Awal Mula Terjadinya Alam Semesta (‘Ngaji Bareng’ Alam itu Qadim atau Tidak Bersama Imam al-Ghazali dan Ibnu Rusyd)

Suatu Pendahuluan

Al-Qur’an merupakan himpunan wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. , sebagai kitab suci agama Islam, al-Qur’an berisikan tuntunan-tuntunan dan pedoman-pedoman bagi manusia dalam menata kehidupan mereka agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, lahir dan batin. Allah menyebut al-Qur’an dengan berbagai sebutan yakni al-Furqaan , al-Kitaab , al-Huda , dan masih banyak lainnya.

Dalam mencapai fungsi di atas, al-Qur’an tidak hanya menyebut dasar-dasar peraturan hidup manusia baik dalam hubungannya dengan Tuhan dan manusia, tetapi juga bersangkutan dengan ilmu pengetahuan.

Memang pada dasarnya al-Qur’an merupakan buku petunjuk dan pegangan keagamaan, namun pembicaraan dan kandungan isinya tidak terbatas pada bidang keagamaan saja. Al-Qur’an menghimpun bermacam-macam persoalan dalam kehidupan kita seperti tentang perekonomian, astronomi, biologi, manusia, alam semesta dan lain sebagainya.

Rujukan al-Qur’an terhadap hal-hal yang ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan ini dimaksudkan tentunya untuk menarik perhatian manusia untuk mengkaji lebih dalam ayat-ayat yang ada dalam al-Qur’an tersebut, hal ini dilakukan supaya tidak lain untuk mendorong mereka lebih dekat kepada Dzat Yang Maha Pencipta alam raya ini.

Berkaitan dengan penciptaan alam semesta, merupakan hal yang menarik ketika kita mendiskusikan awal mula alam semesta ini. Banyak perdebatan yang terjadi di kalangan para pemikir islam khususnya para filosof dan teolog yang memperdebatkan masalah penciptaan alam, apakah alam yang ada saat ini merupakan suatu ciptaan atau pancaran dari-Nya.

Hampir semua pemikir islam memikirkan tentang konsep alam, termasuk di kalangan filosof dan teolog. Mereka masing-masing mempunyai teori untuk menunjang pemikirannya terhadap konsep alam.

Proses Terjadinya Alam (Suatu Kehendak atau Sebuah Keniscayaan)

Berbicara mengenai terjadinya alam, tentu tidak asing lagi bagi umat muslim mengetahui perseteruan antara kaum teolog dan kaum filosof yang masing-masing juga mempunyai dalil dalam menguatkan pendapatnya.

Dalam hal ini kaum teolog yang diwakili oleh Al-Ghazali berpendapat bahwasannya alam itu ada karena diciptakan. Hal ini berbeda dengan kaum filosof yang diwakili oleh Ibn Rusyd yang meyatakan bahwa alam itu ada sejak zaman azali Allah menciptakan alam ini, bukan dari tiada tetapi dari ada

1. Alam itu Tidak Qadim

Menurut Al-Ghazali alam diciptakan dari tiada menjadi ada. Pemikiran seperti inilah yang memastikan adanya pencipta. Yang ada tidak butuh kepada yang mengadakan. Bagi al-Ghazali, tidak mustahil bagi akal untuk berfikir bahwa Tuhan ada dan tidak ada apa pun bersama-Nya. Tuhan mencipta alam dari ketiadaan. Adanya ketiadaan sebelum penciptaan alam bukanlah sesuatu yang mustahil.

Jika para filosof mengajukan pertanyaan: Mengapa Tuhan menciptakan alam dari sebelumnya tiada kemudian menjadi ada? Apa kira-kira faktor yang mendorong, kehendak Sang Pencipta yang dari sebelumnya tidak mencipta kemudian ingin mencipta? Al-Ghazali menjawab: di sinilah inti persoalannya. Kehendak Tuhan tidak bisa dianalogikan dengan kehendak manusia, dari tidak mau (mencipta alam) berubah menjadi mau (mencipta alam).

Al-Gahazali melontarkan sanggahan luar biasa keras terhadap pemikiran para filosof. Adapun yang dimaksud dengan filosof dalam bahasan al-Ghazali ini adalah Aristoteles dan Plato juga al-Farabi dan Ibn Sina karena kedua filosof Muslim ini dipandang al-Ghazali sangat bertanggung jawab dalam menerima dan menyebarluaskan pemikiran filosofis dari Yunani (Sokrates, Aristoteles, dan Plato) di dunia Islam.

