Ketika Malaikat Bertanya …

Keberatan Malaikat Atas Penciptaan Adam sebagai Khalifah (Manusia )

Manakala ada sebuah pameran atau pertunjukan, entah itu film, wayang, atau event-event lainnya yang sengaja dibuka untuk umum, pastinya pihak penyelenggara harus sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan berbagai hitungan yang matang.

Selain itu, tentu penyelenggara event tersebut mengusahakan agar film, pameran atau pertunjukan tersebut bisa membuat para penonton lega dan puas dengan acara yang dihadirinya. Sehingga bisa membuat event tersebut mendapatkan rating yang tinggi diantara event-event yang lainnya.

Hal tersebut akan menjadi berbeda di mata para penonton, manakala event tersebut kurang tersaji secara bagus dan indah, karena ada beberapa miss communication dari pihak penyelenggara, sehingga pemeran utama dari event tersebut disepelekan.

Ya Allah, Kenapa harus Engkau Ciptakan Khalifah (Manusia) Segala? (QS. al-Baqarah: 30-32).

Gambaran kondisi di atas, mungkin hampir sama dengan ayat-ayat al-Qur’an yang mana menjelaskan tentang prosesi penciptaan Adam di alam raya ini. Di mana makhluk yang bernama Adam ini sempat di’protes’ keberadaannya oleh penonton-Nya yakni para malaikat.

Para malaikat ini menuding bahwa penciptaan Adam (sebagai manusia ) justru malah akan berbuat rusak. Allah swt., pun berkalam: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”

Dengan diberikan anugerah khusus yakni kepada akal, yang telah diberikan Adam, Allah swt., pun menguji Adam dengan pertanyaan-pertanyaan, dimana pertanyaan-pertanyaan tersebut, tidak bisa dijawab oleh para malaikat. Dari sinilah kemudian para malaikat mengakui akan ketidak mampuannya.

Malaikat-pun Gagal Fokus dalam Pembuktiannya.

Setelah melihat tingkah laku manusia dalam menjalankan tugasnya di muka bumi. Maka, para malaikat merasa benar akan kekhawatirannya yang terdahulu, tentang kerusakan yang akan diperbuat oleh mahkluk pilihan Allah tersebut.

Para malaikat pun banyak yang melihat bahwa betapa makhluk Tuhan melakukan berbagai pelanggaran. Sehingga membuat mereka terheran-heran dan dugaannya yang terdahulu adalah benar.

Selanjutnya, para malaikat tersebut diperintahkan oleh Allah untuk mewakili dari jenis mereka sendiri untuk membuktikan bahwa merekalah yang mampu mengelola bumi ini. Namun demikian, layaknya Adam, mereka diberikan bekal syahwat dan nafsu terlebih dahulu guna menjalankan tugas-tugasnya yang sama dengan manusia di muka bumi.

Dari para malaikat tersebut, terpilihlah malaikat Harut dan Marut, guna mewakili dan membuktikan bahwa merekalah yang pantas ditugaskan dalam mengelola bumi ini. Tetapi belum genap satu bulan dalam melaksanakannya, dua malaikat ini tergoda oleh rayuan seorang perempuan kepada mereka.

Karena sudah dibekali syahwat dan nafsu layaknya Adam, mereka berdua akhirnya merayu perempuan tersebut, tetapi perempuan tersebut enggan dengan keduanya, sebelum mereka meminum minuman keras dan juga membunuh.

Dari sinilah kemudian para malaikat yang diwakili oleh Harut dan Marut, merasa gagal akan apa yang telah menjadi kekhawatirannya terdahulu. Begitulah tafsiran singkat mengenai QS. al- Baqarah: 102 yang dijelaskan dalam oleh Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya.

Pelajaran Penting

Dari kisah singkat inilah, kita bisa belajar bersama, bahwa janganlah sekali-kali diri kita sebagai makhluk Allah mengejek ciptaan Allah yang lain, entah itu makhluk yang sesama jenis, dalam arti manusia atau berbeda jenis bisa tumbuhan, hewan dan segala sesuatu (gunung, lautan, daratan, dan sebagainya) yang semuanya hanya berdzikir, tunduk dan patuh kepada perintah-Nya.

Walloohu a’lam bis showwaab