Memaafkan Kesalahan Lawan Ketika Mampu Membalasnya

Ketika ada orang lain yang berbuat salah pada diri kita, kemudian orang tersebut tidak meminta maaf pada diri kita, bahkan sama sekali tidak menampakkan wajah bersalahnya tentu yang seperti ini biasanya akan menjadikan diri kita menjadi geram, atau mungkin kesal dan jengkel pada orang tersebut, bisa jadi sampai menjadikannya sebagai lawan.

Jika ada orang yang mempunyai kemampuan untuk membalas kesalahan orang tersebut dengan kekuatan dan kemampuannya. Hal seperti ini tentu sudah punya aturan hukum tersendiri (dibolehkan). sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an berikut ini:

وَجَزَٰٓؤُاْ سَيِّئَةٖ سَيِّئَةٞ مِّثۡلُهَاۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ….. ٤٠

Artinya:
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka siapa yang memaafkan dan berbuat baik (shaleh) maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. ….” (QS. As-Syuura (42): 40)

Namun, ketika orang tersebut mampu menahan egonya dan emosinya, dan memaafkan orang yang berbuat salah pada dirinya tersebut. Tentu yang seperti ini merupakan suatu akhlak yang sangat terpuji.

Sikap memaafkan dikala seseorang mampu membalaskan perbuatannya pada orang yang berbuat salah pada dirinya ini tentu bukanlah suatu yang mudah. Meski bisa kita lakukan dan praktekkan, akhlak seperti ini pasti akan terasa susah-susah gampang. Bagi yang belum terbiasa mempraktekkannya.

(Bisa) Lebih Dari Sekedar Maaf

Akhlak memaafkan dikala mampu membalasnya ini, dijelaskan dalam penjelasan hadits qudsi berikut ini:

 :عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

” سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ قَالَ: رَبِّ، أَيُّ عِبَادِكَ أَتْقَى؟ قَالَ: الَّذِي يَذْكُرُ اللَّهَ تَعَالَى فَلَا يَنْسَى قَالَ: فَأَيُّ عِبَادِكَ أَعَزُّ؟ قَالَ: الَّذِي إِذَا قَدَرَ عَفَا “

Arti atau Terjemah Hadits:

Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah saw. bersabda:
Nabi Musa a.s. pernah bertanya kepada Rabb-nya (Allah swt.) : “Ya Rabbi, siapakah diantara hamba-Mu yang paling bertakwa?”, Allah swt. menjawab: “ia adalah orang yang senantiasa ingat (berdzikir) kepadaku dan tidak (sekali-kali) pernah melupakan-Ku.

Kemudian Nabi Musa a.s. bertanya kembali: “ Siapakah diantara hamba-Mu yang paling mulia?”. Allah swt. menjelaskan: “ ia adalah orang yang mampu berbuat sesukanya (berkuasa) atas musuhnya, namun ia memaafkannya. (HR. al-Kharaithi)

Sedikit Pelajaran

Jika teman-teman, atau saudara-saudara membaca teks dan terjemahan hadits di atas, pasti susah-susah gampang dalam mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana tidak.., ketika kita mempunyai kemampuan untuk membalas atau berbuat sekehendak kita terhadap orang yang berbuat buruk atau jelek pada kita, kita diberikan pilihan untuk menjadi mulia dengan bisa memaafkan kesalahan orang tersebut.

Mau tidak mau, semuanya tetap dikembalikan pada diri kita masing-masing. Apakah mau membalas kesalahan atau perbuatan buruk orang lain tersebut, atau seperti penjelasan hadits di atas, sama sekali tidak membalas kesalahan, dendam atau sakit hatinya. Namun, malah memberikan maaf atas perbuatan orang lain tersebut karena Allah swt. semata.

Memberikan maaf atas kesalahan orang lain ataupun musuh ketika kita mampu membalasnya tentu bukanlah hal yang mudah. Oleh karenanya, perbuatan seperti ini mempunyai nilai yang begitu tinggi di hadapan Allah swt. dan tentunya masuk dalam perbuatan yang sangat baik.

Memaafkan kesalahan musuh atau orang lain di “moment-moment” seperti ini justru bisa menambah tinggi derajat kita, khususnya di hadapan orang lain yang menjadi musuh kita sendiri dan umumnya di mata masyarakat luas. Gambaran seperti ini dapat kita lihat dan baca dari sejarah panutan dan nabi kita, Muhammad saw.

