Ingat… Dunia (Juga) Tercipta Untuk Akhirat

Belajar Memahami Asbabun Nuzul QS. At-Takatsur

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ *…

“Bermegah-megahan telah membuat kalian lalai. Sehingga kamu masuk dalam kubur … ” (QS. at-Takatsur: 1-2)

Mereka yang Suka Berbangga Diri

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa turunnya Alhaakumut takaatsur berkenaan dengan adanya dua kabilah dari Anshar, yakni Bani Haritsah dan Bani Harits, yang saling menyombongkan diri dan berbangga diri, baik dari segi harta, keturunan. (di era sekarang bisa juga ditambahi juga dengan karir)

Kedua kabilah tersebut saling membanggakan kedudukan dan kabilahnya masing-masing. Diantara kedua kabilah tersebut saling bertanya satu sama lain: “Apakah ada dari kalian keturunan yang kuat, gagah dan mempunyai harta kekayaan yang sangat banyak seperti ‘fulan’ ?.”

Mereka saling menyombongkan diri dengan segala kedudukan dan harta kekayaan yang ada pada mereka. Bahkan, salah satu dari mereka rela mendatangi kuburan dari kabilah mereka sendiri hanya untuk menunjukkan dan menyombongkan para pendahulu mereka yang agung, serta terkenal dengan kegagahan dan kepahlawanan-nya.

Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa perihal yang demikian itu mereka lakukan sampai mereka mati dalam keadaan sesat

Dari peristiwa inilah, surat ini diturunkan. Tentu saja sebagai sebuah teguran kepada mereka semua (yang masih hidup) yang senantiasa membangga-banggakan diri beserta kelompok-kelompoknya, sampai-sampai ibadahnya kepada Allah swt. menjadi terlalaikan

Bukan Cerminan Hidup

Dari sejarah singkat yang menjelaskan perihal tingkah laku manusia yang suka membangga-banggakan diri beserta kelompoknya ditambah lagi dengan timbunan harta yang melimpah dan kekuasaannya yang tinggi.

Sampai-sampai membuat mereka semua sibuk dengan pembicaraan yang tidaklah bermanfaat dan terperdaya oleh gemerlapnya kehidupan dunia dan lalai akan kegiatan beramalnya. Bahkan lupa akan diri dan keluarga mereka sendiri, yang menjadi tanggung jawabnya.

Tentu saja yang demikian itu bertolak belakang dengan sifat manusia pada dasarnya, yang saling membutuhkan, bantu membantu dan tolong menolong dalam keadilan dan kebaikan dalam berkeluarga dan bermasyarakat.

Membanggakan diri, baik kelompok, keluarga ataupun karir, adalah sesuatu yang tidak dilarang. Tetapi yang harus kita ingat bersama adalah jangan sampai kita melampaui batas. Sehingga menjadikan diri kita lalai akan kewajiban-kewajiban kita, dan bersifat serakah dan semakin ‘haus’ terhadap kenikmatan dunia yang sementara ini.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik r.a. dijelaskan, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

«لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ»

Artinya:
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, alangkah senangnya jika ia memiliki dua lembah emas tersebut, dan yang demikian itu tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) kecuali mulutnya diisi dengan tanah kuburan, dan Allah senantiasa memberikan ampunan pada orang-orang yang bertaubat” (HR. Bukhari)

Semoga dengan membaca penjelasan singkat di atas, bisa menambah iman kita dan menghindarkan diri kita dari hal-hal dan perbuatan-perbuatan yang tercela dan tidak terpuji. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin

Wallaahu A’lam

Sumber :

Al-Wahidi, Ali bin Ahmad, Asbabun Nuzul al-Qur’an, (Damam: Dar al-Islah), 1992

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf Universitas Islam Indonesia),1995

Shaleh, Qamaruddin, dkk, Asbabun Nuzul Latar Belakang Historis Turunnya Ayat al–Qur’an, (Bandung : PT. Diponegoro), 1982
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v1.1

Software al-Maktabah al-Syaamilah v. 3.48