Pembagian Waqof Berdasarkan dari Jenisnya

Jika pada kesempatan yang lain kita sudah membahas tentang pembagian waqof dari pemakaiannya. Maka, pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang pembagian waqof berdasarkan dari jenisnya.

Pembagian waqof berdasarkan jenisnya ini tentunya juga harus menjadi perhatian bagi kita semuanya, agar supaya dalam proses membaca dan belajar al-Qur’an kita tidak asal-asalan dalam membaca al-Qur’an.

Selain itu, tetap bisa menjaga arti dan makna dari Kalam Allah yang berada dalam kitab al-Qur’an. Adapun dari jenis-jenis waqof tersebut adalah sebagai berikut:

1. Waqof Taam ( وقف تام )

Arti dari waqof taam ( وقف تام ) adalah waqof atau berhenti membaca pada akhir kalam (kalimat) yang sudah sempurna susunan kalimatnya, dan tidak berhubungan dengan kalam (kalimat) berikutnya baik dari segi lafadz ataupun maknanya.

Ketika kita berhenti pada waqof ini, diperbolehkan untuk melanjutkan kalam (kalimat) sesudahnya tanpa mengulangi kalam (kalimat) yang telah dihentikan sebelumnya. adapun tempat dari waqof taam ( وقف تام ) ini ada di beberapa tempat:

A. Terdapat pada akhir semua surat
B. Kebanyakan terletak di akhir ayat
C. Terletak di akhir- akhir cerita atau kisah (
qisshoh), atau golongan. Contoh:

… وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٥

Artinya:
“… dan merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. al-Baqoroh (2): 5)

Pada ayat satu sampai ayat lima dalam surat al-Baqoroh, Allah swt. telah menjelaskan perihal atau cerita tentang orang-orang mukmin yang beruntung, dan kemudian pada ayat selanjutnya (ayat enam) , Allah swt. melanjutkannya dengan perihal atau cerita yang sudah berbeda, yakni tentang perihal orang-orang yang kafir.

D. Terdapat di pertengahan ayat. Contoh:

لَّقَدۡ أَضَلَّنِي عَنِ ٱلذِّكۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَآءَنِي (waqof) وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِلۡإِنسَٰنِ خَذُولٗا ٢٩

Artinya:
“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Quran ketika al-Quran itu telah datang kepadaku. (hanya sampai sini saja ucapan orang dholim tersebut, dan kemudian dilanjutkan lagi dengan kalam Allah swt.) Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia” (QS. al-Furqon (25): 29)

E. Terletak di akhir ayat, kemudian ditambah sedikit atau satu kalimat di awal ayat. Contoh:

….. عَلَيۡهِم مُّصۡبِحِينَ ١٣٧ وَبِٱلَّيۡلِۚ …..

Artinya:
“ ……mereka di waktu pagi. (138) dan di waktu malam…”. (QS. Shoffaat (37): akhir ayat 137-awal ayat 138)

F. Terdapat sebelum huruf ya’ nida’, fi’il amar, qosam dan lam qosam. (Dengan catatan, semuanya tidak didahului oleh Qosam)

لو لا , ذلك , و كان الله , و ما كان الله

2. Waqof Kaafii ( وقف كافي )

Arti Waqof Kaafii ( وقف كافي ) adalah berhenti membaca pada akhir kalimat atau lafadh yang sudah sempurna susunan kalimat (i’rob-nya), akan tetapi masih mempunyai hubungan arti atau makna dengan kalimat selanjutnya.

Jika berhenti pada waqof kaafii ( وقف كافي ) ini, maka tidak perlu mengulangi kalimat yang sudah dihentikan tersebut.

Adapun Waqof Kaafii ( وقف كافي ) ini terdapat pada:

A. Kebanyakan di akhir ayat. Contoh:

…. وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ٣

Artinya:
“ …….menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka” (QS. al-Baqarah (2): 3)

B. Pertengahan ayat. Contoh :

… وَأُشۡرِبُواْ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡعِجۡلَ بِكُفۡرِهِمۡ (waqof) قُلۡ بِئۡسَمَا …َ ٩٣

Artinya:
“ Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan ….” (QS. al-Baqarah (2): 93)

C. Akhir ayat (ini jika dalam satu ayat terdapat lebih dari satu waqof kaafii , maka lebih utama berhenti pada waqof kaafii yang terakhir). Contoh :

(waqof) وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ (waqof ) فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ (waqof) فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ

Artinya:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta” (QS. al-Baqarah (2): 10)

(Dari ketiga letak waqof kaafii di atas, maka lebih utamanya adalah berhenti pada waqof kaafii yang ketiga)

3. Waqof Hasan ( وقف حسن )

Waqof Hasan adalah berhenti membaca pada akhir kalimat yang sudah bisa dipahami artinya, akan tetapi masih mempunyai hubungan dengan kalimat selanjutnya baik dari segi lafadh ataupun maknanya.

Hukum dari waqof hasan ini adalah boleh dan baik tanpa harus dengan mengulangi kalimat sesudahnya. Hal ini disebabkan lafadh atau kalimatnya sudah bisa dipahami dan juga sesuai dengan maknanya.

