Hukum Membatalkan Puasa Sunnah

Ketika diri kita menjalankan puasa sunnah pertama kalinya, lalu kemudian bertemu dengan orang lain, entah itu saudara, ataupun teman, dimana orang lain tersebut menawarkan makanan ataupun minuman pada diri kita. Orang lain tersebut tentu tidak mengetahui kalau kita sedang berpuasa.

Tetapi, sebagai muslim, pasti sadar ketika bertemu dengan saudaranya yang lain, ingin juga menjamu orang tersebut. Baik itu sebagai tamu, atau ketika berpapasan di suatu tempat.

Hal seperti ini, pastinya akan menjadi pertanyaan pada diri kita sendiri. Apakah akan melanjutkan puasa atau membatalkannya???, yakni dengan ikut berbuka dengan orang yang menjamu makanan pada kita.

Orang yang Puasa adalah Raja bagi Dirinya

Kejadian-kejadian seperti di atas tentu juga pernah terjadi pada zaman Nabi saw., di mana suatu hari ada sahabat yang mana ketika menjalankan puasa sunnah, kemudian duduk bersama dengan Nabi saw., lalu menolak makanan dan minuman yang sudah dihidangkan.

Seperti yang diceritakan dalam sebuah hadits, yang artinya: “Dari Abu Sa’id al-Khudzriyyi ra., berkata: “Saya membuat makanan untuk Rasulullah saw., beliau pun kemudian datang bersama dengan para sahabatnya. Ketika makanan dihidangkan, berkatalah salah seorang anggota dari sahabat tersebut.: “Saya sedang berpuasa”.
Mendengar ucapan sahabat tersebut kemudian Rasulullah saw., bersabda:

” دَعَاكُمْ أَخُوكُمْ وَتَكَلَّفَ لَكُمْ ” ثُمَّ قَالَ لَهُ: ” أَفْطِرْ وَصُمْ مَكَانَهُ يَوْمًا إِنْ شِئْتَ ” (رواه البيهقيّ بإسناد حسن)

Artinya:

“Saudaramu telah mengundangmu dan bersusah payah untuk menyiapkan jamuan untukmu”. Kemudian beliau melanjutkan perkataannya: “Berbukalah, berpuasalah suatu hari nanti, jika engkau menghendakinya.” (HR. al-Baihaqi, dengan sanad yang hasan)

Dalam riwayat yang lain juga dijelaskan, dari Ummu Hani ra., berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْفَتْحِ، فَأُتِيَ بِشَرَابٍ، فَشَرِبَ، ثُمَّ نَاوَلَنِي، فَقُلْتُ: إِنِّي صَائِمَةٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْمُتَطَوِّعَ أَمِيرٌ عَلَى نَفْسِهِ، فَإِنْ شِئْتِ فَصُومِي، وَإِنْ شِئْتِ فَأَفْطِرِي» (رواه احمد , دارقطني , والبيهقيّ )

Artinya:

“Sesungguhnya Rasulullah saw., masuk ke rumahku pada hari penaklukan (Yaumul Fath), maka saya sajikan beliau minuman, kemudian beliau meminumnya. Lalu beliau pun memberikanku minuman pula. Aku pun menjawab: “Saya sedang berpuasa”.

Kemudian Nabi saw., pun bersabda: “ Orang yang sedang menjalankan puasa sunnah (tathawwu’) itu adalah raja atas dirinya. Jika engkau menghendaki puasa, maka berpuasalah, dan jika engkau menghendaki untuk berbuka, maka berbukalah (HR. Ahmad, Daruquthni dan Baihaqi)

Beda Pendapat

Dari dua hadits di atas, tentunya masih ada hadits-hadits yang lain yang juga menjelaskan tentang boleh atau tidaknya meneruskan atau boleh membatalkan puasa sunnah yang sedang dijalaninya.

Tetapi, banyak ulama yang mempunyai pendapat dibolehkannya berbuka bagi orang-orang yang sedang menjalankan puasa sunnah tersebut. Serta berpendapat sunnah untuk mengganti (meng-qadha) di hari yang lain. Semua pendapat ini tentunya juga dilandaskan pada hadits-hadits yang sah dan tegas yang menjelaskan hal ini.

Walloohu a’lam bis showwaab

Sumber:

Software Digital Al-Maktabah al-Syaamilah v. 3.48
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah (terj.) jil.3, (Bandung: PT.al-Ma’arif, 1978), cet. 12