Rahmat Allah bagi yang Suka Memberi Maaf, Istighfar, dan Bermusyawarah (Tafsir QS. Ali Imran (3): 159)

Tidak Ngotot dalam Berdiskusi dan Bermusyawarah

Sebagai umat manusia yang berjumlah banyak tentu tidak mudah dalam mengambil sebuah keputusan, yang mana keputusan itu untuk berlaku bagi orang banyak. Dalam kehidupan sehari-hari, yang namanya sebuah musyawarah pasti sudah tidak bisa dihilangkan lagi.

Jikalau musyawarah ini dihilangkan, pasti akan terjadi kerancuan dalam pola kehidupan masyarakat sekitar kita semuanya. Hal ini dikarenakan adanya keputusan yang diambil secara satu pihak saja bukan melalui jalan sebuah mediasi ataupun sebuah musyawarah untuk memecahkan suatu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak pihak.

Dalam kesempatan ini maka, penulis ingin menyampaikan pesan singkat dari al-Qur’an (QS. Ali Imran: 159), bahwa yang namanya musyawarah memang diperlukan. Mulai dari ranah kekeluargaan, keorganisasian, kelembagaan, dan lain sebagainya

QS. Ali Imran (3): 159, Ayat dan Terjemahannya:

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

Artinya:

“Disebabkan rahmat dari Allah-lah, maka kamu bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri darimu. Karena itu maafkan kesalahan mereka, mohonkan-lah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan umat. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang pasrah kepada-Nya.”

Kata-Kata Kunci:

فَظًّا   : watak yang kasar dan keras (yang sangat dibenci) dalam bergaul, baik berupa perbuatan maupun sikapnya

غَلِيظَ : hati yang keras dan yang tidak bisa dipengaruhi oleh apapun.

فَٱعۡفُ : ungkapan untuk menyampaikan sesuatu yang bisa meng-hapus dan membebaskan seseorang dari kesalahan atau perbuatan dosa yang dilakukannya

ٱسۡتَغۡفِرۡ : memberikan perlindungan lewat perbuatan dan perkataan terhadap seseorang, dari sesuatu yang bisa membuatnya kotor, sehingga orang tersebut selalu dalam keadaan aman dan nyaman.

شَاوِرۡهُمۡ : mengeluarkan pendapat dengan merujuk kepada bagian satu ke bagian lain, dan dari ucapan satu ke ucapan lain (dengan mempertimbangkan kembali pendapat tersebut kepada pendapat yang lain)

عَزَمۡتَ : menetapkan hati (mantab) untuk melaksanankan suatu tujuan atau cita-cita

فَتَوَكَّلۡ : menyandarkan segala sesuatu yang terjadi pada diri kita kepada Allah SWT.

Kandungan Ayat:

Ayat di atas, mengandung penjelasan tentang ayat sebelumnya (ayat 152-155), yang berhubungan dengan peristiwa perang Uhud, dimana sebagian sahabat nabi melanggar perintah Nabi SAW, sehingga mengakibatkan kegagalan umat muslimin dalam berperang dan kaum musyrikin-pun dapat mengalahkan mereka dan Rasulullah SAW.

Banyak dari umat Islam waktu itu yang mengalami luka-luka. Namun Nabi SAW tetap sabar dan tahan uji, bersikap lemah lembut, dan tidak mencela kesalahan para sahabat-sahabatnya yang melakukan pelanggaran.

Disebutkan juga andaikata Nabi SAW. bersikap kasar dan galak pada mereka (kaum muslimin) dalam ber-mu’amalah, tentu mereka akan bubar (meninggalkan) serta tidak menyenanginya, sehingga Nabi sendiri tidak bisa menyampaikan dakwah, hidayah dan bimbingan kepada mereka semua ke arah jalan yang lurus.

Dikarenakan menyampaikan hidayah dan bimbingan merupakan tugas utama para rasul, maka seorang rasul mempunyai sikap yang lemah lembut, pemurah, mulia, memaafkan serta melupakan kesalahan yang dilakukan oleh seseorang yang berbuat dosa, dan membimbing orang tersebut untuk berbuat baik, dan bersikap belas kasih, lantaran seseorang tersebut membutuhkan bimbingan dan hidayah.