Akhlak Nabi saw. yang Suka Memaafkan Lawan-Lawannya

Berikut ini akan kami sampaikan, sepenggal kisah sejarah singkat yang mengemukakan perihal akhlak Nabi Muhammad saw. yang berkaitan dengan perihal memaafkan musuh atau lawannya, dimana beliau sebenarnya mampu untuk membalasnya. Akan tetapi beliau memilih untuk memaafkannya.

Kisah tersebut diantaranya terjadi pada peristiwa Perang Uhud. Dalam perang tersebut ada salah seorang sahabat yang mendapati Nabi Muhammad saw. terkena luka pada wajahnya, serta beberapa gigi beliau yang patah. Sahabat tersebut kemudian berkata kepada nabi saw. : “Wahai Tuan, cobalah doakan agar mereka mendapatkan celaka”.

Mendengar perkataan sahabatnya tersebut, nabi saw. pun menjawabnya dengan : “Diriku diutus bukanlah untuk melaknat seseorang, melainkan untuk mengajak pada kebaikan dan sebagai rahmat”. Setelah itu beliaupun menengadahkan kedua tangannya kepada Allah swt. Dzat Yang Mahamulia dan berdoa :

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فانّهمْ لا يَعْلَمُوْنَ

Artinya:
“Ya Allah, ampunilah kaumku , karena sungguh mereka adalah kaum yang tidak mengetahui”

Dari perstiwa tersebut, nabi tidaklah berkehendak untuk membalas perbuatan musuhnya, melainkan memaafkan mereka. Ditambah lagi dengan sifat kasih sayang beliau, yang juga mendoakan mereka agar diberikan ampunan oleh Allah swt. atas perbuatan yang mereka lakukan. Nabi menganggap mereka belum tahu atas tujuan apa mereka melakukan perihal tersebut.

Selain itu, masih pada peristiwa perang Uhud juga, dimana ada seorang budak yang berkulit hitam bernama Wahsyi, yang dijanjikan akan dimerdekakan oleh tuannya manakala dia sanggup membunuh paman nabi saw. yang bernama Hamzah bin Abdul Muthallib r.a.

Pada waktu itu, di tengah keramaian perang, ternyata budak tersebut sanggup untuk membunuh paman nabi saw. Akhirnya dimerdekakanlah budak tersebut oleh tuannya. Selang beberapa waktu lamanya, akhirnya budak tersebut (Wahsyi) masuk Islam.

Ketika menjadi seorang muslim, Wahsyi pun mendatangi Nabi Muhammad saw. dan menceritakan peristiwa terjadinya pembunuhan pamannya Hamzah bin Abdul Muthallib r.a oleh dirinya.

Mendengar penjelasan dari Wahsyi, nabi saw. tidaklah bersikap membalas perbuatan Wahsyi atas pamannya tersebut. Bahkan, meski sudah dalam penguasaannya, Nabi Muhammad saw. tetap memaafkannya. Tentu, sungguh sangatlah mulia akhlak beliau yang seperti ini

 Akhir Kata

Jika mau membaca lebih banyak lagi, tentu masih banyak kisah-kisah ataupun contoh-contoh yang menggambarkan betapa mulianya sikap memaafkan ini. Terutama diwaktu diri kita mempunyai kemauan dan kemampuan untuk membalas kesalahan orang lain tersebut.

Bukanlah hal yang mudah bagi kita semua untuk menjalankan akhlak yang begitu mulia seperti yang dilakukan oleh beliau seperti pada kisah di atas.. Namun, sebagai umatnya tentu kita tetap harus berusaha untuk meniru, terlebih bisa mengamalkan akhlak tersebut dalam kehidupan sehari-hari kita.

Karena dengan demikian itu, secara tidak langsung kita pun juga telah ikut mengamalkan apa yang terkandung dalam kitab suci kita sendiri yakni al-Qur’an. Seperti yang terdapat pada QS. Al-Baqarah (2): 237, QS. Ali Imran (3): 159, QS. An-Nisaa’ (4): 149, dan masih banyak ayat-ayat al-Qur’an lainnya.

Semoga dengan belajar tentang akhlak suka memaafkan ini, kita semua bisa belajar dan mengetahui betapa mulianya sikap memaafkan dikala mampu untuk membalasnya ini dan semoga dengan sedikit bacaan ini bisa menjadikan kita untuk bisa tahu dan masuk ke dalam golongan orang-orang yang suka memaafkan.

Aaamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an Digital
Usman, M. Ali dkk, Hadits Qudsi Firman Allah Yang Tidak Tercantum Dalam Al-Qur’an Pola Pembinaan Akhlak Muslim, (Bandung: PT. Diponegoro), 2003
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v.1.1
Software al-Maktabah al-Syamilah v.3.48