Belajar Sejenak Tentang Tafsir Surat al-Kautsar

 

Siapa sih yang tidak kenal dengan Surat al-Kautsar…. Surat yang terpendek dalam Kitab Suci al-Qur’an. Jika kita renungi, banyak sekali hikmah yang terkandung di dalamnya selain perintah untuk menjalankan shalat dan berkurban. Bagaimana tafsir dan pemahamannya, mari kita simak bersama-sama.

Mengenal Surat al-Kautsar

Surat al-Kautsar, adalah surat yang menempati urutan ke 108 dilihat dari tertib urutan surat dalam al-Qur’an. Surat ini adalah masuk dalam kategori Surat Makkiyah, yang artinya surat yang diturunkan di kota Makkah.

Nama surat ini diambil dari kata “kautsar” yang ada pada ayat pertama. Arti dari kata “kautsar” ini adalah nikmat yang banyak. Sebagai manusia biasa, tentu menyebutkan nikmat-nikmat yang telah dan sudah Allah swt. berikan sangatlah tidak mungkin. Karena memang nikmat yang diberikan oleh-Nya sangatlah banyak dan tidak terhitung.

Teks Surat al-Kautsar

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ١  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ ٣

Innaa a’thoinaakal kautsar.

Fasholli lirobbika wanhar.

Innaa syaani aka huwal abtar

Artinya:

  1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak
  2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
  3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus

Asbabun Nuzul Ayat

Riwayat yang terkenal mengenai sebab diturunkannya surat ini. Adalah riwayat yang menjelaskan bahwa kalangan kaum Quraisy yang beranggapan meninggalnya seorang anak laki-laki berarti putusnya suatu garis keturunan.

Ketika Rasulullah saw. ditinggal mati oleh anak laki-lakinya (yang bernama Qasim, kemudian tidak berselang lama disusul dengan Ibrahim). Salah seorang kaum Quraisy yang bernama al-‘Ash bin Wa’il berkata: “ Muhammad telah terputus turunannya” . maka turunlah ayat ke tiga, sebagai bantahan atas ucapan kaum Quraisy tersebut. (HR. Ibn Abi Hatim)

Ada juga yang meriwayatkan, ketika Ibrahim (putra dari Rasulullah saw.) meninggal dunia, kaum Quraisy berkata: “Sekarang Muhammad menjadi seorang yang ‘abtar’ (putus garis keturunannya) . Kemudian turunlah surat al-Kautsar sebagai penghibur dan sebagai sebuah dukungan moral terhadap Nabi Muhammad saw. yang hatinya sedang bersedih. (HR. Ibnu Mundzir)

Tafsir Ayat

Ayat Pertama

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ١

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”

Dalam ayat ini Allah swt.  menjelaskan kepada Nabi Muhammad saw. akan begitu banyaknya nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. dan sudah pasti berbagai macam nikmat serta anugrah yang Allah berikan tidak dapat dihitung dengan hitungan manusia. Belum lagi nilai dan mutu dari pemberian itu sendiri yang juga bernilai tinggi.

Kata “al-Kautsar” yang ada dalam ayat tersebut mempunyai banyak penjelasan. Jika dari segi bahasa kata tersebut mempunyai akar kata “ka-tsu-ro” atau “ka-tsur” yang artinya adalah banyak. Namun, jika kita mau melihat dari beberapa riwayat yang menjelaskan mengenai kata ‘al-kautsar’ ini, maknanya adalah sebuah telaga atau sungai. (Tafsir Ibnu Katsir)

Telaga Kautsar ini adalah sebuah telaga atau sungai yang ada di kehidupan akhirat kelak. Di mana airnya tidak pernah kering dan habis, dan siapa yang meminum air dari telaga tersebut, tidak akan haus selamanya.

Di samping itu pula, gelar nabi dan rasul, serta berbagai macam hidayah dan petunjuk yang diberikan oleh Allah swt. kepada kita umat manusia untuk kehidupan dunia dan akhirat kelak. Tentunya, suatu pemberian yang tidak ternilai harganya.

Di sinilah orang-orang musyrik memandang itu semuanya sebagai sesuatu yang biasa saja dan tidaklah berharga sama sekali. Hal yang demikian ini tentu dikarenakan kurangnya akal dan pengertian mereka. Disinilah iman mempunyai peranan penting untuk tetap mempercayai adanya kehidupan setelah kematian kelak.