Kritik pedas tersebut ia tuangkan dalam bukunya yang terkenal Tahafut al-Falasifah (Kerancuan berpikir para filosof). Sebelumnya, ia mempelajari filsafat tanpa bantuan seorang gurupun dalam kurun waktu dua tahun. Setelah berhasil dihayatinya dengan seksama, lalu ia tuangkan dalam bukunya Maqasid al-Falasifat (Tujuan Pemikiran Para Filosof). Dengan adanya buku ini ada orang yang mengatakan bahwa ia benar-benar menguasai argument yang dipergunakan oleh para filosof .

Kehendak Tuhan tidak mengalami perubahan. Sebabnya, makna kehendak adalah pilihan, bukan perubahan. Tuhan memilih mencipta “saat itu,” dan bukan “sebelum saat itu.” Tuhan Berkehendak mencipta pada “saat itu,” bukan sebelumnya. Jika kira-kira para filosof bertanya: Mengapa Tuhan Berkehendak “saat itu,” bukan sebelumnya? Al-Ghazali menjawab, tidak ada perubahan pada Kehendak Tuhan.

Sebabnya, makna Kehendak (Iradah) bukan dari tidak mau menjadi mau. Makna “Kehendak” adalah memilih. Tuhan memilih “saat itu.” Pilihan tersebut tidak mengandung makna perubahan pada Kehendak-Nya. Inilah makna Kehendak, ungkap Imam al-Ghazali .

Adapun yang menjadi landasan berpikir al-Ghazali sehingga mengatakan bahwa alam itu tidak qadim dan Tuhan yang qadim adalah kerangka filosofisnya yang ia tawarkan adalah titik tolak yang benar dan ortodoks harus diawali dengan mengakui Tuhan sebagai wujud tertinggi dan kehendak unik yang bertindak secara aktual.

”Prinsip Pertama adalah Maha Mengetahui, Maha Perkasa, dan Maha Berkehendak. Ia bertindak sekehendak-Nya dan menentukan sesuatu yang ia kehendaki; ia menciptakan semua makhluk dan alam sebagaimana ia kehendaki dan dalam bentuk yang Dia kehendaki” . Bagi Al-Ghazali, alam haruslah tidak qadim dan ini berarti pada awalnya Tuhan ada, sedangkan alam tidak ada, kemudian Tuhan menciptakan alam, alam ada di samping adanya Tuhan.

2. Penciptaan Alam itu Qadim

Pendapat para filosof bahwa alam kekal dalam arti tidak bermula tidak dapat diterima kalangan teologi Islam, sebab menurut konsep teologi Islam, Tuhan adalah pencipta, yang dimaksud pencipta ialah mengadakan sesuatu dari tiada (creato ex nihilio). Kalau alam dikatakan tidak bermula, berarti alam bukanlah diciptakan, dengan demikian, Tuhan bukanlah pencipta. Pendapat seperti ini membawa kekufuran.

Demikian gugatan al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut al-Falasifah. Qadim-nya alam, dimana alam ini selalu ada bersama-sama wujudnya Tuhan, tanpa ada perselangan waktu sedikitpun antara wujudnya dengan wujud Tuhan. Seperti antara matahari dan sinarnya .

Menurut Ibnu Rusyd, pendapat kaum teolog ini tidak mempunyai dasar syari’ah yang kuat. Tidak ada ayat yang menyatakan bahwa Tuhan pada mulanya berwujud sendiri, yaitu tidak ada wujud selain dari dirinya sendiri, kemudian dijadikan alam. Ini hanyalah merupakan pendapat dan interpretasi kaum teolog .

Tentang qadim-nya alam, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa para filosof meyakini alam ini qadim, qadim yang dimaksudkan di sini adalah sesuatu yang dalam kejadian terus-menerus (ma huwa fi hudus da’im), maksudnya tidak mempunyai permulaan dalam waktu .

