Kisah Tunanetra Penyebab Turunnya Ayat (Asbabun Nuzul QS. Abasa (80) ayat 1-10)

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ ١ أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ ٢ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ ٣ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ٤ أَمَّا مَنِ ٱسۡتَغۡنَىٰ ٥ فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ ٦ وَمَا عَلَيۡكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ ٧ وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسۡعَىٰ ٨ وَهُوَ يَخۡشَىٰ ٩ فَأَنتَ عَنۡهُ تَلَهَّىٰ ١٠

Artinya:
“(1) Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. (2) karena telah datang seorang buta kepadanya. (3) Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). (4) Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya. (5) Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (6) Maka kamu melayaninya. (7) Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). (8) Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). (9) Sedang ia takut kepada (Allah). (10) Maka kamu mengabaikannya” (QS. ‘Abasa (80): 1-10)

Teks Hadits Asbabun Nuzul

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: أُنْزِلَتْ عَبَسَ وَتَوَلَّى فِي (ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ الْأَعْمَى) ، أَتَى إلى النبي صلى اللَّه عليه وسلم فَجَعَلَ يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرْشِدْنِي، وَعِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ رِجَالٌ مِنْ عُظَمَاءِ الْمُشْرِكِينَ، فجعل النبيُّ صلى اللَّه عليه وسلم يُعْرِضُ عَنْهُ، وَيُقْبِلُ عَلَى الْآخَرِينَ. فَفِي هَذَا أُنْزِلَتْ عَبَسَ وَتَوَلَّى.
( رَوَاهُ الْحَاكِمُ و الترْمذي
)

Artinya:
Dari ‘Aisyah r.a, berkata: “Diturunkannya Kalam Allah : ‘Abasa wa tawallaa, adalah berkaitan dengan peristiwa mendatanginya (Ibnu Ummi Maktum, seorang yang buta) kepada Nabi Muhammad saw. seraya berkata: “Wahai Rasulullah, berilah aku petunjuk”

Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy. Beliau berpaling dari Ibnu Ummi Maktum dan tetap menghadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ibnu Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan ?” Rasulullah saw. menjawab: “Tidak.” Ayat-ayat ini (‘Abasa: 1-10) turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw itu. (HR. at-Tirmidzi dan al-Hakim)

Pelajaran Berharga dari Sahabat Nabi yang Buta (Abdullah bin Ummi Maktum)

Dalam berbagai kitab-kitab tafsir, banyak riwayat yang menjelaskan bahwa diturunkannya Surat ‘Abasa ayat satu sampai sepuluh ini berkaitan dengan peristiwa didatanginya Rasulullah saw. oleh seseorang yang buta (Abdullah bin Ummi Maktum), ditengah-tengah seruan dakwahnya pada para pembesar Quraisy dengan harapan agar mereka mau menjadi beriman

Peristiwa ini terjadi di Makkah, dimana ketika Nabi Muhammad saw. sedang giat-giatnya menyerukan dakwah kepada para pembesar Quraisy. Diantara para pembesar Quraisy tersebut adalah: ‘Utbah dan Syaibah keduanya adalah putra dari Rabi’ah, Abu Jahal bin Hisyam, ‘Abbas bin Abdul Muthallib, Umayyah bin Khalaf dan al-Walid bin Mughirah.

Selain terkenal sebagai orang-orang yang punya jabatan dan kedudukan tinggi di kalangan Quraisy. Mereka (para pembesar Quraisy) juga mempunyai pengaruh terhadap anak buah atau bawahan mereka. Dengan mengajak mereka beriman, Nabi saw. berharap orang-orang terdekat, anak-buah dan bawahannya pun juga mau ikut beriman

Namun, ketika sedang giat-giatnya memberikan pemahaman tentang Islam, datanglah seseorang yang buta (Abdullah bin Ummi Maktum) dengan menyela pembicaran Nabi saw. dengan ucapan: “Ya Rasulullah, coba bacakan dan ajarkanlah kepadaku apa-apa yang telah Allah wahyukan kepadamu”.