Dari sinilah terletak penjelasan dari lafadz عَفْوٌ (‘afwun) dan  اِسْتَغْفِرْ (istaghfir) karena ke dua sikap itulah yang diperlukan sosok pemimpin untuk tetap menjaga keutuhan dan persatuan umat ketika sedang mengalami kekalahan dalam berperang, sehingga tidak mudah bercerai berai. Tetapi tetap solid dalam persatuan dan kesatuan umat.

Perintah untuk Musyawarah

Dalam ayat ini juga menjelaskan tentang perintah untuk musyawarah, meskipun bersangkutan dengan peristiwa perang, musyawarah di sini juga bisa diterapkan dalam masalah-masalah lain yang berhubungan dengan kepentingan bersama.

Memang ketika, sudah diambil suatu keputusan bulat dalam musyawarah tersebut kita tidak bisa lagi ‘protes’. Karena kita harus tahu, yang namanya musyawarah ini adalah sebagai salah satu mediasi untuk mengambil jalan tengah ketika ada kebuntuan atau permasalahan dari dua pihak atau lebih.

Manfaat Musyawarah..

Adapun faedah-faedah yang membuat istimewa dalam hal musyawarah diantaranya :

1. Dapat mengetahui kemampuan akal, pemahaman, kadar kecintaan dan keikhlasan terhadap kemashlahatan umum

2. Semua pendapat yang ada diuji kemampuannya dan setelah itu dipilih yang terbaik.

3. Kemampuan akal manusia yang bertingkat-tingkat dan berbeda-beda, sehingga menyebabkan antara satu dengan yang lain mempunyai kelebihan masing-masing.

Jalan Terakhir setelah Musyawarah …. (Tawakkal)

Dari perintah untuk bermusyawarah di atas, kemudian dilanjutkan dengan membulatkan tekad dan bersedia untuk bertanggung jawab atas keputusan yang diambil, dilanjutkan lagi dengan perintah untuk bertawakkal kepada Allah. Menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Dalam bertawakkal ini kita dilarang untuk mengandalkan kemampuan dan kekuasaan diri sendiri, juga jangan terlalu yakin terhadap pendapat dan perlengkapan yang cukup memadai. Karena semua itu tidaklah cukup menunjang keberhasilan usaha. Selagi tidak dibarengi pertolongan dan taufik Allah.

Setelah Tawakal.., Tetap Wajib Kerja

Ayat ini kemudian diakhiri dengan penjelasan bahwa Allah mencintai orang-orang yang senantiasa bertawakal (mutawakkiliin). Seperti yang dikutip oleh Musthafa al-Maraghi, Imam al-Razi, mengatakan bahwa tawakal bukan bukan berarti manusia harus melupakan andil dirinya. Apabila demikian pengertiannya, berarti perintah bermusyawarah bertentangan dengan prinsip tawakal.

Pengertian tawakkal sebenarnya ialah hendaknya seseorang dalam berusaha selalu memperhatikan sebab-sebab lahiriyahnya yang bisa mengantarkannya ke arah keberhasilan. Hanya saja janganlah percaya sepenuh hati terhadap sebab-sebab lahiriyah tersebut, bahkan ia harus berkeyakinan bahwa yang dilakukannya hanyalah untuk memelihara hikmah Ilahi semata.

Penutup..

Sebenarnya, masih banyak lagi penjelasan mengenai ayat QS. Ali Imran :159 di atas, namun karena ada keterbatasan, hanya uraian singkat di atas yang bisa penulis sampaikan. Semoga dengan belajar dari ayat di atas kita bisa semakin mudah dalam mengambil tindakan dan tidak gegabah ketika ada ajakan untuk berdiskusi atau  bermusyawarah.

Wallaahu a’lam

Sumber:
Al-Qur’an dan Terjemahannya
Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsiir al-Maraghii (terj.), (Semarang: Toha Putra, 1993)
Raghib al-Ashfihani, Mu’jam Mufradaat Alfaadz al-Qur’aan, (Beirut: Dar al-Kutub al‘Ilmiyah, 2004 )
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa , 2008)

Situs:
http://media.isnet.org/islam/Quraish/ Wawasan/Musyawarah1.html, diakses tanggal 13 November 2013