Gambaran Persaudaraan dan Kasih Sayang Umat Islam yang Tiada Putus-nya (Tafsir QS. al-Hasyr (59) Ayat 10)

Home » Gambaran Persaudaraan dan Kasih Sayang Umat Islam yang Tiada Putus-nya (Tafsir QS. al-Hasyr (59) Ayat 10)

وَالَّذِيْنَ جَآؤُ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلَّا لِّلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفُ الرَّحِيْمٌ

Artinya:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”   (Al-Hasyr (59) :10)

Kandungan QS al-Hasyr ayat 10 di atas, mempunyai kandungan erat dengan ayat-ayat sebelumnya, yang menggambarkan bentuk kepedulian dan kemuliaan yang sangat tinggi dari kaum anshar (penduduk kota Madinah) yang menyambut kedatangan kaum muhajirin (penduduk kota Makkah)

Dalam hal ini penduduk kota Madinah melayani pendatang dari kota Makkah dengan senang hati, dan suka memberi. Bahkan, sampai ada yang mengorbankan kepentingan diri dan keluarganya demi kenyamanan mereka.

Oleh karena itulah Allah swt. memberikan pujian atau kepada mereka dengan cara generasi-generasi yang hidup sesudahnya senantiasa memohonkan ampunan kepada mereka (kaum anshar dan muhajirin) dan memohon kekuatan  agar bisa meniru dan mengikuti akhlak, dan perilaku mereka yang begitu mulia

Empat Pesan Penting dalam Persaudaran

Dalam QS. al-Hasyr ayat 10 di atas, setidaknya ada empat pesan penting yang terkandung di dalam-nya

Pertama, Pernyataan sebuah doa, hal ini tercantum dalam lafadz  رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا (Ya Tuhan kami, ampunilah kami).

Secara tidak langsung, ayat tersebut memerintahkan kita semua untuk terus-menerus mengkoreksi diri kita masing-masing. Apakah kita sudah menjadi seorang anak, suami, ayah, istri, atau ibu yang sudah layak dan baik? Atau apakah kita sudah mengerjakan pekerjaan kita sebagai pemimpin, guru, karyawan, atau yang lain-lainnya dengan baik dan benar?

Belum lagi, dengan ibadah shalat kita , apakah shalat kita sudah sampai pada tujuan yang sesuai dengan yang diajarkan oleh agama kita. Mampu membentuk sosok pribadi yang hidup dengan penuh optimis dan mampu membuat orang-orang kita menjadi tersenyum.

Penting kita ketahui, bahwa orang yang terbaik, bukanlah orang yang hidup tanpa dosa, tapi orang yang mengakui dosa-dosanya dan bertekad untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai harganya.

Kedua, kepedulian sesama muslim. Ha ini tercantum dalam dalam kalimat وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ (dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami,)

Kalimat ini tentu mengajarkan kita semua sebagai umat islam, untuk senantiasa peduli satu sama lain. Utamanya dalam hal memohonkan ampunan dari Allah terhadap dosa-dosa orang yang telah wafat lebih dahulu dari kita.

Rasa peduli antar sesama muslim seperti ini, bisa kita hubungkan manakala kita sebagai seorang muslim melewati suatu kuburan atau pemakaman, dan kemudian kita dianjurkan untuk membaca sebuah doa atau salam kepada mereka (ahli kubur) yang telah wafat mendahului kita.

Doa atau salam ini tentu sangatlah penting bagi mereka. Selain sebagai bentuk kepedulian kepada mereka. Hal ini tentu sebagai rasa kemanusiaan kita terhadap mereka yang dalam ayat lain dijelaskan menginginkan hidup kembali guna menggunakan waktunya kembali untuk beribadah dan berbuat baik.

Jika tidak maka jangan salah jika ada yang menyebut kita sebagai manusia yang sadis.

Ketiga, kesetaraan. Hal ini tercantum dalam kalimat  وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ (dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami)    

Maksudnya, pemakaian kata yang menghubungkan antara nabi dengan ummatnya, adalah ‘akhun’ yang mempunyai arti saudara.