Pendapat Ibnu Rusyd didukung oleh beberapa ayat al-Qur’an yang mengandung pengertian bahwa Tuhan menciptakan sesuatu yang telah ada, seperti yang tertera di bawah ini:

أَوَ لَمۡ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقٗا فَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ ٣٠

Artinya:

Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. al-Anbiya’ (21): 30)

Seperti yang dikutip oleh Andi Rosadisastra dari al-Qur’an terjemahan Departemen Agama, lafaldz فتق (fataqa) yang terdapat dalam potongan ayat di atas memiliki beberapa makna diantaranya: celah, letusan, membanting, membelah, membengkak hingga pecah, dan sebagainya.

Makna-makna tersebut semakin memperkuat dugaan adanya peristiwa yang dikemukakan oleh teori Big Bang, dan hal itu dapat menunjukkan bahwa ayat al-Qur’an merupakan mukjizat sepanjang zaman selama umur bumi ini, hal ini dikarenakan proses Big Bang masih terus berjalan hingga akhir zaman berdasarkan penelitian para ahli dibidangnya.

Pada ayat di atas juga dinyatakan: ‘Lalu Kami pisahkan antara keduanya’ dari sini tampak bahwa jka digambarkan keduanya maka bumi pada mulanya menempel atau menyatu dengan kumpulan galaksi yang lain beserta planet-planet atau benda-benda langit lainnya dalam sebuah “Bola Besar” adapun diantara beberapa kandungan yang ada dalam “Bola Besar“ tersebut adalah air, oleh karena itulah ayat tersebut memberikan informasi tambahan, yaitu air itulah yang mempengaruhi atau yang mengakibatkan adanya di kehidupan alam raya ini.

Selain itu dalam ayat yang lain dijelaskan:

وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ وَكَانَ عَرۡشُهُۥ عَلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۗ وَلَئِن قُلۡتَ إِنَّكُم مَّبۡعُوثُونَ مِنۢ بَعۡدِ ٱلۡمَوۡتِ لَيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ٧

Artinya:

Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya , dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.(QS. Hud (11) :7)

Informasi yang diperoleh dalam ayat di atas berkenaan dengan penciptaan alam semesta selama enam masa atau tahapan dan ‘Arsy Allah ketika berlangsungnya proses penciptaan alam semesta di atas zat air atau sop kosmos (almaa’), yakni lafadz خَلَقَ (khalaqa) yang dipergunakan dalam ayat ini, secara tata bahasa berasal dari lafadz khalq bermakna al-taqqdir al-mustaqim (ketetapan yang seimbang). Itu menunjukkan bahwa penciptaan alam raya ini berdasarkan suatu sistem yang baku.

Ungkapan kaana ‘arsyuhu ‘ala al-maa’ , singgasananya di atas air atau sop kosmos, merupakan kinayah atau kiasan, seperti yang dikutip Sirajuddin Zar dari Tafsir al-Manar, beliau menjelaskan bahwa ketika kita menggambarkan Allah seperti halnya raja-raja atau penguasa di dunia yang mempunyai singgasana merupakan sikap yang tidak dapat ditolerir Islam. Sebab itu singgasana di sini lebih tepat dipahami dengan kekuasaan atau pemerintahan .

Kata السّماء (al-sama’)-yang lazim diartikan dengan langit- harus dipahami sebagai ruang alam yang didalamnya terdapat galaksi-galaksi, bintang-bintang dan lain-lainya. Sedangkan kata ٱلۡأَرۡضَ   (al-ardh) –yang biasa diartikan dengan bumi- di sini lebih tepat dipahami dengan materi, yakni bakal bumi yang sudah ada sesaat setelah Allah menciptakan alam raya.

Hal ini dikarenakan, menurut ilmu pengetahuan, bumi baru terbentuk sekitar 4,5 milyar tahun yang lalu di sekitar matahari, dan tanah di bumi ini baru terjadi sekitar tiga milyar tahun yang lalu sebagai kerak di atas magma.

Begitu pula dengan kata  ٱلۡمَآءِ (al-maa’ ) yang termaktub dalam ayat di atas lebih tepat di artikan dengan zat alir atau sop kosmos ketimbang dengan air, ini karena air yang terdiri dari atom oksigen dan atom hidrogen dalam fase penciptaan alam belum dapat berbentuk dan isi alam ketika itu merupakan radiasi dan materi yang pada suhu tinggi itu wujudnya lain daripada air yang sekarang ini .

