Sebab Turunnya (Asbabun Nuzul) QS. al-Mu’minun (23): 2

Kenapa Shalat harus Menundukkan Kepala (Pandangan) ??? Ini dia Alasannya..

Ketika kita melihat seseorang yang menjalankan ibadah shalat, kebanyakan kita mendapati mereka melaksanakannya dengan menundukkan kepala, atau menundukkan pandangannya ke arah tempat sujudnya masing-masing.

Ternyata, menundukkan kepala atau pandangan ketika sedang shalat itu memang ada dasar atau sebabnya. Hal ini tidak lain adalah untuk menjaga pikiran dan hati kita masing-masing agar supaya bisa menjalankan ibadah shalat dengan khusyuk, tenang dan tidak ‘ngambang’ ke mana-mana.

Ayat yang menjadi dasar dari menundukkan kepala atau pandangan ketika shalat ini terdapat dalam QS. al-Mu’minuun surat ke 23 ayat dua, yang berbunyi sebagai berikut:

ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya.”

Dari ayat pertama sampai ayat sepuluh dalam surat tersebut, ayat di atas, menjadi salah satu ciri-ciri dari orang-orang mu’min . Dengan upaya menjalankan ibadah shalat dengan khusyuk, dan tenang inilah seseorang bisa lebih mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

Mungkin, tidak mudah bagi sebagian kalangan untuk menjalankan ibadah shalatnya dengan khusyuk dan tenang. Karena, ke-khusyuk-an itu sendiri berkaitan dengan hati, dan ini tentu bisa jadi berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

Makna penting yang terkandung pada ayat di atas, sebenarnya adalah agar seseorang mengetahui bahwa ketika sedang shalat, bisa fokus dan ingat kepada Allah SWT. Penjelasan ini dapat kita ketahui dari asbabun nuzul ayat tersebut yang  ada dalam pembahasan di bawah ini.

Berawal dari ‘Lirak-Lirik’ -nya Nabi SAW. (dan Para Sahabat) di Saat Shalat

Dalam kitabnya , ‘al-Mustadrak’, Imam al-Hakim menyebutkan sebuah riwayat yang berkaitan dengan turunnya ayat di atas. adapun bunyi haditsnya adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” كَانَ إِذَا صَلَّى رَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَنَزَلَتْ {الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ} [المؤمنون: 2] فَطَأْطَأَ رَأْسَهُ

Artinya:
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah SAW. , ketika sedang menjalankan ibadah shalat, Beliau mengangkat pandangannya ke arah langit. Maka, turunlah ayat ini (QS. al-Mu’minuun (23): 2). Maka, Rasulullah SAW., pun menundukkan kepalanya   (HR. al-Hakim)

Dalam riwayat lain, ada pula yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW., pernah pula memalingkan wajahnya. Ada juga sebuah riwayat dimana para sahabat ketika melaksanakan ibadah shalat (juga) memandang ke arah langit, maka turunlah ayat di atas, yang menjelaskan tentang etika orang yang sedang berdoa atau menjalankan ibadah shalat.

Nah, demikianlah sebab dari ayat tersebut diturunkan, selain menjadi ciri orang-orang beriman, tentu ayat tersebut juga menjadi peringatan bagi diri kita semuanya. Apakah dalam menjalankan shalat masih sering lirak-lirik atau minimal sudah bisa menjaga menundukkan kepala (pandangan) di waktu shalat?

Jika masih , maka alangkah baiknya jika kita tinggalkan kebiasaan buruk tersebut dan meniru untuk menundukkan kepala atau pandangan seperti apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW., agar bisa sesuai dengan tujuan dan makna dari shalat itu sendiri.

Wallaahu a’lam…

Sumber:
Al-Qur’an Digital v. 2.2

Al-Maktabah al-Syamilah v. 3.48

KBBI offline v. 1.1

Qamaruddin Shaleh, dkk, Asbabun Nuzul: Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat al-Qur’an, (Bandung: Diponegoro, cet. 2 ), t. th.