Sebagai orang yang buta, Abdullah bin Ummi Maktum tentu tidak mengetahui kalau Nabi saw. sedang giat-giatnya mengenalkan Islam kepada mereka (para pembesar Quraisy). Merasa terganggu dengan ucapan Abdullah bin Maktum tersebut, Beliau seolah-olah tidak mendengar, dan memperlihatkan muka masam dan berpaling darinya, dan meneruskan tablighnya kepada mereka (para pembesar Quraisy).

Teguran Juga Buat Kita

Dari sinilah kemudian Allah swt. memberikan teguran kepada Nabi saw. tersebut yang telah bersikap demikian terhadap Abdullah bin Ummi Maktum. Setelah diturunkannya ayat tersebut Beliau sadar akan kesalahannya, dan kemudian Beliau menghadap ke Abdullah bin Ummi Maktum dan memperkenankan dengan apa yang dimintanya.

Sampai akhirnya dia (Abdullah bin Ummi Maktum) ini menjadi salah seorang yang disayangi oleh Nabi saw. Dimanapun bertemu dengannya, Beliau senantiasa menunjukkan wajah yang jernih dan berseri kepadanya, dan ketika melihatnya Beliau menyapanya dengan : “Wahai orang yang telah menyebabkan aku ditegur oleh Allah”

Berusaha… Agar Luar dan Dalam Bagus Semuanya

Jika kita cermati kronologi kejadian yang menjadi sebab turunnya ayat-ayat di atas, tentu bisa kita ambil hikmah dan pelajaran diantaranya sebagai berikut:

  1. Sebagai orang yang buta, Abdullah bin Ummi Maktum, dikenal sebagai sosok yang bersih dan cerdas hatinya. Dirinya mempunyai ingatan yang kuat untuk memelihara segala hikmah yang didengarnya, dan membersihkan diri dari berbagai kejelekan, keburukan kemusyrikan.
  2. Adapun dengan para pembesar Quraisy, meskipun berasal dari golongan orang-orang kaya dan berkedudukan tinggi, mereka adalah orang-orang yang angkuh. Tentu tidak sepantasnya Nabi saw. terlalu serius mengajak mereka untuk masuk Islam, karena tugasnya adalah sebagai orang yang menyampaikan risalah. Pemberian hidayah tentu berada pada kuasa Allah swt. semata.
  3. Kekuatan seorang manusia tidak hanya terletak pada harta, kedudukan, dan jabatan tertentu, yang menjadi andalannya, tetapi juga terletak pada cerdasnya pikiran, teguhnya hati , kesediaan untuk menerima dan melaksanakan kebenaran.
  4. Tidak diperbolehkannya mengabaikan suatu permohonan ataupun permintaan yang datang dari seseorang yang ingin mencari suatu kebenaran. Betapapun rendahnya kedudukan atau jabatan orang tersebut. Hal ini dikarenakan diterimanya suatu kebenaran adalah terletak pada kebeningan hati orang tersebut, dan bukan pada posisi ataupun jabatan, ataupun pengaruh orang tersebut.
  5. Larangan bermuka masam dan memalingkan muka dari orang lain bisa menimbulkan perasaan batin yang tidak enak bagi siapapun.

Semoga dengan membaca asbabun nuzul surat ‘Abasa di atas, bisa menjadi pelajaran dan renungan bagi kita masing-masing, dan bisa kita amalkan dalam keseharian kita. Aamiin Yaa Robbal ‘Alaamiin.  

Sumber :
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia), 1995
Shaleh, Qamaruddin, dkk, Asbabun Nuzul Latar Belakang Historis Turunnya Ayat al–Qur’an, (Bandung : PT. Diponegoro), 1982
Software Al-Maktabah al-Syaamilah v.3.48
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v1.1
Software Al-Qur’an Digital v.2.2