Dari ayat-ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa sebelum bumi dan langit dijadikan, telah ada benda lain yang berupa air dan uap. Dengan kata lain bumi dan langit dijadikan dari air dan uap, bukan dijadikan dari tiada.

Untuk Apa Semua Ini Diciptakan?

Pada akhir surat al-Anbiya’ ayat 30, ayat tersebut diakhiri dengan ungkapan: افلا يؤمنون (afalaa yu’minuun) yang merupakan kalimat pertanyaan dan tetapi yang dimaksud adalah perintah, untuk mengimani atau mempercayai kebenaran informasi tersebut.

Digunakannya bentuk ungkapan majazi tersebut biasanya untuk memperkuat atau sebagai ta’kid disebabkan khitab atau audiens yang dituju oleh ayat tersebut sulit untuk mempercayai secara langsung. Perintah beriman pada ayat di atas, menjelaskan bahwa setelah mengimani adanya informasi pada sebuah ayat maka harus diiringi dengan potensi yang dimiliki untuk mewujudkan segala hal yang terkait dengan perintah tersebut sebagai amal shaleh .

Dalam hal ini Fazlurrahman, menambahkan bahwa supaya manusia tidak gampang ‘melupakan’ Allah selama ‘alam’ menguntungkannya, barulah ketika alam menyebabkan kemalangan bagi dirinya barulah dia ‘menemukan’ Allah.

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penciptaan alam semesta memang mengundang perhatian yang menarik bagi kaum teolog dan filosof. Apakah diciptakan atau sudah ada sejak zaman azali.

Marmura dalam disertasinya yang berjudul “The Conflict Over The World’s Pre-Eternity in The Tahafuts of al-Ghazali and Ibn Rushd”, menyimpulkan bahwa konflik antara al-Ghazali dan Ibnu Rusyd yang berbicara tantang penciptaan alam sebenarnya berasal dari konflik premis-premis metafisika yang tidak bisa didamaikan. Kritik al-Ghazali terhadap konsep keazalian alam berpijak pada asal-usul konsep ini yang berangkat dari konsep Tuhan Aristoteles.

Konsep Tuhan seperti ini bertentangan dengan konsep Tuhan yang ada dalam al-Qur’an. Konsep Tuhan Aristoteles berangkat dari konsep Tuhan yang harus mencipta alam. Tuhan –tidak bisa tidak — harus mencipta alam. Jadi, Tuhan berbuat dengan keharusan.

Dalam pemaparan di atas bahwa ada macam-macam perdebatan yang ditudingkan al-Ghazali kepada para filosof Muslim yang menyebabkan mereka menjadi kafir, salah satunya yaitu masalah penciptaan alam.

Pendapat al-Ghazali ini, sebagi seorang teolog Muslim, tentu saja dipengaruhi oleh paham kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan, artinya Allah dapat berbuat apapun tanpa ada yang menghalangi-Nya, sehingga tidak mengherankan jika al-Ghazali berpendapat bahwa alam itu diciptakan, sedangkan menurut Ibn Rusyd tuduhan yang dilontarkan oleh al-Ghazali terhadap filosof Muslim dalam persoalan di atas tidak pada tempatnya. Kalaupun mereka salah, maka kesalahan mereka hanya pada lapangan ijtihadi (usaha dalam penetapan hukum).

Wallaahu a’lam bis showwaab

Daftar Pustaka

Al-Qur’an dan Terjemahannya
Bucaille, Maurice, Bibel, Qur’an, dan Sains Modern (terj), (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2007),
al-Ghazali, al-Munqiz Min al-Dlalal, (terj.) Abdullah bin Nuh, (Jakarta: Tinta Mas, 1996)
Hanafi, Ahmad, Antara Imam Al-Ghazali dengan Imam Ibnu Rusyd dalam Tiga Persoalan Alam Metafisika, (Edisi. I; Jakarta: Pustaka Husna, 1981)
Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisme Dalam Islam,  Jakarta: Bulan Bintang, 1978)
Rahman, Fazlur, Tema Pokok al-Qur’an, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1996)
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008),
Zar, Sirajuddin, Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam, Sains, dan al-Qur’an, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994)
____________, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: Raja Grafindo, 2004)

Situs :
 id.wikipedia.org
insistnet.com/pergulatan-filosofis-ibnu-sina-al-ghazali-dan-ibnu-rusyd/, diakses Juli 2014