Hadits Tentang Sampaikanlah Dariku Walaupun Satu Ayat

Home » Hadits Tentang Sampaikanlah Dariku Walaupun Satu Ayat

Walaupun Satu Ayat…, Tetap Cermati dan Teliti Lebih Dahulu Sebelum Disampaikan

Semangat dalam menyebarkan agama Islam tentu saja harus kita praktekkan dalam keseharian kita masing-masing. Mulai dari perkataan, perbuatan dan aktifitas sehari-hari yang kita lakukan. Perintah untuk “sampaikanlah (apa-apa) dariku meskipun hanya satu ayat” tentu menjadi penyemangat dalam menyebarkan agama Islam.

Namun, perlu kita ketahui bersama, bahwa dalam menyebarkan atau sharing suatu ayat atau hadits dari Nabi saw. ini haruslah kita mengetahui terlebih dahulu secara lengkap terlebih dahulu tentang apa-apa saja yang berkaitan dengan ayat atau hadits tersebut.

Sehingga, ketika menyebarkan bunyi suatu ayat atau hadits, minimal kita tidak asal-asalan dalam mengutip dan memotongnya. Termasuk juga dalam menyampaikan tentang hadits yang berbunyi ballighuu ‘annii walau aayah itu sendiri.

Teks Hadits dan Artinya

Hadits ballighuu ‘annii walau aayah ini sebenarnya tercantum tidak hanya dalam satu kitab hadits saja, melainkan juga ada di beberapa kitab hadits lainnya. Namun, disini kami cantumkan yang bersumber dari kitab hadits Shahih al-Bukhari saja.

Adapun teks lengkap dari hadits tersebut adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ، أَخْبَرَنَا الأَوْزَاعِيُّ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي كَبْشَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:
«بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ» (رواه البخاري)

Artinya:
Telah bercerita kepada kami Abu ‘Ashim al-Dhahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami al-Awza’iy, telah bercerita kepada kami Hassan bin ‘Athiyyah dari Abi Kabsyah dari Abdullah bin ‘Amr, bahwa Nabi saw. bersabda:

“ Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Israil dan itu tidak apa (tidak dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah untuk menempati tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari)

Penting dan Wajib Diketahui

Dalam Kitab Shahih al-Bukhari, perlu kita ketahui bersama bahwa hadits ballighuu ‘annii walau aayah ini masuk dalam bab yang berkaitan dengan Bani Israil. Dikarenakan penyampaiannya yang hanya sepotong-sepotong itulah, kita menjadi tidak mengetahui keseluruhan dari isi yang sebenarnya dari hadits tersebut.

Lalu, apa saja yang wajib kita ketahui dari hadits di atas tersebut. Ada tiga point penting yang seharusnya bisa kita ambil pelajaran dari hadits tersebut.

Pertama, hadits di atas berbicara mengenai penyampaian suatu informasi. Perlu kita ketahui bersama bahwasannya ketika nabi menyampaikan suatu informasi, baik itu berupa wahyu al-Qur’an ataupun hadits. Tidak semua sahabat nabi mendengar dan mengetahuinya. Mungkin hanya berjumlah satu atau mungkin lima sahabat saja.

Dari sinilah ada riwayat lain yang mana nabi juga menjelaskan: “ …. Hendaklah kalian yang hadir menyampaikannya kepada yang berhalangan tidak hadir .” (HR. Bukhari)

Kedua, ketika menyampaikan atau mengutip suatu hadits hendaknya disampaikan secara lengkap, jelas, serta detail. Hal ini agar dalam memahami suatu hadits tidak setengah-setengah saja.

Termasuk dalam mengutip hadits di atas, jangan hanya sepotong-sepotong. Padahal kita tahu bunyi hadits tersebut, juga menjelaskan yang disampaikan bukan hanya dari nabi saja tetapi juga dari Bani Israil juga boleh untuk disampaikan dan tidaklah berdosa.

Jangan hanya dikarenakan kepentingan tertentu kita lantas memangkas hadits dengan seenaknya sendiri, agar apa yang menjadi keinginan individu seseorang bisa menjadi terwujud. Hal yang seperti ini tentulah tidak dibenarkan oleh agama.