 Ayat Kedua

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”

Pada ayat ini, Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar mengerjakan shalat serta menyembelih hewan kurban hanya karena Allah swt. semata. Karena hanya Dia-lah yang melimpahkan segala karunia-Nya untuk umat manusia. Dengan shalat inilah kita menyembah dan mengabdikan diri kita untuk tetap tunduk dan patuh pada perintah-Nya.

Penjelasan seperti ini juga tercantum ayat yang lain, yakni QS. al-An’aam (6): 162-163,

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣

Artinya:

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”

Adapun perintah berkurban (menyembelih hewan kurban) dalam ayat ini, selain untuk berbagi antar sesama manusia. Juga mengajak umat manusia untuk merelakan dirinya untuk mengurangi sifat kikir dan pelit yang mengendap dalam diri dan jiwa manusia itu sendiri.

Dengan berkurban inilah, seseorang dilatih untuk rela, ikhlas, berbagi, sabar, dan tetap semangat dalam beramal serta sadar bahwa harta benda yang kita miliki semua ini hanyalah sebuah titipan dari Allah swt. yang juga bisa diambil-Nya kapan saja.

Ayat Ketiga

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ ٣

. “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”

Ayat ini menjelaskan bahwa siapapun orangnya yang tidak suka atas kedatangan seorang nabi dan rasul yang bernama Muhammad saw. tentu hidupnya akan menjadi terputus dan napak tilasnya tidak akan berbekas sama sekali alias hilang ditelan oleh waktu (lih. asbabun nuzul).

Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, mereka (kaum Quraisy)-lah yang nama-namanya menjadi hilang dan tidak berbekas. Adapun jika masih teringat, tentu yang diingat adalah keburukan, dan kejahatan dari apa yang telah mereka perbuat terhadap Nabi Muhammad saw.

Bahkan banyak dari turunan mereka yang kemudian malah ‘berbalik arah’, mengubah halauan-nya untuk berjuang dengan sungguh bersama Nabi Muhammad saw. dan menjadi sahabat-sahabat dan pengikutnya

Adapun Nabi Muhammad saw., para sahabatnya dan para pengikutnya, yang dikenang adalah nama, sikap dan akhlak beliau, serta kebaikan dan kesuksesannya dalam berdakwah dan menyebarkan ajaran agama Islam ke seluruh penjuru dunia.

Oleh karena itu, sudah sesuatu yang wajar (bahkan bisa wajib) bagi kita umat muslim yang hidup di zaman sekarang, senantiasa mendoakan dan bersholawat kepada beliau dan keluarga, serta sahabat-sahabatnya. sebagai bentuk rasa syukur atas perjuangannya dan segala upayanya, hingga Islam bisa tetap bertahan dan hadir di tengah hiruk-pikuk kehidupan kita saat ini.

Kesimpulan dan Penutup

  1. Begitu banyak nikmat-nikmat yang telah Allah swt. berikan kepada hamba-hamba-Nya, dan tentu tidak ternilai harganya.
  2. Perintah untuk menjalankan shalat dan menyembelih hewan kurban, sebagai bentuk syukur atas segala nikmat yang telah Allah swt. berikan
  3. Senantiasa meningkatkan ibadah tanpa lupa berbakti antar sesama manusia
  4. Seseorang yang menghina, mencela, dan mencela nabi tidak akan dikenang kecuali kejahatan dan keburukan dari orang itu sendiri.

Semoga dengan sedikit tambahan tentang tafsir surat al-Kautsar di atas, bisa menambah wawasan dan pengetahuan, serta bisa menjadikan kepribadian kita menjadi seorang yang tidak hanya taat dan rajin untuk menjalankan shalat. Namun juga sebagai pribadi yang senantiasa suka berkorban, berderma, dan berbagi kepada sesama umat manusia… Semoga bermanfaat

Walloohu a’lam bis showwaab

Sumber:

Al-Qur’an Digital

Departemen Agama, AlQur’an dan Tafsirnya, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf Universitas Islam Indonesia), 1995

Harun, Salman, Secangkir Tafsir Juz Terakhir: Mengerti Jalan-Jalan yang Membahagiakan di Dunia dan Akhirat, (Tangerang: Lentera Hati), 2018