Belajar Mengenal Surat Al-Muawwidzatain Beserta Asbabun Nuzulnya

Apa yang Dimaksud dengan Surat al-Mu’awwidzatain?

Bagi yang belum faham tentang apa itu yang disebut dengan surat al-Mu’awwidzatain ini, tentu akan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terkandung dalam surat tersebut, dan kenapa sampai disebut dengan al-Mu’awwidzatain.

Surat al-Mu’awwidzatain ini arti singkatnya adalah dua surat yang melindungi. Ketika manusia sedang dalam kondisi sakit atau sedang dalam bahaya, tentu dirinya akan senantiasa berdoa kepada Alloh swt., supaya dirinya tetap dilindungi oleh-Nya. Karena bagi setiap muslim pasti tahu bahwa tidak ada sesuatu yang melindungi dirinya kecuali Alloh swt.

Adapun dua surat yang dimaksud dalam istilah al-Mu’awwidzatain ini adalah dua surat terakhir dalam al-Qur’an, yakni Surat al-Falaq dan Surat an-Naas berikut ini:

سورة الفلق
بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

Artinya:
“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh”. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”

سورة الناس
بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Artinya:
“ Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia”. Raja manusia.  Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia”

Dua surat ini memang mempunyai banyak kelebihan dan keutamaan. Karena isi dari kedua surat tersebut, mengandung permohonan kepada Allah swt., supaya dilindungi dan terhindar dari segala gangguan, godaan atau bujuk rayu setan, jin ataupun manusia.

Sebab Turun (asbaabunnuzul)-nya Surat al-Mu’awwidzatain.

Surat al-Mu’awwidzatain ini mempunyai sejarah tersendiri, hal ini karena sebab turun (asbabun nuzul)nya, yang juga berkaitan dengan sakit parah yang diderita oleh nabi Muhammad saw, yang mana sakitnya tersebut disebabkan oleh sihir, atau guna-guna. Dalam riwayat lain juga disebutkan karena memakan hidangan yang telah diracuni oleh orang yahudi.

Berikut ini adalah beberapa hadits yang menjelaskan mengenai tentang sebab turunnya dua surat tersebut.

Pertama, Riwayat dari Anas bin Malik rodhiyalloohuanhu:

عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ امْرَأَةً يَهُودِيَّةً أَتَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ، فَأَكَلَ مِنْهَا، فَجِيءَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَهَا عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالَتْ: أَرَدْتُ لِأَقْتُلَكَ، قَالَ: «مَا كَانَ اللهُ لِيُسَلِّطَكِ عَلَى ذَاكِ» قَالَ: – أَوْ قَالَ – «عَلَيَّ» قَالَ قَالُوا: أَلَا نَقْتُلُهَا؟ قَالَ: «لَاَ» قَالَ: «فَمَا زِلْتُ أَعْرِفُهَا فِي لَهَوَاتِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Artinya:
Dari Anas bin Malik rodhiyalloohu‘anhu, sesungguhnya ada seorang perempuan Yahudi mendatangi Nabi saw., dengan membawa daging kambing. Maka, beliau-pun memakan daging tersebut, Nabi saw., menyuruh kepada sahabatnya untuk mendatangi wanita tersebut dan menemuinya, setelah bertemu dengan wanita tersebut, Nabi saw., bersabda: untuk apa daging tersebut diberikan padanya??.

Wanita tersebut menjawab: “ saya ingin membunuhmu”, nabi pun menjawab: “ Alloh tidak memberikan kuasa padamu atas hal ini”, atau atas “diriku”. Para sahabatpun berkata : “Apakah engkau ingin kami membunuh wanita ini”. Nabi saw., menjawab: “Tidak perlu.”

Anas bin Malik  rodhiyalloohu‘anhu berkata: “Saya mengetahui bahwa racun tersebut ada dalam rongga mulut bagian atas Nabi saw.” (HR. Muslim)

Kedua, Riwayat dari ‘Aisyah rodhiyalloohuanhaa:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: سَحَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهُودِيٌّ مِنْ يَهُودِ بَنِي زُرَيْقٍ، يُقَالُ لَهُ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ: قَالَتْ حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ، وَمَا يَفْعَلُهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ، أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ، دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ دَعَا

Dari ‘Aisyah radhiyalloohu’anhaa, berkata : “Rosululloh saw., disihir oleh seorang Yahudi dari Bani Zuraiq, dikatakan bahwa namanya adalah Lubaid bin Zuraiq, sehingga beliau melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak ada gunanya, sehingga suatu hari atau pada suatu malam beliau berada di sisiku, dan senantiasa berdoa, berdoa, dan terus berdoa..

ثُمَّ قَالَ: ” يَا عَائِشَةُ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللهَ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ جَاءَنِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ، أَوِ الَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِي: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: مَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ

Kemudian beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah, apakah kau tahu bahwa sesungguhnya Allah telah memperkenankan do’aku tentang apa yang aku mohonkan pada-Nya? Ada dua orang laki-laki yang mendatangiku, salah satu diantaranya duduk di dekat kepalaku dan satunya lagi berada di dekat kakiku. Lalu berkatalah orang yang duduk di kepalaku pada orang yang duduk di dekat kakiku, atau sebaliknya: “sakit apa yang telah diderita oleh laki-laki ini?”

Berkatalah temannya: “ orang ini terkena sihir”, “Siapa yang telah menyihirnya” jawab orang yang satunya lagi. Berkatalah temannya tadi: “Lubaid bin  A’shom”

قَالَ: فِي أَيِّ شَيْءٍ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ، قَالَ: وَجُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ، قَالَ: فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ ” قَالَتْ: فَأَتَاهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ

“Dengan apa?” teman yang satunya lagi, temannya pun menjawab, “Dengan sisir dan rontokan rambut ketika disisir, dan mayang kurma jantan.”, “Dimana semuanya itu berada?” tanya teman satunya. Temannya  menjawab, “Di sumur Dzi Arwan”. ‘Aisyah pun berkata: “Maka Rasulululloh pun mendatangi sumur tersebut bersama dengan beberapa sahabatnya

ثُمَّ قَالَ: « يَا عَائِشَةُ وَاللهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ، وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ »

Kemudian beliau bersabda, “Wahai ‘Aisyah, Demi Allah airnya berwarna merah seperti perasan daun pacar, dan ujung dahan pohon kurma (yang ada di sekitarnya) mirip seperti kepala syaitan”.

قَالَتْ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا أَحْرَقْتَهُ؟ قَالَ: «لَا أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِي اللهُ، وَكَرِهْتُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا، فَأَمَرْتُ بِهَا فَدُفِنَتْ»

‘Aisyah pun berkata, “Wahai Rosululloh saw., apakah engkau minta untuk dikeluarkan ?” Beliau pun menjawab, “Sungguh Allah telah memberikan kesembuhan padaku, dan diriku tidak  (mau) ingin memberikan pengaruh yang buruk pada manusia dalam hal seperti ini”. Maka beliau pun memerintahkanku untuk menguburkannya, maka segera (aku) menguburkannya (HR. Muslim).

Belajar dari asbaabunnuzul surat al-Mu’awwidzatain di atas, tentunya bermanfaat bagi kita semua, karena isinya mengandung permohonan dan perlindungan diri kepada Alloh swt., dari segala gangguan makhluk, baik golongan jin ataupun manusia. Sebenarnya masih banyak lagi riwayat-riwayat yang menjelaskan turunnya dua surat ini, karena dua surat ini memang punya peran penting bagi kehidupan seluruh umat manusia.

Walloohu a’lam bis showwaab