Keutamaan Memuja dan Berdzikir Kepada Allah SWT (Tafsir QS. al-Ahzab (33) : 41-42)

Home » Keutamaan Memuja dan Berdzikir Kepada Allah SWT (Tafsir QS. al-Ahzab (33) : 41-42)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا ٤١ وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا ٤٢

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman! berdzikirlah (ingatlah) kepada Allah, (dengan menyebut nama) Allah, zikir sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang“. (QS. al-Ahzab (33): 41-42)

Ayat di atas, memerintahkan kita untuk senantiasa banyak berdzikir, yaitu dengan cara menyebut nama-nama Allah secara lisan atau hanya mengingat-Nya di dalam hati. Dengan pengertian dzikir secara luas ini, maka segala bentuk ibadah , baik itu shalat, membaca al-Qur’an, membaca sholawat, ataupun belajar dan lain sebagainya bisa disebut dengan dzikir.

Menurut Ibnu Abbas r.a., jika segala kewajiban ibadah dibatasi oleh waktu dan dispensasi bagi yang berhalangan untuk menjalankannya. Maka, tidak dengan berdzikir ini. Perintah dzikir ini tidak memandang waktu, status sosial, bahkan kita diperintahkan untuk senantiasa berdzikir dalam kondisi apapun.

Baik itu kaya atau miskin, muda ataupun tua, kondisi sehat ataupun sakit, sedang bekerja ataupun tidak, kondisi berjalan ataupun berbaring , semuanya bisa melakukan aktifitas berdzikir ini.

Adapun perintah untuk berdizikir dengan membaca tasbih dalam ayat tadi yang berbunyi:

وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا

diberikan kekhususan terendiri. Karena dengan membaca tasbih (subhanallah) ini, seseorang juga berusaha untuk membersihkan iman dan pikirannya dari sesuatu yang negatif.

Ingatlah Aku, Aku-pun Senantiasa akan Mengingatmu

Perintah berdizikir ini juga terdapat dalam QS. al-Baqarah ayat 152

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ ١٥٢

Artinya:

Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

Dalam sebuah hadits Qudsi juga dijelaskan tentang keutamaan berdzikir ini

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ، وَفَضْلُ كَلاَمِ اللهِ عَلَى سَائِرِ الكَلاَمِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ.

Artinya:

Dari Abu Sa’id al-Khudzri r.a., berkata, Rasulullah saw. bersabda:
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “ Barang siapa sibuk membaca al-Qur’an dan berdzikir sampai tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, maka Aku akan memberinya anugerah yang lebih berharga daripada yang Aku berikan kepada para pemohon. Ketahuilah, nilai firman Allah lebih tinggi dari semua perkataan makhluk seperti ketinggian Allah dibanding makhluk-Nya.” (HR. at-Tirmidzi)

Berkaitan keutamaan dzikir ini, memang sangat banyak sekali keutamaannya…, tetapi perlu kita ingat… kita hidup di dunia ini juga membutuhkan pertolongan Allah.

Hal ini seperti yang tercantum dalam QS al-Fatihah yang berbunyi ‘iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin’ yang artinya hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.

Selama hidup di dunia ini, alangkah baiknya jika kita tidak menjadi tipe manusia yang memohon pertolongan saja alias terus-terusan meminta…. tapi jangan juga menjadi tipe orang yang hanya menyembah dan memuji saja kepada Allah tanpa memohon pertolongan dari-Nya. Karena hal ini bisa menyebabkan diri kita menjadi sombong, seolah-olah bisa hidup tanpa campur tangan Allah.

Maka, meski sudah terjamin hidupnya, para nabi dan rasul pun tetap berdoa dan memohon pertolongan dalam segala hal. Hal ini juga dijelaskan dalam hadits Qudsi yang lain, dimana Allah swt. juga berfirman : “Barang siapa yang tidak berdoa, maka aku akan marah kepadanya (Hadits Qudsi Riwayat Abu Hurairah r.a).

Menyembah dan Memohon Pertolongan-pun Harus Sesuai Takaran

Jika dalam salah satu QS al-Fatihah, ada ayat yang berbunyi ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin’, maka jangan sekali-kali kita membalikkannya menjadi ‘iyyaaka nasta’iin wa iyyaaka na’budu’ yang jika diartikan menjadi hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan dan hanya kepada-Mu kami menyembah. Hal ini tentu bisa menjadi salah kaprah..

Meminta atau memohon pertolongan itu memang perlu… tapi jangan sampai dengan terlalu seringnya kita memohon permintaan atau pertolongan, praktek menyembah kita, baik itu membaca dzikir (tasbih, tahmid, takbir dan tahllil), membaca al-Qur’an, dan bersholawat, kita jadikan yang nomor dua.

Sebagai seorang hamba Allah, sudah sewajarnya kita mengutamakan pengabdian atau penghambaan kita kepada-Nya. Baru kemudian setelah itu kita berusaha dan ber-ikhtiar melalui berbagai cara yang positif agar ibadah dan tujuan kita hidup di dunia ini bisa terlewati tanpa melupakan Raja dari Segala Raja.

Semoga dengan sedikit kajian mengenai ayat dzikir di atas bisa menjadi bahan renungan dan instropeksi kita bersama. Sehingga bisa lebih memperbanyak porsi memuja dan memuji kita kepada Allah swt, daripada porsi kita meminta . Aaamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Sumber:

Moh. Ali Aziz, Hidup Masih Koma, Belum Titik, (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo), 2019
Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin Ad-Dhahhak, Sunan at-Tirmidzi, (dalam Software al-Maktabah al-Syamilah v. 3.48)
Software Qur’an in Ms. Word v. 2.2
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v. 1.1

Gambar oleh Tayeb MEZAHDIA dari Pixabay