Menunggu ‘Hidayah’ atau Menjemput Hidayah-Nya

Memancing Energi Positif  yang Terpendam

Sebagai makhluk sosial, pasti dalam hati setiap manusia menyimpan rasa untuk berbagi dan saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain sesuai dengan kodratnya. Hal ini tentu berlaku bagi siapapun, tidak memandang umur ataupun kasta. Selama kita masih diberikan kekuatan untuk berbagi, pasti ada sesuatu yang memang harus kita bagikan.

Ada suatu cerita, yang bisa menjadi cerminan bagi diri kita sendiri. Suatu hari ada seorang pengusaha muda sukses di bidang bisnis yang digelutinya. Pengusaha muda tersebut menaiki kendaraan mewahnya dengan cepat di jalan yang memang tidak begitu ramai, dan dengan rute yang lurus.

Sembari menikmati musik yang diputar, pemuda tersebut semakin cepat menginjak pedal gasnya. Kemudian dengan tiba-tiba, terdengar sebuah bunyi keras dari bagian samping kendaraanya tersebut. Mendengar suara keras tersebut, pengusaha muda itu, menghentikan kendaraannya.

Dirinya segera bergegas turun untuk melihat apa yang sedang terjadi kendaraan mewahnya tersebut. Ternyata, bagian samping dari kendaraan tersebut penyok terkena lemparan batu dari seorang anak kecil yang tidak jauh di belakangnya. Dengan segera pemuda tersebut kembali dan membalik arah kendaraannya, menuju anak kecil tersebut.

Dengan penuh emosi, pengusaha muda tersebut lantas menarik baju anak kecil tersebut sambil memarahinya. “Apa yang kamu lakukan??, apa nggak tahu, biaya untuk memperbaikinya..??, sebenarnya mau apa kamu melakukannya

Sembari ketakutan anak kecil tersebut berkata: “maafkan saya, saya tidak tahu harus bagaimana lagi…, saya melempar kendaraan anda, karena tidak ada yang mau berhenti”. Dengan air mata yang menetes, kemudian anak kecil tersebut mengarahkan jarinya kepada arah yang tidak jauh darinya.

Tadi saya terserempet mobil dan itu saudara saya, terguling dan jatuh dari kursi rodanya, dan saya tidak kuat mengangkatnya dengan kondisi saya seperti ini”. Anak kecil itu memohon kepada pemuda tersebut untuk membantu mengangkatnya dan mendudukkannya di kursi rodanya kembali.

Mendengar alasan yang diucapkan anak kecil tadi, pengusaha muda tersebut memaksa menahan amarahnya yang begitu menggebu-gebu. Kemudian, pengusaha muda tersebut mengangkat saudara anak kecil ini dan menempatkannya di kursi roda.

Ia pun bersegera mengambil peralatan kesehatan yang ada di kendaraannya untuk pengobatan sementara dari luka kedua anak tersebut. Setelah itu, anak kecil tersebut dengan dipenuhi rasa syukur berterima kasih kepada pemuda tersebut. dan mendoakannya. “Semoga Allah memberkahi hidup dan perjalanan anda, Tuan

Kedua anak tadi pun melanjutkan perjalanannya kembali menuju rumahnya. Sambil menuju kendaraannya, pemuda tadi memperhatikan kedua anak kecil yang hampir saja dimarahinya.

Pemuda tersebut melihat sebentar, bagian samping kendaraannya yang sudah penyok gara-gara lemparan batu yang lumayan keras. Bagi dirinya, berapapun harga untuk memperbaiki bagian kendaraan yang rusak tersebut, sudah pasti bisa tercukupi.

Tetapi gara-gara sebuah lemparan batu itulah, dirinya sadar bahwa hal itu bisa jadi suatu teguran dari Sang Pencipta, Dzat Yang Maha Mengasihi dan Menyayangi, dan hal seperti inilah yang sangat biasanya sulit untuk dilupakan. Akhirnya dengan menghela nafas panjang pengusaha muda tadi mengurungkan kembali niat untuk memperbaiki kendaraannya.

Pemuda tersebut menjadikannya sebagai moment untuk selalu ingat, dan dzikir, bahwa hanya ada dua pilihan bagi manusia. Pertama, datang untuk mendekatkan diri pada-Nya dan Kedua, menunggu ‘batu’ yang dilemparkan dengan keras ke arah kita

Bersyukurlah Ketika (Masih) Ada yang Menegur

Suatu teguran bisa saja bersifat lembut dan halus, atau bisa saja bersifat kasar dan keras. Kisah di atas tadi memberikan gambaran pada kita semuanya, hendaklah kita tetap bersyukur manakala hati kita masih tetap bereaksi ketika kita melakukan suatu perbuatan maksiat atau yang mengandung unsur dosa.

Hal ini sebagai bukti bahwa hati kita masih tetap berjalan pada fitrahnya, dimana selalu menginkan suatu kebaikan dan menolak suatu keburukan, dan tetap menyerukan untuk selalu kembali kepada Ilahi Rabbi.

Suatu teguran yang sifatnya keras dan kasar, itu merupakan sebuah bukti bahwa Allah tetap memperhatikan hamba-hamba-Nya untuk segera kembali ke jalan yang benar, jalan yang sudah ditentukan. Oleh karena itulah kita semua harus bersyukur ketika masih ada yang mau menegur atas apa yang kita lakukan.

Bisa jadi itu adalah sebuah tanda cinta dari Tuhan kepada hamba-hamba-Nya yang memang butuh teguran keras, agar sadar diri dan segera mohon ampun (istighfar), dan kembali lagi kepada jalan lurus (shirothol mustaqim), dan proses ini tentu butuh yang namanya syukur dan sabar.

Sumber :

Muhammad H. Bashori, 99 Inspirasi Pagi bagi Setiap Muslim: Awali Anda dengan Membakar Semangat, (Surakarta: al-Qudwah, 2014)