al-Fatihah dengan bahasa etnik kita sendiri, jika masih belum bisa dengan itu semua?? Tetaplah bersama Tuhan melalui saluran hati pribadi kita masing-masing.  

Karena Allah Maha Faham, non diskriminitas. Orang yang shalat seperti ini tetap berhukum sah tapi orang tersebut harus sadar akan kewajibannya untuk terus belajar.  

Kedua, surat al-Fatihah dalam shalat diperumpamakan seperti naskah dialog manusia dengan Tuhannya secara langsung.  Ini dengan adanya sebuah hadist yang menerangkan bahwa setiap orang shalat yang membaca satu persatu ayat al-Fatihah, maka Allah langsung menjawab dengan bahasa-Nya yang responsif.  

Maka, alangkah baiknya jika berhenti sejenak untuk memberi kesempatan Tuhan untuk menjawab sekaligus untuk menghayati jawaban tersebut, dan ini bisa menjadi keutamaan surat al-Fatihah yang patut kita sadari dalam kehidupan sehari-hari.  

wallaahu a’lam

Tinggalkan Balasan