Mencium atau Tidak, itu Pilihanmu…

Mencium al-Qur’an, Bagaimana Hukumnya???

Ketika ada orang yang sesudah mengaji al-Qur’an, lalu orang tersebut mencium mushaf al-Qur’an tersebut, tentu ada sebagian dari kita (yang belum tahu) bertanya-tanya, “kenapa setelah selesai membaca mushaf al-Qur’an tersebut dicium juga yaa??”, .

Bagi sebagian kalangan, ketika mereka selesai membaca atau mengaji al-Qur’an, tentu mereka segera meletakkan kembali mushaf al-Qur’an tersebut dan menatanya dengan rapi, kemudian melanjutkan kembali aktifitas yang akan dikerjakannya.

Tetapi, bagi sebagian kalangan yang lain, ketika mereka selesai atau sebelum membaca al-Qur’an tersebut, mereka terlebih dahulu menciumnya, dan baru meletakkannya dengan rapi, baru melanjutkan aktifitasnya kembali.

Hukumnya apa?? Dalilnya dari mana??

Pastinya ada suatu alasan tertentu ketika seseorang yang selesai membaca al-Qur’an kemudian menciumnya kembali. Dalam ilmu al-Qur’an, hukum mencium al-Qur’an ini dihukumi sunnah. Keterangan ini dapat kita lihat dalam kitab al-Burhaan fii ‘Uluumil al-Qur’an karya Imam az-Zarkasyi, yang tertulis sebagai berikut :

وَيُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْمُصْحَفِ لِأَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ كَانَ يُقَبِّلُهُ وَبِالْقِيَاسِ عَلَى تَقْبِيلِ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ وَلِأَنَّهُ هَدِيَّةٌ لِعِبَادِهِ فَشُرِعَ تَقْبِيلُهُ كَمَا يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْوَلَدِ الصَّغِيرِ

Artinya:

“Dan disunnahkan untuk mencium mushaf al-Qur’an karena sahabat ‘Ikrimah bin Abu Jahal ra. juga pernah menciumnya, dan hal ini di-qiyas-kan (disamakan) atas kesunnahan dengan mencium hajar aswad. Dan karena al-Qur’an merupakan sebuah hadiah dari Allah swt., maka di’anjur’kan untuk menciumnya. Hal ini sebagaimana disunnahkannya mencium anak kecil (sebagai wujud rasa cinta dan kasih sayang)”

Sebagai penguat, keterangan di atas juga bisa kita temukan dalam kitab Al-Itqaan Fii ‘Uluumil al-Qur’an, karya  Imam Jalaluddin as-Suyuthi,  meskipun sedikit beda redaksi tetapi mempunyai inti yang sama. Meskipun demikian, perbedaan ini hanyalah satu pendapat saja. Bisa saja muncul pendapat yang berbeda sama-sama baiknya.

Menurut Imam Ahmad keterangan di atas tidak bisa masuk kategori qiyas, karena Al-Qur’an sendiri sudah merupakan sesuatu yang agung lagi mulia. Untuk sedikit menjelaskannya Beliau mengambil ‘sample’ perihal  sahabat Umar bin Khattab ra. yang mencium hajar aswad dan kemudian berkata: “Sungguh, seandainya aku tidak melihat Rasulullah saw. menciummu, maka aku tidak akan menciummu”

Akhirnya..

Setelah mengetahui sedikit informasi di atas, pastinya kita semua akan berfikir. Karena sebagai suatu yang mulia, agung dan menjadi pedoman umat manusia. Adapun pilihan itu tetap di tangan kita.

Selama kita tetap membaca dan mempelajari dan men-tadabbur-i ayat-ayat al-Qur’an, itu adalah suatu bentuk ibadah yang baik. Daripada kita tidak menyentuh sama sekali, atau malah tetap membiarkan al-Qur’an tetap tertata rapi selama satu tahun penuh tanpa membacanya satu ruku’ pun.

Sumber:

Al-Maktabah al-Syamilah v. 3.48

Kamus Besar Bahasa Indonesia v.1.1

Ahmad Zahrudin M. Nafis, Santri Bertanya: “Mengupas Secara Tuntas Permasalahan Sehari-hari Terkait Ibadah yang Wajib Diketahui”, (Jakarta: Qibla, 2014)