Hukum Belajar Tajwid

Home » Hukum Belajar Tajwid

Belajar Mengaji Al-Qur’an (1)

Hukum Mempelajari Tajwid

Sebelum belajar tajwid, pasti sudah banyak yang mau tanya, kenapa sih kita harus belajar tajwid segala. Terus apa manfaatnya buat diri kita , lebih-lebih bagi orang lain. Terlebih di era yang serba modern gini, kan sudah banyak alat-alat canggih yang ngebantuin belajar tajwid, jadi nggak usah perlu manggil guru ngaji segala, sudah bisa belajar sendiri.

Tapi buat sebagian orang, mereka tahu diri, enggak disuruh oleh siapapun mereka mau belajar ilmu tajwid dengan pelan-pelan dan seksama, nggak terburu-buru. Karena mereka tahu yang namanya belajar ilmu tajwid al-Qur’an pasti butuh waktu dan kesabaran.

Jika ada program wajib belajar sembilan tahun, maka kita juga harus tahu bahwa belajar tajwid al-Qur’an bisa lebih atau kurang dari sembilan tahun. Ini semua tentu tergantung dari keseriusan dan ke-istiqomah-an masing-masing.

Baca juga: Belajar Huruf Qolqolah Kubro dan Sughro

Sebenarnya Apa sih Tajwid itu ?

Tajwid menurut bahasa (etimologi) adalah membaguskan atau mendatangkan bacaan dengan baik. Sedangkan menurut istilah (terminologi) adalah ilmu yang dengannya kita dapat mengetahui bagaimana cara mengucapkan huruf-huruf al-Qur’an, baik tebal (tafkhim) maupun tipisnya (tarqiq-nya), panjang (mad) dan pendek (Qoshor-nya), sifat-sifatnya, serta cara membaca huruf tertentu bila bertemu dengan huruf hijaiyah lainnya dengan baik.[1]

Dari sini , kita belajar memberikan hak-hak kita pada huruf tersebut dengan baik sehingga ketika membaca al-Qur’an, bacaan kita menjadi baik dan benar dan untuk di dengar. Jika kita sering ngomongin tentang hak asasi manusia bahkan sampai hak cipta dan hak lain-lainnya.

Maka, jangan lupa ketika kita belajar tajwid, ternyata kita juga harus memberikan hak kepada huruf-huruf tersebut. Karena jika huruf tadi tidak diberikan haknya, pasti akan terjadi kekacauan dalam membaca al-Qur’an. Misalnya saja, bacaannya kurang enak di dengar telinga atau malah terbolak-balik dalam membaca huruf tersebut.

Terus, Gunanya Tajwid untuk apa?

Tidak jauh dari keterangan di atas, kegunaan tajwid adalah untuk:

  1. Agar lisan kita tetap terjaga dari kesalahan-kesalahan ketika membaca ayat-ayat al-Qur’an.
  2. Agar ayat al-Qur’an yang kita baca sesuai dengan ketentuan-ketentuan bahasa Arab, mulai dari pengucapan hurufnya, sifat-sifat hurufnya dan kaidah –kaidah yang telah ditetapkan oleh para Ulama Ahlul Qurro.( Ahli dalam Bacaan dan Membaca)

Lalu, Hukumnya Mempelajari Ilmu Tajwid Gimana?

Mayoritas Ulama’ berpendapat bahwa hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardhu kifayah artinya, jika ada sekelompok manusia atau desa, dan ada satu orang yang telah mempelajarinya, maka gugurlah dosa dari seluruh warga kelompok atau desa tersebut.

Sedangkan untuk mengamalkannya adalah fardhu ‘ain artinya, wajib bagi tiap-tiap laki-laki dan perempuan untuk menggunakan tajwid ketika membaca al-Qur’an.

Ini seperti yang dijelakan oleh Ibnu al-Jazari dalam kitabnya al-Jazariyah yang menjelaskan bahwa:

وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لاَزِمُ … مَنْ لَمْ يُجَوْدِ الْقُرَآنَ آثِمُ

“Mengamalkan ilmu tajwid adalah merupakan kewajiban yang pasti (fardhu ‘ain), siapa saja yang tidak menggunakan tajwid ketika ia membaca al-Qur’an, maka ia berdosa”[2]

Baca juga: Hukum Bacaan Tafkhim dan Ro Tarqiq

Cara Membaca al-Qur’an

Untuk membaca al-Qur’an sendiri ada tata caranya (maksudnya mulai dari yang dibaca pelan-pelan, sampai yang dibaca cepat):

  1. Tahqiq (تحقيق): Membaca al-Qur’an dengan menempatkan hak-hak huruf (makhrojul huruf atau tempat keluarnya huruf-huruf , sifat hurufnya, panjang pendeknya, tebal (tafkhim) dan tipisnya (tarqiq), dan lain sebagainya. Metode ini sangat baik untuk para pemula.
  2. Tartil (ترتيل): Membaca al-Qur’an dengan pelan-pelan (tidak terburu-buru), sembari mencermati atau menghayati arti dan maknanya bagi yang sudah mampu.[3]
  3. Tadwir (تدوير): Membaca al-Qur’an dengan bacaan yang cepat dan bacaan yang pelan atau sedang.
  4. Hadr (حدر): Membaca al-Qur’an dengan sangat cepat, sehingga seperti tidak jelas dalam menyuarakannya

Nah itulah beberapa methode atau cara membaca al-Qur’an, dan semuanya harus memakai aturan (tajwid) yang sudah ada, sehingga bacaan yang tetap utuh dan terjaga kesempurnaanya tidak perduli cepat atau pelan.

Tapi buat yang nulis sama yang baca, pantesnya pakai yang nomor satu saja tahqiq, sembari belajar makna dan artinya….

Sumber:

[1]M. Qomari Sholeh, Ilmu Tajwid, (Jombang: Tivaza, 2002), 9
[2]Ibnu al-Jazari, al-Jazariyah, (ttp,tt), DVD al-Maktabah al-Syamilah, juz, I, h. 4
[3] Bacaan tartil ini belum tentu tahqiq, tapi kalau bacaan itu tahqiq sudah pasti tartinya

One Reply to “Hukum Belajar Tajwid”

Tinggalkan Balasan