Hadits Tentang Tiga Macam Kuda (Gambaran Harta yang Menjadi Sumber Pahala atau Dosa Bagi Empunya)

Home » Hadits Tentang Tiga Macam Kuda (Gambaran Harta yang Menjadi Sumber Pahala atau Dosa Bagi Empunya)

Sudah menjadi sesuatu yang wajar manakala seseorang mendapatkan atau memperoleh suatu harta benda hatinya akan menjadi bertambah senang dan gembira. Karena dengan bertambahnya harta benda tersebut, biasanya orang akan menjadi lebih bersemangat dalam menjalankan pekerjaan atau ibadah yang sedang dilakukannya.

Namun demikian, yang namanya limpahan harta, apapun bentuknya pasti bisa berpengaruh bagi orang yang memilikinya. Dengan limpahan harta inilah, kejiwaan ataupun kepribadian seseorang juga bisa terpengaruhi. Pengaruh disini tentu lebih kepada apa yang akan dilakukannya dengan limpahan harta tersebut.

Apakah limpahan harta tersebut akan berdampak positif atau malah sebalikya mempunyai dampak buruk bagi kehidupan seseorang tersebut. Hal seperti ini tentu saja kembali kepada yang empunya limpahan harta tersebut. Untuk apa limpahan harta yang diberikan oleh Allah swt. dipergunakannya?

Dalam kesempatan kajian hadits kali ini, kita akan membahas satu hadits yang secara teks, hadits ini membahas tentang pembagian tiga macam kuda, tetapi secara tidak langsung kuda yang dimaksud dalam hadits ini bisa mempunyai arti lain yaitu, harta.

Teks hadits dan Terjemahnya

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ،  عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:

” الخَيْلُ لِثَلاَثَةٍ: لِرَجُلٍ أَجْرٌ، وَلِرَجُلٍ سِتْرٌ، وَعَلَى رَجُلٍ وِزْرٌ، فَأَمَّا الَّذِي لَهُ أَجْرٌ فَرَجُلٌ رَبَطَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَأَطَالَ لَهَا فِي مَرْجٍ أَوْ رَوْضَةٍ، وَمَا أَصَابَتْ فِي طِيَلِهَا مِنَ المَرْجِ أَوِ الرَّوْضَةِ كَانَتْ لَهُ حَسَنَاتٍ، وَلَوْ أَنَّهَا قَطَعَتْ طِيَلَهَا فَاسْتَنَّتْ شَرَفًا أَوْ شَرَفَيْنِ، كَانَتْ أَرْوَاثُهَا حَسَنَاتٍ لَهُ، وَلَوْ أَنَّهَا مَرَّتْ بِنَهَرٍ فَشَرِبَتْ وَلَمْ يُرِدْ أَنْ يَسْقِيَهَا، كَانَ ذَلِكَ لَهُ حَسَنَاتٍ، وَرَجُلٌ رَبَطَهَا تَغَنِّيًا وَسِتْرًا وَتَعَفُّفًا، وَلَمْ يَنْسَ حَقَّ اللَّهِ فِي رِقَابِهَا وَظُهُورِهَا فَهِيَ لَهُ كَذَلِكَ سِتْرٌ، وَرَجُلٌ رَبَطَهَا فَخْرًا وَرِيَاءً وَنِوَاءً لِأَهْلِ الإِسْلاَمِ فَهِيَ وِزْرٌ “

وَسُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الحُمُرِ فَقَالَ: ” مَا أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهَا إِلَّا هَذِهِ الآيَةُ الجَامِعَةُ الفَاذَّةُ: {فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ} [الزلزلة: 8] “(رواه البخاري)

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah, dari Malik, dari Zaid bin Aslam, dari Abi Shalih bin as-Sammaan, dari Abu Hurairah r.a. , dari Nabi saw. beliau bersabda:

“Kuda itu ada tiga macam. Kuda bagi seseorang menjadi pahala, kuda bagi seseorang menjadi pelindung dan kuda bagi seseorang menjadi dosa.

Adapun kuda yang mendatangkan pahala adalah kuda seseorang yang dipangkal untuk fiisabilillah, ia banyak berdiam di padang rumput atau di taman. Maka apa saja yang dimakan oleh kuda itu selama dipangkal di padang rumput atau di taman itu, maka pemiliknya mendapat pahala-pahala kebajikan. Dan sekiranya ia meninggalkannya lalu mendaki satu atau dua tempat tinggi, maka jejak dan kotorannya menjadi pahala-pahala kebajikan baginya. Maka dari itu kuda seperti itu menjadi pahala bagi pemiliknya.

Dan seseorang yang mengikat kudanya karena ingin menjaga kehormatan diri (tidak minta-minta) dan orang tersebut tidak lupa akan hak Allah swt. pada leher ataupun punggung kuda itu, maka kuda itu menjadi pelindung baginya.

