Ketika Pasien Bertanya

Jernihkan Pikiranmu, Jangan Kau Kotori

Sebagai seorang pasien yang menjalani prosesi rawat jalan, tentu akan memeriksakan dirinya sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh dokter yang memeriksanya. Apakah itu satu bulan sekali atau dua minggu sekali atau mungkin seminggu atau tiga hari sekali.

Hal ini sangatlah penting bagi seorang dokter dan seorang pasien, selain untuk konsultasi mengenai perkembangan kondisi tubuh, juga untuk meng-konsultasi-kan kalau ada keluhan-keluhan yang diderita oleh pihak pasien.

Dari prosesi rawat jalan yang dijalani oleh seorang pasien dengan dokter, tentu ada beberapa hal yang (mungkin) di dalamnya ada nuansa humor, roantis, dan lain-lainnya. Termasuk cerita salah seorang pasien di bawah ini yang sedang konsultasi dengan salah seorang dokter di rumah sakit jiwa.

Begini Ceritanya:..

Ketika ada panggilan nomor urut untuk masuk ke ruang dokter:

Pasien : Assalamu’alaikum, selamat pagi Pak Dokter
Dokter : Wa’alaikum salam, selamat pagi…, silahkan duduk. Pasien pun menempatkan diri untuk duduk di kursi yang telah disediakan.. “ Bagaimana kondisinya sekarang ??”

P. : “Baik Pak Dokter”, jawabnya
D. : “Bulan ini sakitnya masih kambuh???”
P. : “Masih Pak Dokter, sekitar satu sampai tiga kali”

D. : “Ya, sudah, yang penting kondisi badannya dijaga dan jangan lupa untuk rutin minum obatnya”
P : “Ooo…,  iya Pak Dokter, mau tanya…” , “ apakah yang namanya pikiran kotor itu juga bisa mempengaruhi penyakit saya ini Pak Dokter???”

Ternyata Pikiran Kotor itu..

Sembari menulis resep obat dan surat kontrol bulan berikutnya, Pak Dokter pun berhenti sebentar dan menjawab:

D. : “Pikiran kotor yang bagaimana??”, “Soalnya pikiran kotor itu ada dua..”. Pasien sempat bengong, karena baru kali ini dapat ilmu yang namanya pikiran kotor itu ada dua…”
D. : “ Pertama, pikiran kotor yang berkaitan tentang wanita (lawan jenis). Kedua, pikiran kotor yang berkaitan tentang masalah kriminalitas”

P. : “OO.., untuk kalau yang ini kaitannya dengan masalah wanita Pak Dokter., yang ada kaitannya dengan pornografi dan pornoaksi” . Jawab pasien karena agak malu menjawabnya.
D. : “lha, sudah nikah apa belum ???”, Pertanyaan Pak Dokter pada pasiennya ..
Karena memang belum menikah, maka pasien tersebut menjawab: “Belum, Pak Dokter”.

D. : “Kalau belum, ya cepetan cari jodoh, terus menikah, biar sakitnya nggak mudah kambuh” .
P. : “Minta doanya Pak Dokter, biar ketemu jodohnya”. Pak Dokter pun menanyakan nama pasiennya.
D. : “Namamu siapa??’
P. : “Abdul Wahid, Pak Dokter”
D. : “Ya, saya doakan, Mas Wahid cepet ketemu jodohnya dan cepat sembuh sakitnya.” Mendengar jawaban tersebut, pasien tersebut merasa senang sekali, dan mengucapkan “Aaamiin, terima kasih banyak. “

Setelah itu, Pak Dokter pun memberikan resep obat serta surat untuk kontrol bulan berikutnya.

Mulai Fisik sampai ke Psikis Pasien

Dari bincang-bincang dengan dokter di atas, pasien tersebut baru tahu ternyata, yang namanya pikiran kotor itu terbagi menjadi dua macam, yaitu: berkaitan dengan lawan jenis (syahwat), dan berkaitan dengan hal-hal kriminalitas.

Ditambah lagi dengan seorang dokter, yang begitu ramah dan lugas dalam memberikan penjelasan dan ‘resep’ kepada seorang pasien, yang memang perlu bertanya mengenai hal-hal yang sering menganggu kondisi badannnya, mulai dari fisik sampai psikisnya.

(Surakarta, 2014)

Read More

    Posts not found.

    Sorry, no other posts related this article.