Antara Setanku, Setanmu, dan Setan Kita

Penyampaian Materi Guru Besar Setan kepada ‘Anak Didik’-nya

Namanya Guru Besar tentunya sudah membidangi hal-hal yang sangat mendetail dan terperinci, sehingga pengetahuannya dalam bidang yang ditekuninya tidak bisa diragukan lagi.

Sama dengan seorang profesor yang dari hasil penelitian dan kajiannya yang berkali-kali dilakukan membuahkan hasil baru yang bisa dipertanggungjawabkan, berguna dan bermanfaat serta bisa digunakan oleh banyak pihak.

Dalam suatu cerita, bahwa tidak hanya manusia saja yang punya guru besar. Setan pun yang bertugas untuk mengganggu kehiupan umat manusia juga punya guru besar, namanya saja guru besar setan, pasti ‘anak didik’nya diajak atau diberikan materi khusus, yakni untuk memalingkan umat manusia dari ajaran-ajaran Tuhannya.

Perhatikan dengan Baik dan Jangan Lupa untuk Tujuh Langkah Ini…

Dalam suatu perkumpulan yang dihadiri oleh banyak setan dari golongan pemula. Guru besar setan menyampaikan tujuh langkah yang harus diperhatikan, jika ingin membuat para pengikut mereka semakin banyak jumlahnya. Lalu bagaimana dan apa saja tujuh langkah tersebut. Guru besar setan pun menyebutkan satu persatu*:

Pertama, Suatu hal yang keliru manakala sebuah kegembiraan dianggap sebagai salah satu tipu muslihat yang dapat membuat manusia terjerumus menjadi pengikutnya. Guru besar setan menambahkan.

Perlu diingat bahwa selama ada kegembiraan. di situ manusia masih dalam kuasa Tuhan. Kalian semua harus tahu dan bisa membedakan kegembiraan mana yang bisa melahirkan kerusuhan dan sesuatu yang tidak ada nilainya. Inilah yang harus menjadi sasaran utama kalian.

Kedua, Jangan terlalu fokus kepada mereka yang agamanya kuat. Kalian sudah tahu bahwa manakala hati seorang manusia itu penuh dengan sesuatu yang ragu, baik itu akibat ada masalah ataupun bencana.

Tidak usah ngoyo, buatlah masalah pada diri mereka sehingga menjadi resah terus menerus, jika manusia tersebut tidak punya kepercayaan yang tinggi kepada Tuhannya, maka dengan sedikit godaan saja pasti manusia tersebut sendirinya menjadi pengikut kita.

Ketiga, kalian janganlah merasa kesulitan menghadapi manusia yang selalu mengajak berbuat kebaikan di hadapan orang lain dengan bangga. Karena dengan sikap yang seperti itu, mereka hampir mendekati sifat-sifat yang ada pada kita. Maka, tanamkanlah rasa bangga yang demikian itu sedini mungkin, sehingga kalian juga bisa ikut senang.

Keempat, tugas setan yang perlu segera ditindak lanjuti adalah bagaimana menghilangkan harapan dari orang yang percaya akan adanya Tuhan. Ketika manusia sudah tidak mempunyai tempat harapan inilah, ibadahnya akan dilakukan dengan begitu saja, tanpa membuka mata batinnya. Sehingga tidak mampu lagi melihat kebesaran atau mukjizat yang ada pada setiap aturan-Nya dan makhluk yang telah diciptakan-Nya.

Jangan sekali-kali kalian terjebak dalam ateisme, karena ketika manusia sudah tidak mengakui akan adanya Wujud Tuhan, berarti manusia juga ingkar akan adanya wujud setan.

Kelima, diantara jebakan yang manjur untuk manusia adalah menjauhkan kondisi dirinya yang ada pada saat ini dengan kondisinya yang akan datang. Sehingga manusia tersebut lupa diri untuk mengintrospeksi apa yang sudah dilakukannya…, apa yang sedang dilakukannya…, dan hanyut dalam keadaan yang putus asa, karena apa yang dinginkanya itu “cuma mimpiii..”

Keenam, sebagai pemula, para setan harus menaruh rasa benci terhadap semua paham yang dianut oleh manusia, tanpa peduli. Ketika rasa benci itu sudah ada dan tumbuh pada diri manusia, pastinya muncul rasa permusuhan antara mereka. Tidak akan ada yang namanya suatu perdamaian, kecuali masih ada rasa cinta dalam hati mereka.

Ketujuh, puncak kesuksesan sebagai setan adalah menguasai diri manusia, sehingga manusia yang mereka jadikan sasaran sudah tidak lagi melihat alam semesta yang diciptakan-Nya ini sebagai sesuatu yang luar biasa, penuh keajaiban, keunikan, dan keistimewaan. Melainkan hanya sesuatu dari kumpulan kejadian yang terus berulang-ulang.

Sudah Ada Berapa yang Jadi Pengikutmu ???

Setelah mendengarkan materi dari guru besarnya, setan pemula ini akhirnya dengan bersegera melaksanakan pesan dan langsung hinggap dalam diri umat manusia sesuai dengan apa yang telah diberitahukannya tadi.

Mereka berlomba-lomba, agar manusia yang bisa jadi pengikutnya semakin bertambah. Tanpa putus asa dan rasa lelah sedikit pun, setan-setan ini memakai caranya masing-masing yang mereka sukai. Sampai suatu saat ketika mereka bertemu di suatu tempat mereka ngumpul bareng, dan bertanya satu sama lain… “Sudah berapa yang menjadi pengikutmu??”…

*) dikutip dari M. Quraish Shihab, Yang Ringan dan Yang Jenaka, (Jakarta: Lentera Hati, 2007)