Kehidupan Dunia adalah Permainan dan Senda Gurau (Tafsir QS. al-An’am: 32)

Home » Kehidupan Dunia adalah Permainan dan Senda Gurau (Tafsir QS. al-An’am: 32)

Tafsir kehidupan di dunia itu adalah permainan dan bersendau-gurau (QS. al-An’am: 32)

“ Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka….”

Ayat di atas menjelaskan kita sebagai seorang muslim untuk selalu ingat dan waspada terhadap apa yang kita kerjakan di dunia ini, hal ini tentunya dikarenakan manusia fitrah manusia sendiri yang diberikan nafsu oleh Allah SWT, yang mana dengan nafsu tersebut, hidup kita bisa melebihi derajat seorang malaikat, atau bisa jadi karena nafsu itulah derajat hidup seseorang bisa lebih rendah daripada binatang.

Hidup di dunia bagi seorang yang bertakwa mempunyai pengertian tinggi, karena ia tahu dan sadar kenapa ia dilahirkan di dunia, oleh sebab itulah ayat di atas menjadi sebuah pegangan hidup, yang mana orang tersebut harus melakukan aktifitas yang ada di dunia seperti biasanya tanpa melupakan Sang Kholiq, sehingga terjalinlah suatu sinkronisasi antara Sang Kholiq dengan makhluq dimanapun dan kapanpun, hingga akhir hayatnya.

Dalam kitab Tafsir al-Manar diterangkan bahwa lafadz la’ibun (permainan) adalah: “Suatu perbuatan yang dilakukan oleh pelakunya bukan untuk suatu tujuan yang wajar, yakni mengakibatkan manfaat atau mencegan madharat” sedang lahwun “adalah suatu perbuatan yang mengakibatkan lengahnya seseorang dari pekerjaannya yang lebih bermanfaat dan penting”, sehingga dengan demikian segala sesuatu yang mengakibatkan kesenangan adalah lahwun.[1]

Selanjutnya, dikutipnya pendapat Ar-Raghib Al-Asfahani dengan kesimpulan sementara bahwa lahwun jika disebutkan tanpa dibarengi oleh suatu kata, maka ia berarti segala sesuatu yang menyibukkan seseorang dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya atau kesedihan-kesedihannya; kesibukan tersebut dapat berupa permainan, nyanyian, atau apa saja yang mendatangkan kegembiraan.[2]

Pengertian ini menurut Rasyid Ridha selanjutnya dapat lebih luas lagi sehingga ia terkadang berarti segala sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan walaupun bukan dengan tujuan menyibukkan diri dari sesuatu yang lebih penting dan berguna.

Menurut Rasyid Ridha, mencari rahasia didahulukannnya la’ibun atau lahwun tidaklah merupakan hal yang sulit, bahkan tidak perlu dipertanyakan karena hal tersebut merupakan urutan-urutan kronologis yang wajar bagi kehidupan manusia seperti yang dijelaskan dalam ayat 20 surah al-Hadid:

“Bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak”…

Ayat ini bermula dengan la’ibun karena hal itulah gambaran dari orang yang belum mempunyai pikiran, gambaran itulah yang bisa kita lihat, seperti permulaan perkembangan dan pertumbuhan manusia sebagai bayi , yang merasakan lezatnya permainan walaupun ia sendiri melakukannya tanpa tujuan apa-apa kecuali bermain.

Setelah itu disebutkan lahwun karena hal itu tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang yang telah memiliki sedikit pikiran, bukan oleh seorang bayi. Setelah itu disusul dengan al-zinatu(perhiasan) karena yang demikian itulah sifat remaja, setelah itu tafakhuru(berbangga-bangga) karena itulah sifat pemuda dan diakhiri dengan takatsurudi al-amwal wa al-awlad (memperbanyak harta/anak) karena itu adalah sifat kebanyakan orang dewasa.

Baca juga: Amalan dan Doa Mendapatkan Keturunan yang Sholeh Sholehah

Kontekstualisasi ayat

Bagi seorang manusia merupakan sebuah hal yang wajar ketika mempunyai kebutuhan untuk bermain dan bersendau gurau dengan temannya yang lain, karena hal tersebut menjadikan sarana saling mengenal dan merupakan media komunikasi sosial bersama-sama antara satu dengan yang lainnya. Namun juga perlu diperhatikan pula bahwa ketika bermain, bersendau gurau, melebihi batas kebutuhan seseorang tentu itu kurang pas, hingga menyebabkan dirinya menjadi lupa diri.

Ini bisa kita lihat melalui fenomena sosial yang ada semisal adanya kumpulan-kumpulan atau komunitas yang mana awalnya rukun-rukun saja, akan tetapi gara-gara hal sepele semuanya menjadi terpecah belah, dan perpecahan itu terjadi karena mereka yang berada dalam komunitas tersebut mempunyai pemikiran yang berbeda-beda seperti yang dijelaskan pada ayat di atas mulai dari berbangga-bangga pada diri sendiri serta memperbanyak harta dan anak-anaknya.

Ini juga bisa kita rasakan dalam ranah hukum yang mana istilah orang bilang tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas, dan tentunya kita juga bisa merasakan hal tersebut ada di sekitar kita, belum lagi ditambah dengan diri kita sendiri yang harus tahu kapan membagi waktu, karena jika tidak, tentu kita akan masuk kategori dalam orang yang senang bermain dan bersendau gurau

Dari sinilah dua ayat di atas menjadi peringatan bagi kita bersama bahwa sesungguhnya kehidupan dunia adalah permainan dan sendau gurau semata , yang perlu kita lakukan bersama adalah mengubah mind set dan gaya hidup diri sendiri, dunia harus tetap kita jalani tapi kita juga harus tahu untuk apa semua ini.

Pada dua ayat di atas juga memberikan gambaran kepada kita untuk menggunakan akal kita kenapa kehidupan dunia adalah permainan dan sendau gurau semata , ini terlihat dari dua akhir ayat tersebut yang ada pada QS. Al-An’am: 32, berbunyi afalaa ta’qiluun (maka apakah kamu mengerti), dan yang ada pada QS. Al-Hadid: 20 berbunyi illaa mataa’ul ghuruur (kecuali kesenangan yang palsu).

Dari akhir ayat itulah, kita juga tahu banyak komunitas yang memperdulikan fakir miskin, dan orang yang tidak mampu, karena mereka yang berada dalam komunitas itu sadar kenapa sebuah komunitas itu dibentuk tidak lain hanyalah untuk saling menghormati, menghargai, toleransi dan tahu diri bahwa dihadapan Tuhan semuanya sama dan yang berbeda hanyalah adalah iman.

Sumber:

[1] Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, juz VII. h. 303
[2] Al-Raghib al-Ashfihani, Mu’jam Mufradat al-Qur’an, (Beirut: Dar al-‘Ilm al-Dar al-Syamiyah, 1412 H), h. 748

Tinggalkan Balasan