Cukup Iman dan Istiqomah (Inti Hadits yang Singkat, Padat dan Berisi)

Teks Hadits

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِيِّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ – وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ – قَالَ: ” قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، فَاسْتَقِمْ “

Artinya:

Dari Sufyan bin ‘Abdillaah ats-Tsaqafii ra., berkata : “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan, yang tidak aku tanyakan lagi kepada orang setelah engkau –dalam riwayat lain orang selain engkau-’. Beliau menjawab (bersabda),: ‘Katakanlah, aku beriman kepada Allah swt.’ kemudian istiqamah-lah.’” (HR. Muslim)

Sesuai dengan bunyi hadits di atas, pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang sebuah perilaku, dimana perilaku ini membutuhkan sebuah sikap sabar yang ekstra. Hal ini dikarenakan perilaku ini berlaku terus-menerus tanpa henti, yakni perilaku istiqomah.

PENJELASAN HADITS

Dalam hadits di atas diceritakan, bahwa ada seorang sahabat nabi yang bertanya dengan “Katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan dimana aku tidak akan dapat menanyakan lagi kecuali hanya kepadamu”.

Pertanyaan tersebut mempunyai maksud bahwa ajarkanlah padaku suatu kalimat yang pendek alias simple, padat dan berisi tentang arti dari Islam yang mudah bagi saya (Sufyan bin ‘Abdillaah ra.) untuk memahaminya, sehingga saya tidak perlu meminta orang lain untuk menjelaskannya dan bisa menjadi dasar bagi diri saya untuk melakukan amal baik.

Dari pertanyaan sahabat tersebut kemudian Rasulullah saw. menjawab : “ Katakanlah, aku beriman kepada Allah, (kemudian) ber-istiqomahlah kamu”. Jawaban ini tentu merupakan sebuah jawaban yang pendek, padat dan berisi yang disampaikan oleh Allah melalui Rasulullah saw..

Dari jawaban singkat, padat, dan berisi tersebut sudah terpenuhi adanya perintah untuk iman dan islam secara utuh. Nabi Muhammad saw. memerintahkan sahabatnya tersebut untuk senantiasa memperbarui iman baik lewat hati ataupun lisannya.

Disamping itu, juga adanya perintah untuk tetap teguh pendirian dalam mengamalkan amalan-amalan shalihnya dan menjauhi segala perbuatan yang mengandung unsur-unsur dosa. Hal seperti ini tidaklah mudah untuk dilakukan, karena ketika seseorang terlena sedikit saja, orang tersebut sudah dikatakan belum bisa menjaga ke istiqomahan nya.

Seperti yang dijelaskan dalam kalam Allah berikut ini:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ ……. ٣٠

Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka ……” (QS. Fusshilat (41): 30)

Maksudnya mereka adalah orang-orang yang hanya semata-mata beriman kepada Allah disertai dengan hati dan pendirian mereka yang tetap teguh (istiqomah) pada keyakinannya tersebut dan senantiasa kepada Allah sampai mati.

Istiqomah … Juga Butuh Kekuatan Ekstra.

Sahabat Nabi, Umar bin Khatthab ra. berkata: “ Mereka para sahabat mempunyai sikap istiqomah demi Allah guna mematuhi peraturan-Nya, dan tidak sedikitpun mereka berpaling, seperti berpalingnya seekor musang.”

Artinya, apa yang mereka amalkan dan yang mereka perbuat serta yang mereka ucapkan, semuanya tetap mereka istiqomahi secara terus-menerus hingga akir hayat tiba. Pendapat seperti inilah yang juga banyak dianut oleh banyak mufasir.

Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan:

فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ ….

Artinya:
“Maka hendaklah beristiqomah seperti apa yang telah diperintahkan padamu (QS. Hud (11): 112)

Istiqomah ini membutuhkan juga membutuhkan tenaga ekstra, seperti yang dijelaskan dalam tafsir al-Qurthubi, dimana ada sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang berbunyi:

مَا نَزَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آيَةٌ هِيَ أَشَدُّ وَلَا أَشَقُّ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَيْهِ، وَلِذَلِكَ قَالَ لِأَصْحَابِهِ حِينَ قَالُوا لَهُ: لَقَدْ أَسْرَعَ إِلَيْكَ الشَّيْبُ! فَقَالَ:” شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا”.

Artinya:
“Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasulullah saw. yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini. Oleh karenanya, ketika beliau ditanya oleh para sahabatnya, ‘Betapa cepat engkau beruban’, maka Rasulullah saw. menjawab sahabatnya dengan: “ ‘Yang (cepat) membuatku beruban adalah turunnya surat Hud dan surat-surat sejenis (semisal)-nya.” (HR. at-Thabrani)

Istiqomah ini juga sifat yang mampu menyempurnakan pribadi seseorang, karena jika sifat ini tidak ada dalam diri seseorang, maka rusaklah kepribadian orang tersebut. Demikian ungkap al-Washiti.

Menurut Abul Qasim al-Qusyairi, dengan ber-istiqomah, bisa menjadikan sebuah penyempurna dan pelengkap dari segala urusan. Segala bentuk kebaikan pasti akan terwujud jika dilakukan dengan istiqomah.

Oleh sebab itu, orang yang tidak bisa istiqomah dalam mengerjakan apa yang diperbuatnya pasti menjadi sesuatu yang sia-sia belaka. Menurutnya sifat ini hanya bisa dimiliki oleh orang-orang besar, karena yang namanya istiqomah ini menyimpang dari kebiasaan dan adat dalam keseharian kita, tetapi tetap bersikap teguh, jujur, dan sungguh-sungguh di hadapan Allah swt.

Semoga dengan membaca sedikit artikel di atas, mampu membantu kita semua untuk ber istiqomah dalam menjalankan segala peraturan Allah swt, dan tetap teguh dalam pendirian untuk senantiasa meningkatkan iman dan ketakwaan kita semua.. Aamiin yaa robbal ‘alamiin

Semoga bermanfaat..Wallaahu a’lam bis showwaab

Sumber:

Al-Qur’an Digital v.2.2
Al ‘Ied, Ibnu Daqiq, Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi (terj.), (Yogyakarta: Media Hidayah, 2001)
Software al-Maktabah al-Syaamilah v. 3.48