Dan kuda yang diikat (dipangkal) oleh seseorang karena kebanggaan, riya dan memusuhi orang-orang Islam, maka kuda itu mendatangkan dosa baginya”

Dan Rasulullah saw. ditanya tentang keledai, maka Beliau menjawab: “Tidak ada wahyu yang diturunkan kepadaku tentang itu kecuali ayat tujuh sampai delapan Surah Al-Zalzalah, yang mencakup banyak faedah:

فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ ٧  وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ ٨

(“Maka barangsiapa yang beramal kebaikan seberat biji sawi maka dia akan melihat balasannya dan barang siapa yang beramal keburukan seberat biji sawi maka dia akan melihat balasannya”). (HR. Bukhari)

Kedudukan dan Isi Hadits

Berdasarkan penelusuran penulis, hadits di atas masuk dalam kategori hadits marfu’, yaitu hadits yang disandarkan kepada Nabi saw., baik itu perkataan, perbuatan atau ketetapan dari beliau.

Jika kita memahami hadits di atas, secara langsung, sudah pasti yang dimaksud dalam hadits di atas adalah hewan kuda dalam wujud yang sebenarnya. Dimana dengan kuda tersebut seseorang bisa ikut berperan dan aktif dengan cara mengikutkan kudanya untuk ikut berjuang di jalan Allah.

Di samping itu juga, dengan terpeliharanya seekor kuda dengan baik dan teratur , orang tersebut berarti ingin menjaga kehormatannya, yakni tidak termasuk dalam golongan atau kelompok yang lemah. Hal ini tentunya 

Adapun yang terakhir, adalah masuk dalam golongan orang-orang yang memusuhi agama Islam, karena mereka menggunakan kuda tersebut hanya untuk pamer harta, serta untuk kepentingan pribadi, tanpa memperdulikan orang lain yang sedang membutuhkan bantuan dari orang tersebut.

 Kontekstualisasi Hadits.

Jika kita mau cermati lebih dalam, maka hadits di atas secara tidak langsung memberikan gambaran kepada kita semuanya bahwa yang namanya limpahan harta atau yang dalam hadits di atas disebut dengan penggunaan kata ‘kuda’. Pasti akan mempunyai efek khusus bagi yang mempunyainya.

Maksudnya apa, ketika kita memegang ‘kuda’ tersebut, akan diarahkan kemana tujuannya pasti tidak bisa lepas dari orang yang menungganginya. Apakah akan digunakan atau diajak untuk kepentingan bekerja dan berjuang di jalan Allah , ataukah digunakan untuk kepentingan bersama, atau hanya untuk pamer harta dalam wujud kuda semata.

Harta dalam bentuk fisik seperti kendaraan baik itu mobil ataupun motor, tentu bisa kita jadikan contoh mudah untuk mengkontekstualisasikan hadits tentang tiga jenis macam kuda di atas.

Pertama, (ketika) seseorang yang mempunyai kendaraan, lalu kendaraan tersebut diberikan kepada suatu lembaga atau yayasan yang membutuhkan dan memerlukan alat transportasi dengan ikhlas untuk mendukung kegiatan yang dilaksanakannya.

Maka, orang yang memberikan kendaraan tersebut tentu mendapatkan pahala dari kendaraan yang di-hibah-kan kepada lembaga atau yayasan tersebut.

Kedua, seseorang yang mempunyai kendaraan, yang dengan kendaraan tersebut seseorang tidak hanya bisa beraktifitas dan bekerja tetapi juga bisa memenuhi kepentingan keluarga, atau bahkan kepentingan tetangga atau masyarakat yang memang membutuhkan bantuan fasilitas kendaraan tersebut .

Ketiga, seseorang yang mempunyai kendaraan, tetapi kendaraan tersebut hanya untuk berbangga diri (pamer)  sehingga sampai melupakan dari mengingat Allah swt. . Maka, dengan kendaraan yang seperti inilah, bukannya mendatangkan manfaat, akan tetapi mendatangkan mudharat.

Dari kontekstualisasi hadits di atas, tentu dapat memberikan kesadaran kita bersama bahwa ketika kita sedang mendapatkan limpahan harta, apapun bentuknya. Maka, jangan lupa untuk senantiasa untuk mengingat Dzat Yang Maha Memberi, Allah swt.

Dengan mengingat selalu akan Dzat Yang Maha Memberi, tentu saja akan membuat diri kita bisa mengerjakan sesuatu secara lebih maksimal, baik untuk hablummnallaah ataupun untuk hablumminannaas.

Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. Semoga bermanfaat

Sumber:

Software al-Mausu’ah al-Hadits al-Syarifah v. 3.48
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v. 1.1
https://almanhaj.or.id/370-adab-terhadap-hewan.html , (diakses tanggal 30 November 2019)

Gambar oleh Wolfgang Claussen dari Pixabay