Akan tetapi cara memulainya haruslah dimulai dari awal kalimat (ro’sul ayat), yang sudah menjadi tempat berhentinya tadi. Kecuali jika memang berhentinya di akhir ayat. Contoh:

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ

Berhenti (waqof), dan kemudian diulangi kembali dari awal,

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Bagi seorang qori’ atau pembaca al-Qur’an, sebaiknya jika nafasnya masih kuat, untuk melanjutkan bacaan kalimat pada ayat tersebut, dan tidak berhenti pada waqof ini.

4. Waqof Qobiih ( وقف قبيح )

Waqof qobiih ( وقف قبيح ) adalah waqof atau berhenti sebelum sempurnanya suatu susunan baik dari susunan kalimat, susunan lafadz ataupun susunan maknanya. Sehingga menjadikannya susah dipahami dan dimengerti.

Hukum berhenti pada waqof seperti ini tentu saja tidak boleh, apalagi dilakukan secara sengaja. Artinya orang tersebut sudah tahu arti dari suatu susunan yang ada pada ayat atau kalimat tersebut, kemudian berhenti begitu saja tanpa ada unsur terpaksa berhenti.

Jikalau memang terpaksa berhenti, maka untuk meneruskannya harus mengulangi kalimat tersebut agar tidak sampai pada mengubah atau merusak arti dari ayat atau kalimat tersebut

Hukum dari Waqof qobiih ( وقف قبيح ), tentu haram hukumnya, karena yang demikian ini bisa mengubah arti atau maksud atau pesan-pesan yang terkandung dalam al-Qur’an, dan jelas mempermainkan ayat-ayat al-Qur’an yang sudah pasti adalah Kalam Allah swt. Contoh:

وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ ….. ٦٤

Artinya (menjadi):
“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah ….” (QS. al-Maidah (5):64)

…قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٞ …. .١٨١

Artinya (menjadi):
… perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin …” (QS. Ali Imron (3): 181)

Dan masih banyak lagi contoh dari waqof qobiih, waqof yang sudah pasti akan menjadikan arti dari bacaan al-Qur’an menjadi tidak sempurna dan tidak bermakna.

5. Waqof Jibril ( وقف جبريل )

Waqof Jibril ( وقف جبريل ) ini adalah berhentinya bacaan (waqof) yang dalam hal ini dilakukan oleh Malaikat Jibril, ketika menyampaikan wahyu al-Qur’an kepada Rasulullah.

Kemudian ketika Rasulullah membaca suatu ayat tertentu dan kemudian berhenti, Beliau terus meneruskan bacaannya. Padahal, lafadz-lafadz tempat beliau berhenti membaca (waqof), tidak terletak di akhir ayat.

Adapun dari waqof jibril ( وقف جبريل ) ini adalah sebagai berikut:

A. QS. al-Baqarah (2): 148

…. فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ …. ١٤٨

Artinya:
“ …. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. ….”

B. QS. Ali Imron (3): 95

قُلۡ صَدَقَ ٱللَّهُۗ …. ٩٥

Artinya:
“ Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. ….

C. QS. al-Maidah (5): 48

…. وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ …. ٤٨

Artinya:
“ … Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan….”

D. QS. al-Maidah (5): 116

…. قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ …. ١١٦

Artinya:
“ …Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). ….”

E. QS. Yusuf (12): 108

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ …. ١٠٨

Artinya:
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah ….. ”

F. QS. ar-Ra’d (13): 17

…. وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ …. ٤٨

Artinya:
“ … Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan….”

D. QS. al-Maidah (5): 116

…. قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ …. ١١٦

Artinya:
“ …Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). ….”

E. QS. Yusuf (12): 108

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ …. ١٠٨

Artinya:
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah ….. “

F. QS. ar-Ra’d (13): 17

…..كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ ١٧

Artinya:
“ …..Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”

G. QS. an-Nahl (16): 5

وَٱلۡأَنۡعَٰمَ خَلَقَهَا …. ٥

Artinya:
“ Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu…”

H. QS. as-Sajdah (32): 18

أَفَمَن كَانَ مُؤۡمِنٗا كَمَن كَانَ فَاسِقٗا…. ١٨

Artinya:
Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik?…”

I. QS. an-Naazi’aat (79): 23

ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ٢٢ فَحَشَرَ …. ٢٣

Artinya:
“Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan ….”

J. QS. al-Qadr (97): 3

لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ ٣

Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”

Demikian penjelasan mengenai pembagian waqof berdasarkan dari jenisnya. Semoga dengan sedikit penjelasan di atas bisa memberikan kita tambahan ilmu yang bisa kita manfaatkan dan bisa kita praktikan dalam membaca dan belajar al-Qur’an sehari-hari

Sumber:

Sholeh, Qomari, Ilmu Tajwid, (Jombang: Pesantren Darussalam), tt.
Ridwan, Ahmad Syakir, dkk, Panduan Ilmu Tajwid Versi Madrastul Qur’an Tebuireng, (Jombang: Unit Tahfidz Madrasatul Qur’an), 2004
Qur’an in Ms. Word v. 2.2
id.wikipedia.org