Ketiga, adanya larangan bagi siapa saja agar tidak berbuat dusta atas nama Nabi Muhammad saw. Maksudnya, mengada-ada atau berkata bahwasannya Nabi Muhammad saw. pernah melakukan perbuatan ini dan itu. Padahal, perbuatan tersebut sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Nabi sendiri.

Siapapun yang melakukan perbuatan bohong dan dusta seperti itu, maka ketahuilah bahwa kelak akan ditempatkan di neraka. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam akhir hadits tersebut.

Jangan Asal-Asalan CopyPaste Materi

Sebagai seorang muslim yang sedang dalam proses belajar bersama terutama, baik di lingkungan sekolah, kerja ataupun masyarakat luas. Tentunya menyampaikan materi ataupun informasi kepada teman-teman lainnya yang tertinggal materi dalam proses belajar tersebut adalah sesuatu yang harus dilaksanakan.

Bisa jadi mereka tertinggal materi dan tidak bisa mengikuti proses belajar bersama dikarenakan berhalangan hadir. Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk memberi tahu kepada mereka tentang materi apa saja yang sudah mereka lewati dan begitu pula sebaliknya.

Selain itu juga, agar mereka juga bisa tahu dari mana sumber utamanya dan tidak asal-asalan dalam menerangkan suatu ayat ataupun hadits. Ibarat kata, tidak sekedar asal potong atau copypaste saja, tanpa mengetahui dan menyertai konteks, serta dalil atau argumen-argumen yang mendukung dari suatu ayat atau hadits tersebut.

Kesimpulan

Dari sedikit penjelasan di atas, dapat kita ambil beberapa kesimpulan yaitu:

  1. Meskipun sama-sama menyampaikan suatu informasi, baik itu berkaitan dengan ayat al-Qur’an ataupun hadits nabi, tidak boleh asal-asalan begitu saja. Minimal kita tahu teks lengkapnya, dan syukur bisa tahu konteks dari ayat atau hadits itu terlebih dahulu. Sehingga membuat informasi menjadi akurat
  2. Menyampaikan suatu informasi yang bersifat umum tentu saja juga harus dengan bahasa yang mudah dipahami oleh kaum awam. Berbeda ketika informasi yang disampaikan ini bersifat khusus, dan butuh kajian lebih dalam. Maka, bisa menggunakan bahasa dari golongan atau komunitas itu sendiri.
  3. Diperbolehkannya menyampaikan suatu cerita dari Bani Israil. Artinya tidak berdosa ketika kita menyampaikan cerita atau apa saja yang berkaitan dengan Bani Israil.
  4. Menyampaikan atau memberitakan sesuatu yang disandarkan kepada nabi, haruslah sesuatu yang benar tidak sembarangan. Karena ketika seseorang berdusta atas nabi maka tempat kembalinya adalah neraka.
  5. Ketika seseorang tidak mengetahui informasi ataupun materi yang bersumber dari al-Qur’an atau hadits nabi. Maka, hendaknya orang tersebut menanyakan informasi tersebut kepada orang yang memang ahli di bidangnya. Seperti yang dijelaskan dalam QS. an-Nahl (16): 43, yang artinya: “ … maka bertanyalah kepada orang yang ahli di bidangnya jika kamu tidak mengetahui”.

Demikianlah materi singkat yang bisa kami sampaikan. Semoga dengan membaca materi ini bisa menambah pemahaman kita dalam pentingnya mengkaji dan memahami suatu ayat atau hadits nabi, ketika ingin membagikannya kepada saudara-saudara ataupun teman-teman kita. Semoga bermanfaat..

Sumber:
Hosen, Nadirsyah, Saring Sebelum Sharing: Pilih Hadits Shahih, Teladani Kisah Nabi Muhammad saw., dan Lawan Berita Hoaks, (Yogyakarta: Bentang), 2019
Muhammad bin Isma’il bin al-Mughirah, Shahih al-Bukhari, (ttp: Dar Thauq an-Najah, 1422 H), (diambil dari Software al-Maktabah al-Syaamiliah v. 3.42)
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v1.1
https://muslim.or.id/6409-sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html (diakses tanggal 29 Agustus 2019)

Gambar oleh Bruno Glätsch dari Pixabay