Istilah Darurat dalam Hukum Islam (Arti, Syarat-Syarat, beserta Kaidah Hukumnya)

Istilah darurat ini ternyata tidak hanya ada dalam dunia kedokteran dan kesehatan. Suatu keadaan yang sangat darurat, mau tidak mau pasti akan di bawa ke bagian UGD (Unit Gawat Darurat), sebuah unit khusus guna menanggulangi atau menyelamatkan keadaan pasien yang mempunyai keadaan parah, dan tidak bisa ditanggulangi oleh bagian perawatan.

Di bagian Unit Gawat Darurat (UGD) inilah seorang dokter serta perawat diperbolehkan melakukan tindakan medis di luar kewajaran, seperti operasi anggota badan atau mungkin yang lainnya yang sifatnya terpaksa.

Mengenal Darurat dalam Fikih Islam

Dalam agama Islam, terutama dalam kajian fikih, istilah darurat dipergunakan untuk membolehkan atau melakukan hal-hal di luar syariat atau aturan hukum, dikarenakan adanya keperluan ataupun kebutuhan yang sangat mendesak untuk menyelamatkan diri ataupun harta benda.

Perlu diketahui, dalam kamus-kamus bahasa, istilah darurat ini juga tidak hanya mempunyai makna-makna lain yang sifatnya suatu keperluan atau kebutuhan yang begitu mendesak. Tetapi juga ada yang mengartikannya dengan sebuah permintaan, syarat, atau prasyarat. Hal ini tidak lepas karena perbuatan yang dilakukan ketika keadaan darurat, biasanya membutuhkan syarat atau prasyarat tertentu, dan tidak boleh asal-asalan.

Kaidah Hukum (yang dipakai) dalam Kondisi Darurat

Ketika dalam kondisi darurat, ada beberapa kaidah hukum yang harus diketaui bersama. Kaidah hukum ini sudah di rumuskan oleh ulama ahli fikih. Tiga hukum kaidah yang harus diketahu antara lain adalah:

1. Ad-dharaar yuzalu (Bahaya tersebut memang harus dihilangkan)

Artinya, menghilangkan suatu bahaya dengan segala cara, agar tidak menimbulkan suatu bahaya yang lebih besar.

Contoh: menghilangkan suatu penyakit yang menempel pada anggota tubuh dengan cara operasi. Karena jika tidak penyakit tersebut akan bertambah besar atau ganas, sehingga bisa melumpuhkan kondisi fisik seseorang

2. Ad-dharuuratu tubiihul mahdhuuraat (Keadaan darurat, memperbolehkan sesuatu yang telah dilarang)

Artinya, dalam kondisi darurat seseorang diperbolehkan melakukan hal-hal yang dilarang dalam hukum Islam (syariat).

Contoh: seseorang yang kehabisan bekal atau sudah kehabisan makanan, sehingga untuk menyelamatkan hidupnya dibolehkan untuk memakan sesuatu yang telah diharamkan.

3. Ad-dharuuratu tuqaddaru bi qadarihaa (Keadaan darurat, disesusaikan dengan kadar darurat tersebut)

Artinya, suatu keadaan darurat sudah tidak dianggap darurat lagi, manakala keadaan darurat tersebut sudah bisa ditanggulangi dan ditangani dengan baik dan benar, dan sudah dianggap sebagai upaya penyelamatan yang semestinya dijalani. Sehingga tidak melebih-lebihkan atau mengurangi suatu tindakan.

Contoh: kasus-kasus yang telah disebutkan di atas, sudah tidak lagi disebut dengan darurat, manakala kadar dari darurat itu sudah hilang atau terpenuhi (sudah tidak dianggap darurat)

Penentuan Kapan Suatu Keadaan Dianggap Darurat?? Syarat-Syarat dan Kondisi ketika Darurat.

Seperti hal-hal yang lainnya, dalam istilah darurat ini, juga ada yang namanya syarat dan kondisi. Ulama fikih menyebutkan bahwa dalam kondisi terpaksa, atau jika tidak dilakukan akan menimbulkan sebuah kerusakan fatal. Seseorang diperbolehkan melakukan hal-hal yang dilarang.

Namun, dalam melakukan hal-hal yang terlarang tersebut, ada beberapa syarat atau kondisi yang perlu diketahui terlebih dahulu. Adapun syarat-syarat atau kondisi yang menentukan sesuatu hal tersebut masuk kategori darurat adalah:

Pertama, suatu keadaan atau kondisi yang memang sangat dan benar-benar bahaya dan membahayakan . Baik untuk diri sendiri ataupun harta benda.

Kedua, bahaya tersebut terjadi dalam keadaan langsung (sedang terjadi). Bukan bahaya yang belum terjadi atau bahaya yang akan terjadi.

Ketiga, sudah tidak ada jalan atau tindakan yang bisa dilakukan lagi, kecuali dengan menggunakan, atau memakai, sesuatu yang hukum aslinya adalah dilarang (haram)

Keempat, perbuatan yang dilarang tersebut bisa menjadi jalan keluar atas kejadian bahaya atau keadaan darurat yang tengah dihadapi.

Sumber:

Indi Aunullah, Ensiklopedi Fikih untuk Remaja (Jil. I), (Yogyakarta: Insan Madani, 2008)
KBBI offline v.1.1
VerbAce-Pro v.0.9.3