Penggunaan istilah “saudaramu” atau “akhuukum atau bisa juga ikhwaaninaa ” ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa perlakuan nabi seperti ini menggambarkan tiadanya sebuah jabatan, tetapi kebersamaan, sehingga tidak ada istilah anak buah atau sebaliknya. Begitu pula kita sebagai ummatnya tentu tidak menyebutnya sebagai bapak buah.

Sebutan ‘saudara’ oleh nabi ini sendiri juga sebagai sebuah bentuk kesetaraan dan kepedulian. Bukan hanya kepada sahabatnya saja, tetapi juga pada umatnya.

Hal ini tercermin manakala beliau melewati sebuah kuburan dan mengucapkan doa yang artinya: Salam untuk kalian para penghuni kubur, sungguh suatu saat kami akan menyusul kalian atas kehendak Allah .

Keempat, rasa persaudaraan atau silaturahmi yang kental. Hal ini tercantum dalam potongan ayat وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ (dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman )

Keterangan ini, secara langsung memerintahkan agar kita senantiasa membersihkan hati kita dari segala penyakit hati (baik itu, kikir, dengki, benci, iri hati, dll). Semua itu, tidak lain agar hubungan persaudaraan kita, antara satu dengan yang lainnya bisa tetap terjaga dan hangat .

Menjaga kebersihan hati memang tidak semudah menjaga kebersihan muka/wajah. Karena menurut ulama ternama Ibnu Taymiyah, semua orang mempunyai potensi untuk berbuat dengki, hanya saja ada sebagian yang berhasil memeranginya, dan ada sebagian lagi yang malah melaksanakannya.

Bersihkan Hati dan Buka Rezeki

Penyakit hati berupa rasa benci, jengkel, iri hati, sombong dan lain sebagainya tentu saja akan membuat jalan rzeki kita menjadi tidak lancar bahkan bisa jadi tertutup, terlebih lagi dalam situasi dan kondisi di zaman modern seperti ini.

Proses pembersihan penyakit hati memang tidaklah mudah, tetapi mau tidak mau harus kita kerjakan, meskipun sedikit demi sedikit. Hal ini tentunya agar masa depan kita bisa menjadi lebih cerah, dan lebih baik. Syukur bisa membangun citra diri yang baik pula dengan orang banyak.

Di era modern seperti ini, sifat dan perilaku yang baik dan positif tentu lebih dibutuhkan dalam semua lini kehidupan. Dengan perilaku yang penuh dengan kehangatan, rasa sopan dan santun tentu akan membuat rasa kepedulian terhadap diri kita akan timbul, sehingga bisa membuat rasa persaudaraan semakin kuat dan erat.

Dengan kepedulian, kesetaraan dan hubungan persaudaraan yang erat inilah , kita tentu berharap pintu rezeki kita menjadi terbuka lebar dan bisa kita gunakan dengan sebaik-baiknya dan untuk tabungan amal ibadah kita.

Salah Satu Ungkapan Kasih Sayang Tiada Tara

Sebagian besar dari kita semua, tentu sudah hafal dari doa yang tercantum dalam QS. al-Hasyr ayat 10 ini. Doa ini tentu sering kita dengar diantaranya pada waktu pengajian umum, pengajian rutin, atau waktu sehabis sholat, terlebih ketika ada orang yang wafat.

Jika kita mau pelajari lebih lanjut dari doa tersebut. tentu kita akan mendapati bahwa betapa pentingnya memohon ampun, bukan hanya pada diri kita sendiri tetapi juga kepada orang-orang yang sudah wafat mendahului kita dalam kondisi beriman. Baik itu orangtua, kakek-nenek, buyut kita, bahkan sampai ke atas sampai dengan para sahabat-sahabat yang hidup di eranya Nabi Muhammad saw.

Kita semua berharap, semoga dengan membaca doa tersebut, hati kita semuanya bisa lebih tertata, dan syukur bisa membukakan pintu Rahmat dari Allah swt… Aamin yaa robbal ‘aalamiin

Sumber:
Moh. Ali Aziz, Hidup Masih Koma, Belum Titik., (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2019)
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v.1.1
Software Al-Qur’an Kemenag MS. Word

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay