Merefleksikan Diri seperti al-Qur’an (Tafsir QS. al-Qalam : 4 )

” Training Akhlak …” (Mendidik Diri menjadi Insan Mulia)

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤

Artinya:
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar selalu berada di atas budi pekerti yang agung”.

Ababun Nuzul..

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Kitab al-Dalaail dan al-Wahidi, dengan sanad yang bersumber dari ‘Aisyah ra. bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki akhlak yang lebih mulia daripada akhlak Rasulullah SAW. apabila seseorang memanggil beliau, baik sahabat, keluarga, ataupun penghuni rumahnya beliau selalu menjawab: “Labbaik (saya memenuhi panggilanmu)”.

Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa Rasulullah SAW memiliki akhlak yang sangat terpuji.

Kajian Lafadz Akhlak

Dalam al-Qur’an lafadz (خُلُق ) khuluq hanya berjumlah dua, satu dalam QS. al-Qalam ayat 4 ini dan satunya lagi terletak pada QS. al-Syu’ara: 137

إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ١٣٧

Artinya:
“Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan (kebohongan) orang- orang dahulu”

Lafadz (اخلاق ) akhlaaq yang merupakan jama’ dari lafadz (خُلُق ) khuluq di atas mempunyai arti potensi kejiwaan yang mantap pada diri seseorang yang mengantarnya melahirkan aneka kelakuan secara mudah dan tanpa dibuat-buat.

Potensi ini dikembangkan melalui pendidikan, latihan serta keteladanan. Seperti: latihan dari sikap sadar akan yang baik adalah baik dan yang buruk adalah buruk, lalu dibiasakan untuk berbuat itu, sehingga lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan. Latihan ini ditekankan supaya manusia tidak mau mengerjakan akhlak yang buruk dan selalu mengerjakan akhlak yang baik dan berusaha terus-menerus menjalaninya sehingga menjadi insan yang baik pula.

Sama Hurufnya, tapi Beda Tanda Bacanya

Ini berbeda dengan lafadz khalqun (خلْق) yang mempunyai jama’ (مخلوقات atau خلائق ) makhluuqaat atau khalaa-iq, yang artinya menjadi beberapa makhluk ciptaan. Meski sama-sama terdiri dari tiga huruf kha-lam, dan qaf. Jika ditelusuri lebih dalam dari segi makna, maka lafadz khuluq dan khalqun tidak bisa dipisahkan.

Lafadz khuluq (خُلُق)  lebih mempunyai arti yang mendalam (batin), karena dari potensi yang mendalam itulah seseorang tergerak fisiknya untuk melakukan apa yang sudah biasa ia lakukan, dan dari sini pula seseorang tersebut baru bisa dinilai, apakah orang tersebut mempunyai akhlak yang baik atau buruk.

Adapun lafadz khalqun lebih tertuju pada pemaknaan dzahir (lahir), artinya untuk memahami khalqun di sini, seseorang tidak memerlukan kajian yang berlarut-larut, ibarat kata jika ada seseorang pelayan yang menghormati majikannya. Perbuatan menghormati itu masuk kategori dalam kebaikan, tapi kita tidak tahu pelayan yang menghormati majikannya tadi apakah memang benar-benar hormat atau mempunyai niat yang lain, misalnya supaya ingin di naikkan pangkatnya.

Adapun lafadz khuluq (خُلُق) tersebut disandarkan dengan lafadz (عظيم) ‘adziim, mempunyai pemahaman tentang pribadi nabi Muhammad itu sendiri yang mempunyai sikap-sikap terpuji dan mulia.

Diantaranya adalah menjaga amanah, dapat dipercaya, ber-sosialisasi dan berkomunikasi efektif dengan umat manusia sesuai harkat dan martabatnya, membantu sesama manusia dalam kebaikan, memuliakan tamu, menghindari pertengkaran, memahami nilai dan norma yang berlaku, menjaga keseimbangan ekosistem, serta bermusyawarah dalam segala urusan untuk kepentingan bersama, dan lain-lainnya.

Akhlak mulia seperti di ataslah yang kita perlukan sekarang dalam meningkatkan upaya kecakapan manusia (soft kills), dan salah satu upaya guna menuju terwujudnya masyarakat yang ber ‘akhlakul karimah’ antara lain adalah melalui media pembelajaran atau pendidikan. Baik di sekolah, rumah atau lingkungan yang menjadi tempat tinggal bersama.

Penutup

Dari ayat empat QS. al-Qalam di atas, juga menjelaskan secara langsung tentang akhlak nabi Muhammad SAW. yang begitu mulia. Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah refleksi dari al-Quran.

Beliau menambahkan lagi, sesungguhnya karakter (akhlak) Rasulullah SAW merupakan wujud dari ketaatan beliau SAW terhadap perintah dan larangan Allah SWT. Beliau senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya. Wajar (saja) manakala dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW., pernah bersabda:

إنّما بعثت لأتمّم صالح الأخلاق

Artinya:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” [HR. Ahmad]

Wallaahu a’lam bis shawwaab

Sumber:

Abu al-Fida’ ‘Isma’il ibn ‘Umar ibn Katsir al-Qurasyi, Tafsiir al-Qur’aan al-‘Adziim, (t.tp: Dar Thayyibah, 1999 M)

Abu al-Husain Ahmad bin Faris, Mu’jam Maqaayis al-Lughah, (t.tp: Daar al-Fikr, 1979)

Ahmad bin Hambal Abu Abdullah al-Syaibani, Musnad Ahmad bin Hanbal, (Kairo: Muassasah Qurthubah, t.t)

K .H.Q. Shaleh, dkk. Asbabun Nuzul; Latar Belakang Historis Turunnya al-Qur’an, (Bandung: CV. Diponegoro, t.t)

Muhammad Fuad Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahraas li Alfaadz al-Qur’aan, (Beirut: Daar al-Fikr, 1981)

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbaah ; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002)

Situs:

http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=3693 :berbagai-landasan-pengembangan-softskills&catid=35:artikel&Itemid=210, diakses tanggal 14 November 2013